Dark/Light Mode

Bahlil: Kesepakatan Impor Minyak Rusia Hampir Final

Kamis, 16 April 2026 21:09 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Bakom RI)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: Bakom RI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah tengah merampungkan kerja sama pasokan minyak mentah (crude) dengan Rusia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, kesepakatan tersebut sudah mendekati tahap final.

“Alhamdulillah hari ini saya melaporkan terkait arahan dan perintah Bapak Presiden untuk menindaklanjuti kesepakatan Presiden Prabowo dengan Presiden Putin. Hasil-hasil kesepakatan itu adalah menyangkut dengan kerja sama jangka panjang, khususnya di bidang energi,” kata Bahlil, usai bertemu Presiden Prabowo Subianto, di Istana Negara, Kamis (16/4/2026).

Bahlil menjelaskan, kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi dalam negeri (lifting) baru berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

Baca juga : Biodiesel Tekan Impor BBM, Hemat Devisa Hingga Rp130 Triliun

“Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara tapi di hampir semua negara,” ujarnya.

Menurut Bahlil, langkah ini dilakukan untuk mendapatkan harga terbaik sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional. “Alhamdulillah saya sudah bertemu dengan Menteri ESDM Rusia dan utusan khusus Presiden Putin. Kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan, kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia,” ungkap Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Selain pasokan minyak mentah, Rusia juga akan membangun sejumlah infrastruktur strategis guna meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional. “Kebutuhan crude kita sekitar 300 juta barel per tahun. Jadi kita ambil dari mana saja yang menguntungkan bagi negara,” bebernya.

Baca juga : SIM Keliling Kabupaten Bogor Senin 13 April, Hadir di Pospol Gadog

Terkait harga, Bahlil menegaskan, Pemerintah akan menjaga agar harga pembelian minyak tidak melebihi harga pasar global, bahkan diupayakan bisa lebih rendah. “Harga minimal sama dengan pasar, kalau bisa di bawah itu lebih baik,” tegasnya.

Selain minyak mentah, Pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk menekan ketergantungan impor yang saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. Namun, negosiasi LPG masih membutuhkan pembahasan lanjutan.

“Insya Allah kita juga akan mendapat support (LPG), tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap, tapi kalau crude-nya saya pikir sudah, sudah hampir final,” pungkas Bahlil.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.