Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dorong Keberlanjutan dan Inovasi, ABMM Perkuat Operasional Tambang di 2026
Kamis, 30 April 2026 09:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT ABM Investama Tbk (ABMM) terus memperkuat kinerja operasional tambang batubara di Provinsi Aceh dan Kalimantan Tengah untuk mendukung kinerja perusahaan di tahun 2026 ini.
Direktur Utama ABMM Achmad Ananda Djajanegara mengatakan, perseroan berkomitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan dan inovasi dengan memperkuat posisinya sebagai perusahaan energi terintegrasi.
Yakni, melalui ekspansi strategis di sektor pertambangan, penerapan strategi operasional yang tangguh, hingga penguatan sinergi dalam ekosistem anak usaha dan diversifikasi bisnis ke depannya.
“Kami masih fokus pada pengembangan operasional tambang batu bara di Provinsi Aceh dan Kalimantan Tengah untuk mendukung kinerja perusahaan tahun ini,” ujar Andi, sapaan akrab Achmad Ananda Djajanegara, usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Public Expose (Pubex) di Jakarta, Rabu malam (29/4/2026).
Andi berharap, tambang yang belum lama diakuisisi ini dapat mencapai produksi bulanan yang stabil. Adapun, pihaknya telah mengakuisisi perusahaan tambang PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) yang berlokasi di Aceh Barat pada 2024 dan PT Piranti Jaya Utama (PJU) berlokasi di Kapuas, Kalimantan Tengah pada 2025, dengan luas konsesi 4.800 hektar (ha).
Lalu, PT Reswara Minergi Hartama (Reswara), yang merupakan sub-holding pertambangan batubara terintegrasi anak usaha PT ABM Investama Tbk (bagian dari Grup Tiara Marga Trakindo), melalui anak usahanya yaitu PT Nagata Dinamika Hidro Pongko (NDHP), mengakuisisi PT Nirmala Coal Nusantara pada 2024.
Andi menambahkan, langkah strategis ini bertujuan menambah kapasitas produksi batubara dan memperkuat portofolio tambang di Sumatera dan Kalimantan.
“Kami akan mengejar produksi tambang MCN agar mencapai peak production-nya,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Group Head of Corporate Finance Treasury and Investor Relation ABMM Mohamad Ditto Ananta Nugraha mengatakan, tambang yang berlokasi di Meulaboh, Aceh Barat, ini memiliki potensi cadangan batubara sebesar 31 juta ton dengan kalori 3.000-3.100 kcal/kg (kilokalori per kilogram).
Baca juga : PDC Kelola 7.000 Tenaga Kerja Alih Daya untuk Perkuat Operasional Migas
Ia optimistis, bisnis baru tersebut siap memberikan kontribusi signifikan terhadap portofolio produksi ABMM di masa depan.
“NCN sudah melaksanakan first sales pada Februari 2026. Dengan total luas area 3.198 hektare (ha) dan potensi sumber daya mencapai 87,34 juta ton (kalori 3.000-3.100 kcal/kg), kami yakin NCN siap menjadi salah satu motor penggerak stabilitas pasokan energi,” ujar Ditto.
Selama ini, sebagian besar produksi batubara ABMM memang ditujukan untuk pasar ekspor, terutama India yang sangat menyukai batubara kalori rendah.
Menurutnya ekspor dilakukan setelah perusahaan memenuhi kewajiban pasar domestik (Domestic Market Obligation/DMO), sebesar 25-30 persen dari hasil produksi.
Sementara itu, PT Piranti Jaya Utama juga diharapkan dapat meningkatkan kinerja ABMM, dengan menambah cadangan batubara berkualitas tinggi dengan kalori 4.800-5.100 kcal/kg.
Saat ini, status PJU masih dalam tahap perijinan dan tengah menyelesaikan beberapa hal lainnya.Selain itu, pengoperasian ini juga bertujuan untuk mengantisipasi kebutuhan pasar Asia yang terus berkembang.
“Dengan potensi sumber daya sebesar 83,4 juta ton dan cadangan 34 juta ton, PJU ditargetkan untuk memulai operasi komersial pada akhir 2026 dan diproyeksikan menjadi aset bernilai tinggi dalam ekosistem grup perusahaan,” ujar Ditto.
