Dark/Light Mode

Disambut Positif Himbara, Kenaikan BI Rate Perkuat Kepercayaan Investor

Jumat, 12 Juni 2026 06:40 WIB
Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini. (Foto: Dok. Mandiri)
Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Novita Widya Anggraini. (Foto: Dok. Mandiri)

 Sebelumnya 
“BNI memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan manajemen risiko yang disiplin, guna menjaga kualitas aset dan ketahanan bisnis,” ucapnya. 

Perseroan juga secara konsisten memantau portofolio kredit, profil risiko, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar sebagai bagian dari mitigasi risiko berkelanjutan. 

Okki menegaskan, BNI terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah, sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. 

“Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya. 

Baca juga : Udara Di Jakarta Berasap, Masuk Kategori Tak Sehat

Ke depan, BNI akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis tetap adaptif. 

Dengan dukungan permodalan, likuiditas yang memadai, serta pengelolaan risiko yang prudent, BNI akan komit menjaga kinerja berkelanjutan. 

“Sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional,” kata Okki. 

Sebelumnya, BI Rate telah dinaikkan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada 19-20 Mei 2026. Berselang dua minggu kemudian, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026. 

Perkuat Kepercayaan Investor 

Baca juga : Amerika Serikat Vs Paraguay, Tuan Rumah Bakal Agresif

Terpisah, Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Myrdal Gunarto menyebut, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional, penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Dia melihat, pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan risiko imported inflation. 

“Khususnya terhadap sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku, barang modal, maupun komponen impor,” jelas Myrdal dalam keterangan resmi yang diterima Rakyat Merdeka, kemarin. 

Myrdal menilai, langkah stabilisasi yang ditempuh BI diharapkan dapat mempercepat proses penyesuaian pasar, sekaligus menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. 

Baca juga : Kalahkan Nigeria 2-1,  Portugal Panaskan Mesin

Selain penyesuaian suku bunga kebijakan, BI juga memperkuat bauran kebijakan moneter melalui sejumlah instrumen pendukung. 

Meskipun begitu, Myrdal mengakui, kenaikan suku bunga acuan berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat. 

Untuk itu, tegas Myrdal, keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter. 

Ke depan, dia melihat ruang penyesuaian BI Rate akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.