Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Badai Global Mereda
Fundamental Ekonomi Nasional Makin Kokoh
Minggu, 21 Juni 2026 06:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan setelah sempat tertekan pada awal Juni 2026. Penguatan nilai tukar rupiah dan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi sinyal membaiknya sentimen pasar. Hal ini didukung konsistensi kebijakan Pemerintah.
Setelah sempat melemah hingga menembus Rp 18.000 per dolar AS, rupiah kembali menguat ke bawah level Rp 17.600 per dolar AS menjelang pertengahan Juni 2026. Pada periode yang sama, IHSG yang sempat turun ke kisaran 5.370 berhasil kembali menembus level 6.000.
Perbaikan tersebut ditopang oleh meredanya ketidakpastian global, tren penurunan suku bunga dunia, serta berbagai kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis momentum penguatan ekonomi nasional akan terus berlanjut.
“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026 yang didorong sektor-sektor prioritas. Seperti pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan energi, serta berbagai program strategis Presiden Prabowo Subianto,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca juga : Sambangi Wagub Jateng, Wagub Kalimantan Timur Belajar Kelola Tambang
Untuk menjaga stabilitas sektor eksternal, Pemerintah memperkuat kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dengan mewajibkan retensi 100 persen devisa hasil ekspor sektor nonmigas di dalam negeri selama 12 bulan.
“Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi risiko volatilitas nilai tukar,” ujar Airlangga.
Selain itu, Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna menjaga kepercayaan investor. Langkah tersebut, antara lain mencakup penyelesaian berbagai penyesuaian terkait indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE).
Menurut Airlangga, Pemerintah tetap menjalankan kebijakan fiskal yang prudent tapi bersifat countercyclical untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
“Reformasi subsidi juga terus dilanjutkan dengan meningkatkan ketepatan sasaran penerima manfaat,” tuturnya.
Baca juga : Liburan Sekolah Diproyeksi Kerek Penumpang Pesawat
Optimisme serupa disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, dia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global yang mulai mereda.
Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Inflasi Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan. Kinerja eksternal juga tetap terjaga melalui surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang setara 5,6 bulan impor.
“Demikian pula dengan kinerja sektor manufaktur ini menunjukkan perbaikan pada Mei 2026, mengindikasikan penguatan aktivitas produksi dan menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Memasuki triwulan II-2026, sejumlah indikator domestik menunjukkan perbaikan yang semakin luas. Optimisme konsumen tetap terjaga. Ini tercermin dari peningkatan aktivitas belanja masyarakat berdasarkan Mandiri Spending Index dan Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia.
Aktivitas ekonomi riil juga meningkat. Penjualan mobil dan sepeda motor tumbuh positif, demikian pula konsumsi listrik dan penjualan semen yang menjadi indikator aktivitas produksi dan pembangunan.
Baca juga : Kemajuan DKI Harus Nyata Dan Dirasakan Masyarakat
Meski rupiah sempat menghadapi tekanan akibat sentimen global dan meningkatnya sikap risk-off investor internasional, Pemerintah meyakini kondisi tersebut hanya bersifat sementara.
Purbaya menjelaskan, Pemerintah optimistis dengan sinergi dan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, disertai dengan perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor, serta pendalaman pasar keuangan akan memperkuat pasokan valas dalam negeri. Ditambah dengan perbaikan kepercayaan investor, rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II-2026.
Menurut Purbaya, meningkatnya kepercayaan investor mulai tercermin dari membaiknya arus modal asing sepanjang triwulan II-2026. Terutama pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Meski pasar saham masih mencatat arus keluar modal, minat investor terhadap aset keuangan domestik secara keseluruhan tetap terjaga,” ujarnya. NOV
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 8, edisi Minggu, 21 Juni 2026 dengan judul "Badai Global Mereda Fundamental Ekonomi Nasional Makin Kokoh"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya