Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
APINDO Beberkan Bottleneck Hilirisasi Di Tengah Tekanan Geopolitik Global
Jumat, 10 April 2026 08:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian PPN/Bappenas melalui Direktorat Perencanaan Hilirisasi dan Kerja sama Ekonomi Internasional menggelar diskusi bertajuk “Pengaruh Geopolitik dan Geoekonomi terhadap Hilirisasi Nasional” di ITB Innovation Park Function Hall, Kota Bandung, Rabu (8/4/2026).
Forum ini dibuka oleh P.N. Laksmi Kusumawati, Direktur Perencanaan Hilirisasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional, dan membahas tantangan, peluang, serta arah kebijakan hilirisasi nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
Diskusi tersebut bertujuan mengidentifikasi bottleneck utama dalam implementasi kebijakan hilirisasi dari perspektif pelaku usaha, mengevaluasi kesesuaian desain kebijakan dengan dinamika global dan kebutuhan industri, mengkaji arah penguatan kebijakan industrialisasi Indonesia yang lebih selektif dan berbasis daya saing, serta merumuskan masukan kebijakan yang lebih implementatif.
Kerangka acuan kerja forum ini juga menekankan pentingnya mempertemukan perspektif swasta dan akademisi dalam penyempurnaan kebijakan hilirisasi nasional.
Hadir sebagai narasumber dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Rinawati Prihatiningsih, Ketua Komite Multilateral Bidang Hubungan Internasional APINDO.
Baca juga : Jaga Stabilitas Pangan Di Tengah Gejolak Global
Dalam pemaparannya, Rinawati menekankan bahwa perkembangan geopolitik dan geoekonomi global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pergeseran signifikan dari pendekatan kerja sama internasional berbasis aturan menuju pendekatan yang lebih strategis dan berbasis kekuatan.
Pergeseran tersebut antara lain ditandai dengan meningkatnya proteksionisme, fragmentasi rantai pasok global, serta munculnya berbagai kebijakan unilateral dari negara-negara besar.
“Kondisi ini secara langsung memengaruhi stabilitas perdagangan global, arus investasi, serta posisi negara-negara berkembang dalam sistem ekonomi internasional,” ujar Rinawati.
Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan struktur industri nasional di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Dalam konteks itulah, agenda hilirisasi menjadi salah satu strategi penting transformasi ekonomi nasional. “Hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat basis industri domestik, serta mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah,” katanya.
Baca juga : Prabowo Turunkan Biaya Haji Rp 2 Juta di Tengah Kenaikan Harga Avtur Global
Namun, ia menilai implementasi hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi domestik maupun eksternal.
Dari sisi domestik, masih terdapat kesenjangan antara desain kebijakan dan kondisi riil pelaku usaha, terutama terkait regulasi, insentif, kesiapan infrastruktur, akses pembiayaan, dan akses pasar.
Sementara dari sisi eksternal, perubahan lanskap global turut memengaruhi daya saing industri nasional, arus investasi, dan posisi Indonesia dalam global value chains.
Rinawati menegaskan bahwa perspektif pelaku usaha menjadi penting untuk mengidentifikasi hambatan nyata di lapangan sekaligus merumuskan kebutuhan kebijakan yang lebih implementatif.
Di sisi lain, perspektif akademis juga dibutuhkan untuk memperkuat landasan analitis dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan hilirisasi. “Hilirisasi perlu ditempatkan sebagai strategi industrialisasi yang kompetitif, implementatif, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Baca juga : Menperin Pastikan Stok Plastik Aman Di Tengah Gejolak Global
Dia menambahkan, hal tersebut memerlukan dukungan ekosistem yang komprehensif, mencakup regulasi yang kondusif, efisiensi energi dan logistik, infrastruktur yang terintegrasi, akses pembiayaan, serta kesiapan sumber daya manusia, teknologi, dan pasar.
Dalam forum tersebut, APINDO juga menyoroti sejumlah bottleneck utama dalam implementasi hilirisasi, mulai dari disharmoni regulasi, tingginya biaya logistik dan energi, hingga kesiapan sektor dan wilayah yang masih belum merata.
“Di tengah meningkatnya tekanan global, pelaku usaha perlu semakin adaptif melalui diversifikasi pasar, efisiensi operasional, dan penguatan kemitraan strategis,” ujarnya.
APINDO juga menekankan pentingnya intervensi kebijakan jangka pendek, khususnya dalam harmonisasi regulasi, penurunan biaya berusaha, percepatan proyek industri, serta pendekatan sektoral yang lebih selektif dan terarah.
“Melalui kolaborasi multi-helix, kami berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong hilirisasi yang memperkuat daya saing industri nasional dan posisi Indonesia dalam rantai nilai global,” pungkas Rinawati.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya