Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Akademisi: Sawit Berperan Penting Dalam Pemulihan Ekonomi Pascabencana
Selasa, 10 Februari 2026 13:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Diana Chalil menilai budidaya kelapa sawit pada lahan yang sesuai berperan penting dalam mendukung pemulihan ekonomi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Diana, dibandingkan komoditas pertanian lainnya, perkebunan kelapa sawit memiliki multiplier effect yang lebih besar secara sosial dan ekonomi, serta berpotensi dikelola secara berkelanjutan dari sisi lingkungan.
“Manfaat lingkungan tidak selalu menjadi trade-off dengan manfaat ekonomi. Dari pengalaman pascatsunami Aceh 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan dan banyak dikembangkan melalui konversi dari komoditas lain,” kata Diana dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU, Medan, Selasa (10/2/2026).
Diana yang juga peneliti pada Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) mengatakan, baik secara nasional maupun regional, industri sawit memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian, termasuk di wilayah yang terdampak bencana alam pada akhir tahun lalu.
Baca juga : BI DKI: Strong Leadership Ala Pramono Dukung Pertumbuhan Ekonomi Jakarta
Ia menyebutkan sektor pertanian menyumbang 73,83 persen dari total pendapatan devisa nasional, dengan subsektor kelapa sawit sebagai kontributor devisa terbesar melalui ekspor minyak sawit.
“Secara regional, sawit menjadi komoditas penyumbang devisa ekspor terbesar dari Aceh, sementara di Sumatera Utara berada di peringkat ketiga,” ujarnya.
Dari sisi ketenagakerjaan, Diana menyampaikan bahwa industri sawit secara nasional menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja pada 2024, baik langsung maupun tidak langsung, belum termasuk tenaga kerja pada sektor hulu, hilir, dan jasa terkait.
Berdasarkan hasil penelitian CSPO, Diana menjelaskan budidaya kelapa sawit juga berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat. Di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, misalnya, pendapatan rata-rata masyarakat meningkat dari Rp 31,8 juta per tahun menjadi Rp 42,1 juta setelah mengembangkan kelapa sawit.
Baca juga : Dukung Strategi Presiden Prabowo, AHY Beberkan 5 Pilar Ekonomi Baru
“Sawit berperan penting bagi perekonomian Indonesia dan berpotensi mendukung pemulihan ekonomi di Sumatera Utara dan Aceh. Namun pengelolaannya harus dilakukan dengan baik agar manfaatnya berkelanjutan,” kata Diana.
Ia menegaskan bahwa perkebunan sawit bukan penyebab bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun ke depan, tata kelola sawit harus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan memperhatikan kesesuaian lahan, keseimbangan lanskap, serta aspek produksi dan pemasaran.
Sementara itu, Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto mengatakan perekonomian wilayah terdampak bencana seperti Aceh dan Sumatera Utara masih sangat bergantung pada industri sawit.
“Karena itu sektor ini tidak mungkin ditinggalkan, tetapi tata kelola pertanian dan perkebunan harus memperhatikan kesesuaian lahan dan aspek ekofisiologis,” kata Kacuk.
Baca juga : Safrizal Apreasiasi Peran Kampus Percepat Pemulihan Pasca Banjir Sumatera
Ia menambahkan, perkebunan sawit di Sumatera Utara telah berkembang lebih dari satu abad dan secara historis kondisi lingkungan di sekitarnya tetap terjaga. Namun perubahan iklim global menjadi tantangan baru yang perlu diantisipasi oleh pelaku sektor perkebunan.
“Tantangannya adalah bagaimana manfaat ekonomi tetap diperoleh, sementara risiko ekologis dapat diminimalkan,” ujar Kacuk.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya