Dark/Light Mode

ASEAN-Jepang Sepakati Deklarasi DISG ke-18, Fokus Perkuat Rantai Pasokan-Energi

Jumat, 24 Juli 2026 13:24 WIB
Platform kerja sama ekonomi pemerintah dan swasta ASEAN-Jepang, Dialogue for Innovative and Sustainable Growth (DISG), dalam pertemuan ke-18 yang digelar di Carlton Hotel Bangkok Sukhumvit, Thailand. (Foto : Ist)
Platform kerja sama ekonomi pemerintah dan swasta ASEAN-Jepang, Dialogue for Innovative and Sustainable Growth (DISG), dalam pertemuan ke-18 yang digelar di Carlton Hotel Bangkok Sukhumvit, Thailand. (Foto : Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Platform kerja sama ekonomi pemerintah dan swasta ASEAN-Jepang, Dialogue for Innovative and Sustainable Growth (DISG), resmi mengadopsi Deklarasi Bersama Gugus Tugas DISG dalam pertemuan ke-18 yang digelar di Carlton Hotel Bangkok Sukhumvit, Thailand.

Pengesahan deklarasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama ASEAN dan Jepang di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta dinamika ekonomi global.

Ketua DISG, Masuo Kuremura, memaparkan empat pilar utama kerja sama, yakni ketahanan rantai pasokan, kolaborasi inovasi, investasi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta transisi energi.

Baca juga : Nanik S Deyang Mundur Dari Jabatan Kepala BGN, Fokus Berobat Jantung

Menurutnya, sinergi itu membutuhkan komunikasi yang intensif dengan seluruh pemangku kepentingan di kawasan. "Saya menegaskan pentingnya konsultasi intensif dengan negara-negara ASEAN guna memperkuat ketahanan industri," ujar Masuo, Jumat (24/7/2026).

Masuo juga menyoroti keberhasilan program Fast Track Pitch yang menarik ratusan peserta dari berbagai negara, penyelenggaraan Konferensi Pemimpin Muda, hingga penguatan kolaborasi di sektor pusat data dan semikonduktor.

Di sektor energi, ia mengusulkan skema Asia Zero Emission Community Plus (AZEC+) sebagai kerangka kerja untuk mempercepat dekarbonisasi sekaligus memperkuat keamanan energi kawasan melalui berbagai proyek konkret.

Baca juga : Wamenkop Ajak Gakoptindo Perkuat Rantai Pasok Tempe-Tahu

Pertemuan tersebut juga membahas efektivitas investasi Jepang di Asia Tenggara. Perwakilan ASEAN-BAC Brunei, Musa Adnin, menyoroti minimnya partisipasi perusahaan Jepang dalam tender proyek pusat data di negaranya. Menurutnya, meski Jepang memiliki keunggulan teknologi, kecepatan eksekusi bisnis dan penetrasi pasar mulai tertinggal dibandingkan kompetitor dari Tiongkok maupun negara-negara Barat.

Selain itu, sejumlah perwakilan kamar dagang ASEAN turut menyampaikan berbagai rekomendasi, mulai dari sistem pengakuan tenaga kerja ahli dari Filipina, reintegrasi pekerja migran dari Indonesia, hingga penguatan ketertelusuran rantai pasokan yang diusulkan Vietnam. Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang menegaskan komitmennya untuk bergerak lebih cepat dalam merespons kebutuhan dunia usaha di kawasan.

Pertemuan kemudian ditutup dengan pengesahan Deklarasi Bersama Gugus Tugas DISG oleh Masuo Kuremura.

Baca juga : Selatox Kantongi Sertifikasi CPOB dari BPOM, Perkuat Manufaktur Biofarmasi

Deklarasi tersebut memuat lima agenda prioritas, yakni memperkuat stabilitas rantai pasokan bahan baku strategis, meningkatkan keamanan ekonomi melalui investasi semikonduktor dan AI, mempercepat transisi energi ramah lingkungan, mendorong inovasi digital bagi UMKM dan startup, serta mengembangkan sumber daya manusia generasi muda guna mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN-Jepang yang inklusif dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.