Dark/Light Mode

Danantara Resmikan Dua Proyek Energi Hijau Pertamina Di Cilacap Dan Banyuwangi

Sabtu, 7 Februari 2026 19:53 WIB
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri (kanan) pada Acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1 di Wisma Danantara, Jakarta Selatan (6/2/2026). (Foto: Pertamina)
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri (kanan) pada Acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1 di Wisma Danantara, Jakarta Selatan (6/2/2026). (Foto: Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pembiayaan Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) meresmikan peletakan batu pertama dua proyek energi ramah lingkungan PT Pertamina (Persero), yakni proyek Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah dan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur.

Peresmian kedua proyek tersebut dilakukan secara serentak dalam acara Peresmian Proyek Hilirisasi Fase I di Kantor Danantara, Jakarta, Jumat (6/2/2026), serta terhubung secara daring ke lokasi proyek di Cilacap dan Banyuwangi.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia sekaligus fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, hilirisasi diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing global,” ujar Rosan.

Baca juga : Danantara Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase I, PTPN Bangun Pabrik Bioethanol

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan kedua proyek tersebut merupakan langkah konkret Pertamina dalam mendukung program pemerintah untuk mencapai swasembada energi berbasis energi ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri.

“Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore diharapkan dapat mendukung transisi energi ramah lingkungan, menurunkan impor avtur dan BBM, serta mendukung peta jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia,” katanya.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini yang hadir di Kilang Pertamina Cilacap menegaskan proyek Biorefinery Cilacap sejalan dengan strategi dual growth Pertamina dalam mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis eksisting.

Ia menyebut pengembangan SAF membutuhkan sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir guna menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berdaya saing global. “Ini merupakan proyek percontohan dengan banyak multiplier effect, mulai dari pengurangan impor, penurunan defisit transaksi berjalan, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi karbon,” ujar Emma.

Baca juga : Dubes Listyowati Resmikan Gerai Ritel Alfamart Pertama Di Dhaka

Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore merupakan kolaborasi antara Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PT Perkebunan Nusantara.

“Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata upaya menghasilkan energi bersih sekaligus mendorong perekonomian rakyat dan memperkuat swasembada energi,” kata Agung yang menghadiri peresmian proyek di Banyuwangi.

Proyek Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah untuk diolah menjadi energi hijau. Saat ini, Kilang Cilacap telah menghasilkan 27 kiloliter SAF per hari dan ditargetkan meningkat menjadi 887 kiloliter pada 2029.

Pembangunan proyek tersebut diperkirakan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto sebesar Rp199 triliun per tahun, menyerap hingga 5.900 tenaga kerja pada masa konstruksi, serta menurunkan emisi sekitar 600 ribu ton setara CO2.

Baca juga : RI-Venezuela Perkuat Kerja Sama Energi, Pertamina Jajaki Proyek Baru

Adapun Pabrik Bioethanol Glenmore ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 30 ribu kiloliter per tahun berbasis tebu, dengan potensi penyerapan lebih dari 4.000 tenaga kerja lokal dan petani tebu serta pengurangan emisi sekitar 66 ribu ton setara CO2 per tahun.

Pertamina menegaskan komitmennya untuk mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis perusahaan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.