Dark/Light Mode

Ma’ruf Amin: Ekonomi Syariah Pilar Baru Pembangunan Nasional

Selasa, 24 Februari 2026 17:25 WIB
Foto: INDEF
Foto: INDEF

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden RI ke-13 Ma’ruf Amin menilai ekonomi syariah menjadi solusi atas ketimpangan global dan krisis kualitas pertumbuhan, dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah yang digelar di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Dalam keynote speech, Ma'ruf Amin, yang juga menjabat sebagai Ketua Penasihat CSED INDEF, menegaskan bahwa ekonomi syariah merupakan kebutuhan mendesak di tengah tantangan global yang ditandai ketimpangan dan krisis kualitas pertumbuhan.

“Dunia hari ini sudah seharusnya memiliki ekonomi yang berkualitas agar tidak terjadi ketimpangan. Ekonomi syariah hadir bukan hanya menciptakan pertumbuhan atau profit, tetapi juga menghadirkan keberkahan,” ujarnya.

Menurutnya, tujuan syariah (maqashid syariah) mencakup menjaga agama, keturunan, dan harta. Prinsip tersebut menjadi fondasi kebijakan publik yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan.

“Ekonomi syariah itu menjaga agama, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Karena itu ia tidak hanya bicara pertumbuhan, tetapi juga distribusi dan keberkahan,” katanya.

Baca juga : Nurdin Halid: Impor 105 Ribu Kendaraan Niaga Harus Perkuat Industri Nasional

Ia mengibaratkan ekonomi syariah seperti pesantren yang memiliki tiga elemen utama: santri, kitab, dan kiai. Kekuatan pesantren, kata dia, bukan terletak pada fasilitas, melainkan pada ruh dan nilai yang dipegang teguh.

“Ekonomi syariah itu seperti pesantren. Ada sumber daya manusianya seperti santri, ada ilmunya seperti kitab, dan ada penjaga arahnya seperti kiai. Bukan fasilitasnya yang menentukan, tetapi rohnya. Tanpa ruh, yang lahir hanya formalitas,” jelasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada simbol atau label semata.

“Jangan sampai yang hadir hanya ekonomi yang berseragam syariah, tetapi kehilangan ruhnya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ma’ruf menekankan pentingnya integrasi dalam ekosistem ekonomi syariah. Industri halal, zakat, wakaf, dan keuangan syariah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus terhubung dalam satu sistem yang saling menguatkan.

Baca juga : Kemenko Perekonomian Soal Tarif Trump: Indonesia Utamakan Kepentingan Nasional

“Industri halal tidak boleh berjalan sendiri. Zakat dan wakaf juga tidak boleh berjalan sendiri. Semua harus menjadi satu kesatuan dalam sistem ekonomi syariah,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, peran ekonom syariah dinilai krusial sebagai penjaga arah kebijakan, produsen gagasan publik, sekaligus penggerak transformasi ekonomi nasional berbasis nilai keadilan.

“Ekonom syariah harus menjadi penunjuk arah dan penggerak. Konsep tanpa aksi itu omong kosong,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki prasyarat kuat untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Dengan populasi Muslim terbesar, potensi filantropi Islam melalui zakat, infak, dan sedekah, serta pertumbuhan industri halal yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kokoh.

“Indonesia punya semua syarat untuk menjadi ekonomi syariah yang kuat. Kita punya penduduk Muslim terbesar, kekuatan filantropi Islam, dan industri halal yang terus berkembang,” katanya.

Baca juga : Kemala Run 2026, Olahraga untuk Solidaritas dan Aksi Kemanusiaan Nasional

Meski demikian, ia mengakui kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional masih perlu ditingkatkan.

“Ekonomi syariah sudah hadir dalam regulasi, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kesadaran. Ini yang harus kita dorong bersama,” paparnya.

Ia menekankan dua agenda besar yang harus dijalankan secara konsisten, yakni memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan praktik ekonomi masyarakat agar selaras dengan nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan.

“Kalau kita konsisten dalam memasyarakatkan ekonomi syariah, insyaallah pertumbuhan ekonomi syariah akan tumbuh lebih maksimal dan menjadi pilar utama ekonomi negeri ini,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.