Di tengah tantangan eksternal sepanjang 2025, keberhasilan ABMM dalam melakukan efisiensi operasional memungkinkan perusahaan menjaga kinerja operasional dengan volume overburden removal mencapai 235,5 juta BCM.
“Pencapaian ini menegaskan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan aset dan sumber daya di tengah kondisi pasar yang menantang untuk tetap memenuhi kebutuhan pelanggan,” katanya.
Baca juga : Pengalihan Siwa–Kolaka, ASDP Perkuat Dermaga dan Dukung Ekonomi Warga
Pihaknya juga terus memperluas jejak bisnis melalui diversifikasi dan penguatan layanan logistik.
Ditto mengungkapkan, anak perusahaan di sektor logistik dan fabrikasi, CKB Logistics dan Sanggar Sarana Baja (SSB), mencatat peningkatan kinerja yang impresif.
CKB Logistics berhasil meningkatkan on-time delivery secara signifikan. Sementara itu, SSB berhasil melakukan ekspansi pasar ekspor ke Mongolia dengan pengiriman side dump truck
Selain itu, kemitraan strategis dengan klien utama seperti Freeport Indonesia terus dipertahankan.
“Kerja sama strategis tersebut menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kualitas layanan perusahaan,” ujarnya.
Direktur sekaligus Chief Financial Officer (CFO) PT ABM Investama Hans Christian Manoe menambahkan, pihaknya juga menunjukkan komitmen kuat terhadap transisi energi dan praktik bisnis berkelanjutan.
Melalui anak usahanya, PT Nagata Bio Energi (NBE), ABMM secara resmi bergabung dengan IDX Carbon, menawarkan kredit karbon yang dihasilkan dari proyek biogas berbasis limbah cair sawit.
“Ini menjadi What’s The Next dari ABM Investama, bahwa kami akan lakukan penjualan karbon, melakukan transaksinya. Ini masih diskusi dengan calon buyer,” ujar Hans.
Ia menegaskan, meskipun pasar global terus bergejolak, pihaknya tetap optimistis dapat memanfaatkan peluang pasar dan terus menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.
Baca juga : Bertemu Kementerian MOLIT Korea Selatan, Ibas Perkuat Kerja Sama Strategis
“Di tengah kondisi yang menantang, perusahaan tetap mampu melakukan pembagian dividen senilai 15,5 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp 267,057 miliar,” tuturnya.
Hans menambahkan, hingga akhir Desember 2025, ABMM mengantongi pendapatan senilai 1,03 miliar dolar AS, atau turun 13,50 persen year on year (YoY).
Mayoritas pendapatan perseroan berasal dari segmen kontraktor tambang dan tambang batubara yang berkontribusi sebesar 755,01 juta dolar AS. Lalu, segmen jasa pertambangan mencatat pendapatan 185,22 juta dolar AS.
Seiring dengan penurunan pendapatan, beban pokok ABMM juga menyusut 12,58 persen YoY menjadi 934,49 juta dolar AS pada 2025. Sehingga, laba kotor perseroan senilai 103,67 juta dolar AS atau terkoreksi 20,97 persen YoY. “Total aset ABMM tercatat 2,05 miliar dolar AS,” ucapnya.
Ia menilai, dengan jumlah itu, perusahaan tetap bisa ekspansi ataupun diversifikasi ke bisnis baru dengan tetap mengedepankan kehati-hatian.
“Kami akan masuk ke bisnis baru kalau itu memang benar-benar memberikan nilai tambah jangka panjang bagi perusahaan,” ujar Hans.
Dalam kondisi penurunan laba ini, Hans juga menekankan, bahwa ekuitas perseroan masih tumbuh 3,91 persen YoY menjadi 880,42 juta dolar AS dan liabilitas turun 5,88 persen ke 1,17 miliar dolar AS.
Selain itu, posisi kas dan setara kas perusahaan juga tumbuh sebesar 17,15 persen menjadi 199,52 juta dolar AS. “Ini menunjukkan, bisnis kami tetap solid untuk jangka panjang,” ujar Hans.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya