Dark/Light Mode

Menelusuri Telaga Tunggal 1, Saksi Bisu Lahirnya Industri Minyak Indonesia

Rabu, 12 Agustus 2026 20:30 WIB
SUMUR TUA BERSEJARAH: Sumur Minyak Telaga Tunggal 1 di Desa Telaga Said, Langkat, Sumatera Utara, menjadi penanda sejarah awal industri perminyakan Indonesia. Sumur yang dibangun pada 1885 ini kini menjadi situs cagar budaya dan sarana wisata sejarah. (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)
SUMUR TUA BERSEJARAH: Sumur Minyak Telaga Tunggal 1 di Desa Telaga Said, Langkat, Sumatera Utara, menjadi penanda sejarah awal industri perminyakan Indonesia. Sumur yang dibangun pada 1885 ini kini menjadi situs cagar budaya dan sarana wisata sejarah. (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Siapa sangka di tengah himpitan rimbun pohon sawit di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), terdapat sumur minyak tua yang menjadi saksi bisu salah satu tonggak awal lahirnya industri minyak bumi di Indonesia.

Tidak ada lagi semburan minyak dari dalam tanah. Namun, jejak sejarahnya masih melekat kuat. Sumur itu adalah Sumur Minyak Telaga Tunggal 1.

Sumatera Utara memiliki tempat penting dalam sejarah perminyakan Indonesia. Di wilayah inilah minyak bumi pertama kali ditemukan pada masa Hindia Belanda.

Kisahnya bermula pada 1880. Saat itu, Aeilko Jans Zijker, ahli perkebunan tembakau dari Deli Tobacco Maatschappij, menemukan genangan air bercampur minyak bumi di kawasan Telaga Tunggal.

Zijker kemudian membawa sampel air tersebut ke Batavia untuk menjalani analisis kimia. Hasilnya menunjukkan kandungan minyak mencapai 59 persen.

Temuan itu membuat Zijker melihat peluang besar. Ia kemudian kembali ke Belanda untuk mencari pendanaan sekaligus izin guna melakukan eksplorasi minyak di Langkat.

Baca juga : Wali Kota Bogor Dedie A Rachim Tata Kawasan Bersejarah

Lima tahun berselang, upaya itu mulai diwujudkan. Pada 15 Juni 1885, pengeboran Sumur Minyak Telaga Tunggal 1 dimulai. Sumur tersebut mencapai kedalaman 121 meter dan menghasilkan sekitar 180 barrel minyak per hari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi Baong.

Penemuan tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang industri perminyakan di wilayah Langkat.

Pada 1890, Zijker mendirikan perusahaan minyak bernama Sumatra Petroleum Maatschappij (SPM) untuk mengelola sumur tersebut.

Dalam perkembangannya, SPM bergabung dengan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan minyak milik Belanda yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Royal Dutch Shell.

Sumur Telaga Tunggal 1 terus berproduksi hingga 1919. Setelah BPM menemukan cadangan minyak yang lebih besar di Pangkalan Brandan, aktivitas di Telaga Tunggal perlahan ditinggalkan.

Lapangan tersebut kemudian berhenti beroperasi pada 1934. Meski aktivitas pengeboran telah lama berakhir, jejak sejarah Telaga Tunggal tidak sepenuhnya hilang.

Baca juga : Lima Puluh Tahun IPA Convex, Menyusuri Jejak Migas Menuju Masa Depan Energi

Pada 4 Oktober 1985, pemerintah membangun dan meresmikan Tugu Peringatan 100 Tahun Industri Perminyakan Indonesia di kawasan tersebut.

Tugu itu menjadi penanda perjalanan panjang industri minyak yang bermula dari Langkat.

Kini, kepala sumur yang masih tertancap menjadi peninggalan otentik dari masa awal eksplorasi minyak di Indonesia.

Sumur tersebut juga telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Langkat pada 2024.

Staf pengelola Sumur Minyak Telaga Tunggal 1, Ulil Rozali, mengatakan, situs tersebut kini lebih banyak difungsikan sebagai sarana wisata dan edukasi sejarah.

“Kami beberapa kali menerima kunjungan dari berbagai pihak. Mulai dari anak sekolah, kampus hingga perusahaan,” ungkapnya saat ditemui Rakyat Merdeka di Langkat, Sumut, Selasa (12/8/2026).

Baca juga : Prabowo Minta Kepala Daerah Turut Perhatikan Situs-situs Bersejarah Nasional

Bagi pengunjung, Telaga Tunggal 1 mungkin hanya terlihat seperti sumur tua yang berdiri di tengah perkebunan sawit. Namun, di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana pencarian minyak di Nusantara dimulai.

Dari sebuah genangan air bercampur minyak yang ditemukan lebih dari seabad lalu, perjalanan industri energi Indonesia perlahan terbentuk.

Kini, sumur itu memang tak lagi menyemburkan minyak. Akan tetapi, Telaga Tunggal 1 masih menyimpan kekayaan yang tidak kalah penting: pengetahuan, sejarah, dan ingatan tentang awal perjalanan energi Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.