Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indeks Ambruk, Rupiah Tergencet
Daya Tahan Ekonomi Semoga Tetap Kuat
Kamis, 5 Maret 2026 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Belum genap sepekan, perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memberikan dampak pada ekonomi Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ambruk, sementara rupiah ikut tertekan.
Pada perdagangan Rabu (4/3/2026), IHSG ditutup melemah 362,70 poin atau turun 4,57 persen ke level 7.557,06. Indeks LQ45 juga turun 4,19 persen.
Sejak pembukaan, IHSG sudah tertekan 43,38 poin atau 0,55 persen ke posisi 7.896. Pada penutupan sesi I siang, IHSG turun 343,20 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,57.
Senasib dengan IHSG, rupiah juga tersungkur. Mata uang Garuda ditutup melemah 20 poin ke level Rp 16.892 per dolar AS pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Sejak pembukaan, rupiah sudah melemah 0,32 persen ke level Rp16.926 per dolar AS.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy memastikan, pelemahan IHSG merupakan dampak eskalasi perang antara AS-Israel dan Iran. Pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan rantai pasok global, terutama di sektor energi, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Pelemahan juga terjadi di sejumlah bursa saham Asia.
Baca juga : OSO: PT Bentuk Pengkhianatan Terhadap Kedaulatan Rakyat
“Pergerakan IHSG sejalan dengan indeks regional lain yang turun tajam, seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAIEX, dan ASX. Bursa Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen,” ujarnya di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, secara teknikal IHSG berada dalam fase minor bearish. Hal itu ditandai dengan MA20 dan MA60 yang membentuk pola bearish crossover. Indikator Stochastic K-D dan RSI juga menunjukkan sinyal negatif, disertai penurunan volume transaksi.
Menurut Nafan, perang Iran dengan Israel-AS berdampak pada kenaikan harga energi dan memicu inflasi global. Sentimen risk-off atau peralihan ke aset yang lebih aman diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar.
Ia berharap konflik tidak berlangsung lama karena berpotensi menekan fundamental ekonomi Indonesia. “Jika berkepanjangan, perang dapat meningkatkan ongkos logistik dan menekan peluang ekspor,” ujarnya.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memprediksi, ketegangan di Timur Tengah akan membuat rupiah semakin tertekan. Bahkan, nilai tukar berpotensi menembus Rp 17.000 per dolar AS pada bulan ini dan mencapai Rp 17.400 per dolar AS hingga akhir tahun.
Baca juga : Telepon Menlu Iran, Sugiono Tawarkan RI Siap Mediasi Perang
Menurut Ibrahim, perang AS-Israel terhadap Iran memperburuk kondisi infrastruktur energi di kawasan Teluk. Ratusan kapal tanker dilaporkan tidak dapat keluar dari Selat Hormuz.
Sementara itu, Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menilai, risiko terburuk dari pelemahan IHSG dan rupiah adalah meningkatnya persepsi negatif terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi. Namun, ia menegaskan penyebab utama gejolak saat ini adalah ketegangan di Timur Tengah.
Herry memprediksi konflik berpotensi berlangsung lama karena Iran bukan negara yang mudah ditaklukkan. “Dampaknya terasa di seluruh kawasan Asia. Bursa Korea Selatan juga anjlok. Jadi bukan hanya Indonesia yang terdampak,” ujarnya.
Menurut Herry, investor khawatir penutupan Selat Hormuz akan mengganggu distribusi minyak, gas, dan komoditas pangan. Dampaknya bisa berupa kenaikan harga yang memicu inflasi, sehingga investor memilih memindahkan dana ke instrumen yang lebih aman.
“Mereka akan mencari instrumen dengan risiko sangat rendah, seperti emas atau surat berharga negara,” katanya.
Baca juga : THR ASN Cair, Anggarannya 55 T
Terkait daya tahan ekonomi nasional, Herry menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih relatif aman. Pemerintah telah melakukan front loading dengan menerbitkan surat utang pada Februari sebagai langkah antisipasi.
“Ini bisa menjadi blessing. Jika diterbitkan sekarang, biayanya mungkin lebih mahal karena risiko meningkat,” ujarnya.
Selain APBN, ketahanan ekonomi Indonesia juga ditopang fundamental yang kuat. Sekitar 80 persen perekonomian nasional ditopang oleh belanja domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi. Meski demikian, Herry meminta pemerintah tetap menjaga iklim usaha agar kondusif.
Dari sisi belanja negara, pemerintah juga diminta menetapkan skala prioritas. Di tengah ketidakpastian global, anggaran perlu difokuskan untuk menjaga konsumsi dan menyiapkan stimulus ekonomi.
Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, ketahanan fiskal Indonesia masih cukup baik di tengah guncangan global akibat perang yang berkecamuk di Timur Tengah. Purbaya mengatakan, dari hasil simulasi yang telah Kementerian Keuangan buat, potensi krisis berkepanjangan yang disebabkan konflik di kawasan Timur Tengah itu tak akan membuat kondisi APBN mengalami tekanan defisit. Terutama untuk menanggung beban subsidi BBM efek harga minyak naik. [MEN/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya