Dark/Light Mode

Cadangan Devisa Aman

Rupiah Digencet Faktor Global, BI Genjot Intensitas Intervensi

Kamis, 4 Juni 2026 12:51 WIB
Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. (Foto: dok. BI)
Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. (Foto: dok. BI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia menyampaikan penjelasan terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut hingga Kamis (4/6/2026).

Pada perdagangan tengah hari ini, rupiah berada di level Rp 18.043 per dolar Amerika Serikat (AS). Melemah 0,42 persen dibanding penutupan pada Rabu (3/6/2026), yang berada di angka Rp 17.967 per dolar AS. Pada perdagangan intraday, rupiah bahkan sempat berada di level Rp 18.047 per dolar AS. 

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," jelas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Baca juga : Jaga Defisit APBN, Pemerintah Fokus Efisiensi Dan Genjot Penerimaan

Selain itu, lanjutnya, pelemahan nilai tukar juga disebabkan oleh kebutuhan domestik yang masih cukup besar, sesuai pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

Destry memastikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi, untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga, sesuai dengan fundamentalnya. Serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market, demi menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik. 

Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward  (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward  (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.

Baca juga : Strategi Penghematan BBM Untuk Jaga Stabilitas Energi

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," ujar Destry.

Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT), sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

Kerja sama tersebut telah terjalin dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga : Daya Tahan Ekonomi Semoga Tetap Kuat

Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan pada April 2026, mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS. Nilai full year pada tahun lalu sekitar 25,7 miliar dolar AS.

"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara year to date melemah -7,44 persen. Sementara cadangan devisa tetap terjaga di level 147,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026," pungkas Destry.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.