Dark/Light Mode

Pasar Respons Positif Kebijakan Ekonomi RI, Modal Asing Masuk 45,9 T

Minggu, 14 Juni 2026 07:40 WIB
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pasar merespons positif kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah. Buktinya, modal asing sebesar Rp 45,9 triliun telah masuk ke dalam negeri. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan tingginya minat investor asing tercermin dari transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN) yang masing-masing mencatatkan aliran masuk sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun pada 10-11 Juni 2026.

Selain itu, aliran modal asing juga masuk melalui obligasi internasional Danantara yang pada penjualan perdananya berhasil membukukan dana sebesar Rp 26,9 triliun. Dengan demikian, total dana yang masuk mencapai Rp 45,92 triliun. 

"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap asetaset domestik," ujar Destry dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026). 

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan Indonesia masih menjadi tujuan investasi para pemodal. "Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia," katanya. 

Baca juga : Jerman VS Curacao, Bisakah Goliath Dikalahkan David?

Kebijakan tersebut meliputi kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing. 

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah," ungkapnya. 

Derasnya aliran modal asing yang masuk turut mengerek penguatan rupiah. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), mata uang Garuda berada di level Rp17.865 per dolar AS atau menguat 0,84 persen dibandingkan penutupan Kamis (11/6/2026) yang berada di level Rp 18.010 per dolar AS. 

Tak sampai di situ, BI tetap berupaya menjaga ketahanan eksternal melalui kerja sama keuangan dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). 

Terdapat tiga kesepakatan dari hasil kerja sama dengan kedua lembaga tersebut, yakni memperkuat sinergi untuk menjaga ketahanan dan stabilitas keuangan masing-masing negara maupun kawasan, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT). 

Baca juga : Musyrif Diny Tekankan Adab Ziarah Rasulullah SAW

"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terang Destry. 

Ia juga memastikan, BI akan terus berada di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. 

Ia optimistis berbagai bauran kebijakan tersebut mampu memperkuat rupiah. "Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya," tukas Destry. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, investor asing mulai kembali mencatat aliran dana masuk (inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) setelah pemerintah turun langsung melakukan intervensi di pasar sekunder. 

Purbaya mengatakan, langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah berhasil menenangkan pasar obligasi dan mengembalikan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya volatilitas global. 

Baca juga : Bos Blueray Akui Setor Rp 91 M Ke Pegawai DJBC

Purbaya menjelaskan, pemerintah melakukan pembelian SBN secara bertahap sejak pekan lalu. Pada hari pertama intervensi, pemerintah hanya menyerap sekitar Rp 100 miliar SBN di pasar sekunder. Nilainya kemudian meningkat menjadi Rp 830 miliar dan pada perdagangan Selasa (19/5/2026) mencapai sekitar Rp 1,29 triliun. 

"Kalau ada yang jual, kita beli. Ada yang jual, kita beli. Segampang itu sebetulnya," ujarnya. 

Menurut dia, stabilitas pasar obligasi sangat penting karena pelemahan harga obligasi dan kenaikan yield dapat memicu kerugian investor asing (capital loss), yang pada akhirnya memperbesar arus modal keluar dan menekan rupiah. [MEN]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.