Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
MIND ID Pangkas Limbah Tambang 38 Persen, Pacu Ekonomi Sirkular
Senin, 15 Juni 2026 16:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus memperkuat praktik pertambangan berkelanjutan melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali material sisa produksi sebagai bagian dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan.
Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi mengatakan, peningkatan pengelolaan mineral strategis yang dibutuhkan untuk pembangunan masa depan harus diimbangi dengan pengelolaan sisa hasil produksi secara bertanggung jawab.
Menurut dia, kebutuhan mineral seperti aluminium, bauksit, nikel, tembaga, dan timah terus meningkat seiring pengembangan elektrifikasi, baterai, kendaraan listrik, serta perluasan jaringan energi.
"Karena itu, MIND ID menerapkan Sustainability Pathway yang salah satu fokus utamanya adalah minimisasi limbah melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan kembali material hasil kegiatan pertambangan," kata Binahidra dalam Invirotech Expo 2026 yang dikutip di Jakarta, Senin.
Baca juga : Airlangga Serukan Bangun Arsitektur Ekonomi Global
MIND ID mencatat volume limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) turun 38 persen dalam dua tahun terakhir, dari 351 kiloton pada 2023 menjadi 279 kiloton pada 2024, lalu kembali menurun menjadi 217 kiloton pada 2025.
Pada periode yang sama, volume limbah padat non-B3 juga menurun dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton.
Binahidra menjelaskan penurunan tersebut didorong oleh peningkatan efisiensi operasional yang membuat jumlah limbah yang dihasilkan semakin berkurang.
"Baik limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien sehingga limbah yang dihasilkan semakin berkurang," ujarnya.
Baca juga : Di BESF 2026, Airlangga Bicara Pembangunan Kembali Arsitektur Ekonomi Global
Ia menambahkan, limbah yang dihasilkan Grup MIND ID dikelola secara mandiri maupun bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki izin. Hasil pengelolaan tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan maupun pembangunan infrastruktur masyarakat di sekitar wilayah tambang.
Salah satu program pemanfaatan limbah dijalankan oleh PT Aneka Tambang (Antam) melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka yang mengolah slag feronikel menjadi batako dan paving block.
Material slag diangkut dari area penampungan, kemudian dicampur dengan semen dan air sebelum dicetak dan dikeringkan menjadi produk konstruksi bernilai tambah. Program tersebut menghasilkan produk dengan kapasitas sekitar 5.000 ton per tahun.
Sementara itu, PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill untuk mendukung operasi tambang bawah tanah dengan kapasitas pemanfaatan sekitar 1.500 kiloton per tahun.
Baca juga : Ekonomi Hijau Lahir kanJutaan Lapangan Kerja
Adapun PT Vale Indonesia Tbk memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan dengan volume pemanfaatan mencapai 5.300 kiloton per tahun.
Binahidra menilai berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah kini tidak hanya menjadi bagian dari kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga telah berkembang menjadi strategi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah sekaligus mengelola risiko.
"Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi merupakan instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat bagi perusahaan, lingkungan, serta masyarakat," kata Binahidra.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya