Dark/Light Mode

Amphuri Dorong Solusi Bersama Atasi Lonjakan Harga Tiket Umrah

Selasa, 19 Mei 2026 18:12 WIB
Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh (Amphuri). Foto: Dok Amphuri
Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh (Amphuri). Foto: Dok Amphuri

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh (Amphuri) menyoroti lonjakan harga tiket penerbangan umrah. Amphuri menilai kenaikan tiket pesawat perjalanan umroh memberatkan jamaah dan pelaku usaha travel. Amphuri meminta Pemerintah dan para pemangku kepentingan segera mencari solusi.

Sekretaris Jenderal Amphuri, Zaky Zakaria Anshary mengatakan pertemuan 13 asosiasi travel umrah dan haji Indonesia dengan manajemen Garuda Indonesia beberapa hari lalu belum menghasilkan solusi konkret terkait kenaikan harga tiket umrah.

“Diskusi lebih banyak menjelaskan alasan kenaikan tiket yang terjadi,” kata Zaky, dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Zaky menyebut, kenaikan tiket umrah saat ini mencapai rata-rata Rp 3,5 juta per kursi untuk Garuda Indonesia dan Rp 4 juta hingga Rp 6,5 juta untuk Lion Air.

Baca juga : KSPSI Dorong Produksi Nasional untuk Tekan Impor dan Buka Lapangan Kerja

Menurut Zaky, penyelenggara memahami kenaikan harga dipicu tekanan operasional maskapai, termasuk naiknya biaya avtur dan komponen penerbangan lainnya. Namun, ia menilai sektor umrah seharusnya tidak menjadi pihak yang paling terdampak tanpa adanya relaksasi atau dukungan dari pemerintah.

Dampak kenaikan harga mulai dirasakan oleh penyelenggara dan calon jamaah. Sejumlah jamaah dilaporkan memilih membatalkan keberangkatan karena enggan membayar tambahan biaya tiket.

Ketua DPD Amphuri Sulawesi-Papua (Sulampua), Azhar menyebut mayoritas pembelian tiket di wilayahnya dikembalikan atau dibatalkan.

Sementara Ketua DPD Amphuri Bali-NTB, Zamroni, mengaku pihaknya telah membatalkan 5.527 tiket. Amphuri menilai kondisi tersebut berpotensi mengganggu sektor umrah nasional.

Baca juga : Dosen Lintas Kampus Dorong Kolaborasi dan Perlindungan Kerja

Padahal, menurut mereka, pasar umrah selama ini menjadi salah satu penopang industri penerbangan karena memiliki tingkat keterisian kursi tinggi, jadwal rutin sepanjang tahun, dan pembayaran yang dilakukan jauh hari.

Penyelenggara juga menyoroti harga tiket penerbangan umrah yang dalam sejumlah kasus disebut lebih mahal dibandingkan penerbangan internasional jarak jauh seperti rute Jakarta–Roma, Jakarta–Paris, hingga Jakarta–Amerika Serikat.

Selain itu, mereka membandingkan kenaikan tarif di Indonesia dengan sejumlah maskapai regional Timur Tengah dan negara tetangga yang dinilai lebih rendah atau tidak mengalami kenaikan signifikan.

Atas kondisi tersebut, penyelenggara umrah meminta pemerintah dan regulator memberikan perhatian khusus melalui berbagai bentuk relaksasi, seperti penyesuaian harga avtur, relaksasi airport tax, pengurangan biaya ground handling, kemudahan slot penerbangan, hingga insentif khusus bagi penerbangan umrah.

Baca juga : Kapolri Beberkan Inovasi Polri Manfaatkan Dan Tingkatkan Produksi Pertanian

“Kami memahami maskapai juga menghadapi tekanan berat. Namun kami berharap beban ini tidak seluruhnya dibebankan kepada jamaah dan penyelenggara umrah Indonesia,” ujar Zaky.

Dia menegaskan, kenaikan tiket yang terus berlanjut tidak hanya berdampak pada travel, tetapi juga jamaah, hotel, pelaku UMKM perlengkapan umrah, serta tenaga kerja di sektor wisata religi.

Umrah bukan hanya soal bisnis penerbangan, tetapi juga menyangkut pelayanan ibadah umat dan kepentingan nasional yang lebih luas,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.