Dark/Light Mode

Dorong Inklusi Kerja

Yayasan Mitra Netra Hadirkan Direktori Profesi Tunanetra di Indonesia

Rabu, 6 Mei 2026 22:52 WIB
Foto: Yayasan Mitra Netra.
Foto: Yayasan Mitra Netra.

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam aspek inklusivitas ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai lebih dari 17,8 juta orang. Namun, hanya sekitar 23,94 persen yang terlibat dalam dunia kerja.

Kesenjangan tersebut semakin terlihat pada kelompok tunanetra. Dari sekitar 4,2 juta penyandang disabilitas sensorik netra, hanya sekitar satu persen yang terserap di sektor formal.

Menjawab tantangan ini, Yayasan Mitra Netra meluncurkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia pada 11 Desember 2025.

Direktori ini diharapkan menjadi panduan strategis bagi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam membangun sistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif.

Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra, Aria Indrawati, menyampaikan bahwa direktori tersebut dirancang untuk menghubungkan potensi tenaga kerja tunanetra dengan peluang kerja yang tersedia.

"Direktori ini kami susun sebagai upaya konkret untuk mempertemukan kompetensi tunanetra dengan peluang kerja yang tersedia. Partisipasi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas, sangat menentukan keberhasilan Indonesia Emas 2045," kata Aria di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Baca juga : Nellava Perkenalkan Bullion Live Price Pertama Di Indonesia

Menurutnya, rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja tunanetra dipengaruhi oleh hambatan struktural, termasuk minimnya pemahaman perusahaan terhadap kemampuan dan metode kerja penyandang disabilitas netra.

Ia juga menekankan pentingnya perbedaan antara aksesibilitas dan akomodasi di lingkungan kerja.

"Aksesibilitas mencakup penyediaan fasilitas fisik dan digital, sementara akomodasi merupakan penyesuaian spesifik sesuai kebutuhan individu. Keduanya harus berjalan beriringan agar tunanetra dapat bekerja secara optimal," jelasnya.

Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi kunci dalam memperluas peluang kerja. Perangkat lunak pembaca layar seperti NVDA memungkinkan tunanetra mengakses pekerjaan berbasis digital, mulai dari pengolahan data hingga pemrograman.

Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan turut membuka peluang baru melalui fitur text-to-speech dan deskripsi visual otomatis.

Direktori yang diluncurkan Mitra Netra mencatat setidaknya 36 jenis profesi yang telah dijalani tunanetra di Indonesia hingga 2025.

Profesi tersebut tersebar di tujuh sektor strategis, seperti teknologi, administrasi, komunikasi, pendidikan, keuangan, hingga profesi profesional seperti pengacara dan psikolog.

Baca juga : Wamenag: Keselamatan Santri Harga Mati, Negara Hadir Lindungi Anak di Pesantren

Sejumlah kisah inspiratif turut memperkuat potensi tersebut. Sigit Yulyadi, misalnya, berhasil bekerja sebagai digital customer service di sektor ritel dengan memanfaatkan teknologi pembaca layar.

"Dengan bantuan teknologi, saya bisa menangani kebutuhan pelanggan secara mandiri dan tetap memenuhi standar perusahaan," ungkap Sigit.

Di sektor pemerintahan, Andira Pramatyasari menunjukkan kiprahnya sebagai Aparatur Sipil Negara di biro hukum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2021.

"Saya membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi untuk berkontribusi dalam pekerjaan yang membutuhkan analisis hukum dan komunikasi publik," kata Andira.

Sementara itu, CEO Imamatek, Agung Sachli, menilai kehadiran tunanetra dalam tim justru memberikan nilai tambah dalam pengembangan produk.

"Talenta tunanetra memiliki ketelitian tinggi dalam menguji alur logika aplikasi. Kehadiran mereka membantu kami menghasilkan produk yang lebih berkualitas," ujarnya.

Dukungan terhadap inklusivitas juga datang dari sektor layanan kesehatan. Jakarta Eye Center telah melibatkan tenaga tunanetra dalam layanan contact center.

Baca juga : Jeni Rahmadial Fitri Nyamar Jadi Dokter, Gelar Finalis Putri Indonesia Dicopot

"Dengan dukungan teknologi dan pelatihan yang tepat, mereka mampu memberikan layanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga penuh empati kepada pasien," ujar Human Capital RS Jakarta Eye Center, Galuh Achmad.

Mitra Netra menegaskan bahwa keberhasilan inklusi tidak dapat dicapai secara parsial.

Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil menjadi faktor utama, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Sebagai langkah lanjutan, Mitra Netra juga menyediakan program pendampingan bagi perusahaan yang ingin merekrut tenaga kerja tunanetra, mulai dari identifikasi posisi kerja hingga edukasi interaksi di lingkungan kerja.

Ke depan, Mitra Netra berkomitmen untuk terus mengembangkan program sejalan dengan dinamika dunia kerja, termasuk memanfaatkan peluang di era digital dan kecerdasan buatan, demi menciptakan ekosistem kerja yang lebih inklusif di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.