Dark/Light Mode

Bos OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Pada April 2026 Stabil

Selasa, 5 Mei 2026 18:59 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. (Foto: Dok. OJK)
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. (Foto: Dok. OJK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah dinamika perekonomian global pada 30 April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, saat ini, kinerja perekonomian global dihadapkan pada berlanjutnya ketidakpastian kondisi geopolitik, meskipun terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 8 April 2026.

Penutupan Selat Hormuz tetap berlanjut akibat blokade yang dipertahankan oleh kedua pihak, sehingga gangguan terhadap distribusi energi global belum sepenuhnya mereda.

“Kondisi ini mendorong harga minyak tetap volatile dan bertahan pada level tinggi,” katanya dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDK) OJK secara virtual, Selasa (5/5/2026).

Baca juga : Inflasi Jakarta Melandai ke 0,21 Persen April 2026, Harga Pangan Mulai Stabil

Lembaga dunia seperti IMF dalam World Economic Outlook April 2026 bertajuk ‘Global Economy in the Shadow of War memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1 persen di 2026 dan menilai risiko stagflasi meningkat.

Fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok menjadi faktor risiko yang melemahkan pertumbuhan ke depan.

“Tekanan inflasi global juga meningkat, mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju,” sebutnya.

Dari global, perekonomian AS menunjukkan pelemahan, dengan pertumbuhan kuartal I-2026 diperkirakan akan turun.

Baca juga : Petugas Sekuriti Asal Serang Raih Hadiah Mobil dari Program Viu x Telkomsel

Tekanan inflasi kembali meningkat terutama dipicu oleh kenaikan harga barang dan energi, sementara itu sentimen konsumen memburuk meski pasar tenaga kerja masih relatif solid.

“Di tengah kondisi tersebut, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir April 2026,” ujarnya.

Perekonomian China mencatat pertumbuhan kuartal I-2026 sesuai target di 5,0 persen, ditopang oleh ekspor dan sektor manufaktur. Namun demikian, momentum pertumbuhan mulai melemah, dengan pertumbuhan ekspor pada Maret 2026 yang melambat signifikan dan permintaan domestik yang belum menunjukkan penguatan.

“Di domestik, ekonomi nasional tumbuh solid di level 5,61 persen, ditopang kontribusi konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengeluaran Pemerintah,” ujarnya.

Baca juga : Laba Bersih Samator Indo Gas Melesat 4,5 Kali Lipat pada Kuartal I-2026

Dari sisi indikator permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimis meskipun termoderasi, pertumbuhan penjualan ritel menjadi sebesar 2,4 persen yoy dan penjualan kendaraan bermotor terkontraksi secara tahunan.

Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, dengan neraca perdagangan yang surplus sebesar 1,2 miliar dolar AS. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.