Dark/Light Mode

2 Periode Pimpin BI, Perry Hadapi Gejolak Rupiah Dari Rp14.000 Ke Rp18.000

Senin, 27 Juli 2026 08:53 WIB
Perry Warjiyo. Dok. BI
Perry Warjiyo. Dok. BI

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menutup perjalanan hampir delapan tahun kepemimpinannya di bank sentral. Selama dua periode menjabat, Perry menghadapi berbagai gejolak ekonomi global yang membuat nilai tukar rupiah bergerak dari kisaran Rp14.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sempat menguat ke level Rp13.600, hingga akhirnya menembus Rp18.000 per dolar AS pada 2026.

Perry dilantik sebagai Gubernur BI pada 24 Mei 2018. Saat itu, rupiah berada di kisaran Rp14.205 per dolar AS di tengah tekanan akibat normalisasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).

Bank Indonesia merespons kondisi tersebut melalui bauran kebijakan (policy mix) yang mengombinasikan stabilisasi nilai tukar, penyesuaian suku bunga, serta pendalaman pasar keuangan domestik.

Baca juga : BI: Investor Asing Kembali Masuk, Rupiah Menguat Di Bawah Rp 18.000

Memasuki awal 2020, rupiah mencatat salah satu performa terbaik sepanjang kepemimpinan Perry. Didukung derasnya aliran modal asing dan sentimen positif pasar, mata uang Garuda menguat ke kisaran Rp13.600-Rp13.750 per dolar AS. Level tersebut menjadi posisi terkuat rupiah selama Perry memimpin BI.

Namun, kondisi berubah drastis ketika pandemi Covid-19 melanda dunia pada Maret 2020. Kepanikan di pasar keuangan global memicu arus modal keluar sehingga rupiah sempat melemah hingga kisaran Rp16.500-Rp16.650 per dolar AS.

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia menerapkan kebijakan triple intervention melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN). BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui pembelian SBN di pasar perdana pada 2020-2022 guna menopang pemulihan ekonomi nasional.

Baca juga : Resep Habibie Pulihkan Rupiah Dari Rp 16.800 Ke Rp 6.500 Per Dolar AS

Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat sepanjang 2024 hingga 2025 seiring kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan Federal Reserve. Sebagai respons, BI meluncurkan sejumlah instrumen baru, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menarik aliran modal asing sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik.

Memasuki pertengahan 2026, rupiah kembali berada di bawah tekanan. Penguatan dolar AS, tingginya kebutuhan valuta asing domestik, pembayaran dividen, serta repatriasi dana membuat rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, bahkan sempat diperdagangkan di kisaran Rp18.030 per dolar AS. Angka tersebut menjadi titik terlemah sepanjang Perry menjabat Gubernur BI.

Meski demikian, Perry berulang kali menegaskan bahwa fokus Bank Indonesia bukan mempertahankan nilai tukar pada level tertentu, melainkan menjaga stabilitas rupiah agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Baca juga : Perang Timur Tengah Tekan Rupiah Ke Rp 16.926

Di tengah dinamika tersebut, Perry mengajukan pengunduran diri sebagai Gubernur BI. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry dan akan memproses pemberhentiannya secara hormat melalui Keputusan Presiden.

Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, jabatan Gubernur BI untuk sementara dijalankan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti hingga gubernur definitif ditetapkan melalui mekanisme yang berlaku.

Perry sendiri merupakan ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bergabung dengan Bank Indonesia pada 1984. Sebelum menjadi Gubernur BI, ia pernah menjabat Deputi Gubernur BI serta Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF). Pada 2023, Perry kembali memperoleh kepercayaan memimpin BI untuk periode kedua 2023-2028 sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.