Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
- Investasi 6 Perusahaan TPT Berpotensi Ciptakan Hampir 10.000 Lapangan Kerja
- Bos Toyota: Solusi Atasi Krisis Iklim Bisa Dari Lingkungan Sekitar
- Transjakarta Gandeng APKI-PERDOKI, Perkuat Standar Kesehatan Pramudi
- Umuh Muchtar Optimistis Maung Bandung Makin Kuat
BPS: Ekonomi Indonesia Triwulan II 2026 Tumbuh 5,29 Persen
Rabu, 5 Agustus 2026 14:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud mengatakan, pertumbuhan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan II 2025 yang tumbuh 5,12 persen yoy.
Menurutnya, ada lima lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Kelima lapangan usaha tersebut tumbuh positif secara yoy, kecuali sektor pertambangan.
"Total kelima lapangan usaha tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB Indonesia," ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Edy kemudian menguraikan tiga lapangan usaha yang tumbuh tinggi di triwulan II 2026. Pertama, pengadaan listrik dan gas. Peningkatan ini didorong oleh peningkatan penjualan listrik hampir di semua segmen konsumen. Terutama, segmen rumah tangga, bisnis, dan industri.
Baca juga : Indonesia Kembali Jadi Tuan Rumah T50 Summit 2026 Industri Alat Berat Dunia
Kedua, penyediaan akomodasi dan makan minum. Pertumbuhan lapangan usaha ini didorong oleh peningkatan okupansi hotel dan kinerja jasa boga. Sejalan dengan semakin luasnya jangkauan penerima manfaat MBG. Ketiga, informasi dan komunikasi. Lapangan usaha di sektor ini tumbuh 6,97 persen, ditopang oleh semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di sebagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan lainnya.
Pertambangan Terkontraksi
Edy membeberkan, pada triwulan II 2026, sektor pertambangan terkontraksi sebesar 1,64 persen. Hal ini antara lain disebabkan oleh terkontraksinya pertambangan bijih logam sebesar 9,42 persen akibat penurunan beberapa komoditas tambang seperti bijih bauksit, bijih timah, dan bijih nikel.
"Selain itu, juga diakibatkan oleh belum pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Provinsi Papua Tengah pasca insiden longsor atau aliran lumpur pada September 2025," ujar Edy.
Edy menambahkan, pertambangan batubara dan lignit juga terkontraksi sebesar 1,41 persen akibat penataan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, sebagai upaya menjaga keseimbangan pasokan dan mendorong perbaikan harga batubara di pasar internasional.
Baca juga : Pertumbuhan yang Menyatukan Bangsa: Jembatan antara Modernitas dan Keadilan
Sementara pertambangan minyak, gas, dan panas bumi terkontraksi 2,15 persen. Hal ini disebabkan oleh penurunan tingkat alamiah produktivitas sumur migas, serta minimnya penemuan cadangan migas baru.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, pada triwulan II 2026, lapangan usaha industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan angka 0,9 persen," papar Edy.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh lapangan usaha perdagangan dengan sumber pertumbuhan 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, dan infokom 0,48 persen.
Baca juga : BI Terus Perkuat Nilai Tukar Rupiah, Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya