Dark/Light Mode

Dipastikan Purbaya, Ekonomi RI Nggak Bakal Resesi

Kamis, 12 Maret 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026). (Foto: Dok. YouTube/Kementerian Keuangan RI)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026). (Foto: Dok. YouTube/Kementerian Keuangan RI)

 Sebelumnya 
Dari hasil sidak tersebut, ia menilai aktivitas ekonomi masih berjalan normal. “Jadi ekonomi kita tidak resesi, apalagi krisis. Setidaknya dari data yang saya punya, kondisi kita cukup baik, dan untuk menciptakan hal tersebut kontribusi Kementerian Keuangan sangat besar,” tegasnya. 

Dari sisi fiskal, kata dia, realisasi pe­nerimaan negara hingga akhir Februari 2026 mencapai Rp 358 triliun. Angka ini tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 317,4 triliun. Kontributor utama pertumbuhan tersebut berasal dari penerimaan pajak yang mencapai Rp 245,1 triliun, atau meningkat 30,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Rupiah Dan Harga Minyak 

Terkait melemahnya nilai tukar rupiah dan naiknya harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, Purbaya menilai kondisinya masih aman. Depresiasi rupiah disebut masih moderat, yakni sekitar 0,3 persen, bahkan lebih kecil dibandingkan pelemahan mata uang sejumlah negara di kawasan. 

Baca juga : DPR Tetapkan Friderica Ketua OJK Yang Baru

Menurut dia, ruang fiskal dalam Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga masih cukup aman meskipun harga minyak sempat menyentuh 100 dolar AS per barel. Karena itu, kenaikan harga minyak belum akan berdampak signifikan terhadap subsidi BBM maupun belanja negara lainnya. 

Pemerintah pun dinilai belum perlu melakukan perubahan terhadap APBN 2026. “Kalau kita lihat, rata-rata harga minyak mentah masih sekitar 68 dolar AS per barel,” ujarnya. 

Karena itu, Purbaya meminta masyarakat tidak khawatir terhadap prospek ekonomi ke depan. Pihaknya akan terus mengaktifkan berbagai mesin pertumbuhan ekonomi. 

Baca juga : Minta Fee Buat Lebaran, Bupati Rejang Lebong TSK Suap Ijon Proyek

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai, tidak bijak jika pelemahan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung dijadikan indikator pelemahan ekonomi. Menurut dia, pergerakan tersebut tidak serta-merta mencerminkan perubahan drastis pada fundamental ekonomi Indonesia. 

Pasalnya, kata dia, sejumlah indikator dasar ekonomi masih menunjukkan tren positif. Seperti pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang relatif terkendali, serta stabilitas sektor keuangan yang masih baik. 

Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Dhakiri mengingatkan, pemerintah perlu adaptif dalam mengelola risiko fiskal jika kenaikan harga minyak bertahan dalam waktu lama. Penyesuaian dapat dilakukan melalui realokasi belanja, pengendalian subsidi yang lebih tepat sasaran, serta optimalisasi penerimaan negara dari sektor komoditas yang sedang menguat. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.