Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tercatat Sebagai Penyokong Utama
Kilang Balongan Suplai BBM Ke Jakarta, Banten & Jabar
Selasa, 3 Februari 2026 05:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ekosistem infrastruktur energi PT Pertamina (Persero) terintegrasi di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mulai dari pengelolaan sampai distribusi. Salah satu peran strategisnya, menjadi pemasok utama energi untuk wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat (Jabar).
Hujan rintik masih turun ketika sebuah kapal milik Pertamina International Shipping (PIS) perlahan merapat ke dermaga apung kompleks Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). Di balik cuaca yang tak sepenuhnya bersahabat, aktivitas distribusi energi tetap berjalan.
Kapal PIS bermuatan 2.000 kiloliter avtur bersandar untuk melakukan proses pengisian. Setelah proses sekitar 10 jam, avtur hasil pengolahan kilang Balongan dikirim ke Pontianak, Kalimantan Timur, sesuai kebutuhan.
Pemandangan itu menjadi potret awal dari ekosistem infrastruktur energi terintegrasi PT Pertamina (Persero) di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Selain BBM dan avtur, Kilang Balongan mendukung industri petrokimia melalui produksi propilena.
Ekosistem infrastruktur energi PT Pertamina (Persero) terintegrasi di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Mulai dari pengelolaan sampai distribusi. Salah satu peran strategisnya, menjadi pemasok utama energi untuk wilayah Jakarta, Banten dan Jawa Barat (Jabar).
Di kawasan ini, Integrated Terminal Balongan, Refinery Unit (RU) VI Balongan, hingga armada laut PIS saling terhubung dalam satu rantai pasok yang menopang kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM), termasuk untuk Jakarta dan sekitarnya.
Dermaga apung ini berada di area RU VI Balongan yang dikelola oleh PT Pertamina Kilang Internasional (KPI). Secara geografis, Kilang Balongan menempati posisi strategis. Terletak di utara Pulau Jawa, kilang ini berdekatan dengan kawasan industri dan pusat ekonomi nasional, mulai dari Jakarta hingga wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Baca juga : Kilang Balongan Jadi Andalan 82 Persen Pasokan BBM Jakarta Hingga Jabar
Kedekatan inilah yang menjadikan Balongan sebagai salah satu tulang punggung pasokan energi di wilayah barat Jawa. RU VI Balongan mulai beroperasi pada 1994 dan menjadi satu dari enam kilang minyak milik Pertamina.
Seiring waktu, kapasitas pengolahannya terus meningkat. Hingga 2022, kapasitas kilang ini naik dari 125.000 barel per hari (bph) menjadi 150.000 bph, atau sekitar 14,2 persen dari total kapasitas kilang Pertamina.
Dari kilang inilah berbagai produk BBM dihasilkan, mulai dari Pertalite, Pertamax, hingga Pertamax Turbo. Ketiganya menyumbang sekitar 53 persen dari total produksi RU VI Balongan.
Dan sebagian besar disalurkan untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah barat Pulau Jawa. “Kami menyuplai sekitar 82 persen dari total produksi ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Distribusinya melalui Depot Cikampek, Bandung, dan Depot Plumpang,” ujar Engineer I Offsite PT KPI RU VI Balongan, Nanda Tri Wibowo.
Untuk menjaga kesinambungan produksi, Kilang Balongan menerima pasokan minyak mentah dari berbagai lapangan, mulai dari Jatibarang di Indramayu, Banyu Urip di Jawa Timur, hingga Forel di Kepulauan Natuna.
Minyak mentah tersebut dialirkan melalui Single Point Mooring (SPM) yang terletak sekitar 17 kilometer ke arah laut dari dermaga apung. RU VI Balongan memiliki tiga SPM dengan kapasitas kapal yang beragam, mulai dari 17.500 Dead Weight Tonnage (DWT) hingga 165.000 DWT. Dari titik inilah minyak mentah kemudian mengalir melalui jaringan pipa menuju area pengolahan utama.
Kawasan kilang sendiri membentang hampir 451,7 hektare. Di dalamnya, pipa-pipa besar, tangki penyimpanan, dan unit pengolahan berdiri berjajar membentuk blok-blok operasional. Luasnya area membuat sepeda menjadi salah satu moda transportasi yang digunakan pekerja, untuk berpindah dari satu unit ke unit lain.
Minyak mentah yang masuk pertama kali diproses di Crude Distillation Unit (CDU). Selanjutnya, pengolahan berlanjut ke Atmospheric Residue Hydrodemetallization Unit (AHU) untuk memisahkan kandungan logam, hingga ke Naphtha Processing Unit (NPU) untuk pengolahan nafta.
Sementara di area Oil Movement (OM), minyak mentah dan produk jadi disimpan dan dicampur di dalam tangki-tangki besar, yang masing-masing dilengkapi penangkal petir sebagai standar keselamatan.
Sekitar 10 menit perjalanan kendaraan dari dermaga, masih dalam satu kompleks kilang, berdiri laboratorium RU VI Balongan. Di sinilah seluruh produk diuji sebelum dilepas ke pasar.
Lokasinya berhadapan langsung dengan control room, pusat pemantauan seluruh operasi kilang, serta berseberangan dengan area pengolahan propilena. Saat memasuki laboratorium, aroma bensin belum begitu terasa. Sebab, kala itu tengah pergantian shift sore, sehingga tidak ada aktivitas di laboratorium.
Namun tak lama kemudian, satu per satu petugas mulai masuk, dan aroma khas bahan bakar pun perlahan tercium. Seluruh peralatan laboratorium dijaga dalam kondisi terkalibrasi untuk memastikan hasil pengujian yang akurat.
Metode uji yang digunakan mengacu pada standar internasional, seperti ASTM International dan Honeywell UOP, serta ketentuan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Tester I Cooperative Fuel Research (CFR) & Aviation RU VI Balongan, Zaeturohmah Febriyanti menjelaskan, setiap produk BBM harus melewati lebih dari 20 parameter uji mutu. Pemeriksaan tidak hanya mencakup angka oktan atau Research Octane Number (RON), tetapi juga distilasi, viskositas, stabilitas oksidasi, hingga parameter teknis lainnya.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Tetap Andal di Tengah Bencana
“Semua parameter wajib memenuhi spesifikasi. Jika sudah dinyatakan on-spec, barulah produk bisa disalurkan ke konsumen,” ujarnya.
Di salah satu sudut laboratorium, empat mesin Compression Fuel Research (CFR) beroperasi. Seorang petugas terlihat fokus menatap layar saat mesin tersebut menguji angka oktan BBM, salah satu indikator utama kualitas bahan bakar.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menegaskan, seluruh fasilitas hilir di Balongan dirancang saling terintegrasi untuk menjaga keandalan rantai pasok energi nasional. Selain BBM dan avtur, Kilang Balongan mendukung industri petrokimia melalui produksi propilena.
“Ekosistem infrastruktur energi Pertamina di Balongan memiliki peran strategis dalam menjaga pasokan energi, khususnya untuk Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian Jawa Tengah,” kata Baron.
Ke depan, Pertamina berkomitmen terus memperkuat infrastruktur dan operasional di Balongan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya