Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kabar Haji Isam Pimpin Operasi Karhutla Dibantah Mensesneg: Tidak Benar Itu!
- Selain Upah Pungut, KPK Juga Usut Dugaan Korupsi Proyek di Kabupaten Bogor
- Cegah Karhutla Meluas, 8 Desa Di Cengal Perkuat Sinergi
- Prabowo Dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Rizky Irmansyah
- KPK: OTT Rektor Unsoed Jadi Momentum Perkuat Integritas Perguruan Tinggi
KS Orka Andalkan Teknologi Adaptif Jaga Produksi Panas Bumi
Jumat, 21 Agustus 2026 12:32 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT KS Orka Renewables mengandalkan teknologi adaptif untuk menjaga produksi listrik panas bumi ketika kondisi reservoir berubah. Pendekatan tersebut diperkenalkan dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.
Chief Operation Officer KS Orka Renewables Pte. Ltd. Dr. Yan Tang mengatakan, perubahan tekanan, temperatur, entalpi, dan laju aliran reservoir dapat memengaruhi produksi pembangkit. Karena itu, sistem pembangkit perlu menyesuaikan perubahan reservoir agar potensi energi panas bumi tetap dimanfaatkan sepanjang umur lapangan.
“Ketika karakteristik reservoir berubah, sebagian sumber daya panas bumi tidak lagi sesuai dengan sistem pembangkitan terpasang,” papar Yan dalam pleno IIGCE 2026, Kamis (20/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Yan memperkenalkan Reservoir-Adaptive Geothermal Power Plant (RAGPP), yakni sistem pembangkit yang dapat menyesuaikan konfigurasi dengan kondisi reservoir.
Teknologi tersebut menggabungkan steam screw expander, Organic Rankine Cycle (ORC) untuk uap basah, serta ORC brine. Kombinasi itu memungkinkan energi panas bumi diekstraksi secara bertahap, mulai dari tekanan, panas laten uap, hingga panas sensibel brine.
Sistem modular tersebut juga memungkinkan konfigurasi pembangkit disesuaikan ketika karakteristik sumur berubah selama masa produksi.
“Tujuannya bukan hanya memaksimalkan kapasitas awal, tetapi memaksimalkan akumulasi listrik sepanjang umur reservoir,” ujar Yan.
Penerapan pendekatan tersebut terlihat pada Sorik Marapi Geothermal Power Plant (SMGP) di Sumatera Utara. Pengembangan SMGP dimulai melalui pengeboran sumur pertama pada Oktober 2016 dan menghasilkan lima unit pembangkit dalam delapan tahun.
Unit pertama mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2019. Sementara unit kelima mulai beroperasi pada Desember 2024.
Baca juga : Bahlil Genjot Potensi Raksasa Geotermal: Pengusaha Jangan Tahan Konsesi
Dalam pengujian Unit Rated Capacity (URC) pada Desember 2024, lima unit pembangkit menghasilkan 202,69 megawatt (MW) bruto atau 177,57 MW bersih. Yan mengatakan, pembangkitan bersih SMGP meningkat dari 84,80 gigawatt jam (GWh) pada 2019 menjadi 1.445,97 GWh pada 2025.
Pada Januari-Juni 2026, pembangkitan mencapai 695,23 GWh dengan kinerja pembangkit tetap di atas 90 persen.
Pada 2025, SMGP mencatat availability factor sebesar 94,5 persen dan net capacity factor 99,9 persen. Pada Januari-Juni 2026, kedua indikator tersebut masing-masing mencapai 93,6 persen dan 99,8 persen.
Salah satu penerapan pendekatan adaptif dilakukan pada sumur T-10 yang mengalami perubahan karakteristik reservoir setelah beroperasi.
Sumur tersebut dialihkan dari sistem tekanan tinggi 10,7 bar(a) menuju sistem tekanan menengah 5,7 bar(a). Penyesuaian itu memungkinkan sumur tetap berkontribusi terhadap pembangkitan tanpa memerlukan modifikasi besar pada fasilitas.
Menurut Yan, fleksibilitas tersebut dapat mengurangi risiko sumur kehilangan fungsi ketika tekanan reservoir menurun.
“Sumur tidak harus langsung dianggap tidak produktif ketika tekanannya menurun, karena sistem pembangkit dapat disesuaikan,” jelasnya.
Yan mengatakan, pengembangan panas bumi membutuhkan investasi besar dengan risiko tinggi sehingga kepastian operasi menjadi penting. Teknologi adaptif dinilai dapat membantu menjaga pemanfaatan sumber daya sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi lapangan dalam jangka panjang.
Sementara itu, VP Corporate Stakeholder and Relation KS Orka Ali Sahid mengatakan, pengembangan panas bumi Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar.
Baca juga : Kenalkan Industri Panas Bumi, DEM Sulut dan PGE Luncurkan GEFF 2026
Menurutnya, pertumbuhan pembangkitan terus berlangsung seiring bertambahnya perusahaan, wilayah kerja, dan izin pengembangan panas bumi.
Ali menyebut Indonesia memiliki lebih dari 300 lapangan panas bumi, tetapi baru sekitar 16 lapangan yang beroperasi. Artinya, masih terdapat sekitar 280 lapangan yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
“Transisi menuju Net Zero Emission 2060 tidak bisa dihindari. Ini tidak menjadi pilihan lagi tapi menjadi keharusan bagi Indonesia,” tegas Ali kepada RM.id di sela acara.
Namun, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama perizinan dan koordinasi lintas sektor.
Ali mengatakan, proses pengeboran pertama membutuhkan sejumlah izin yang melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, serta sektor kehutanan dan lingkungan.
Lokasi proyek juga menjadi tantangan karena sumber panas bumi umumnya berada di kawasan terpencil di sekitar gunung berapi. Kondisi tersebut berkaitan dengan akses pendidikan, kesehatan, pendapatan masyarakat, serta tingkat penerimaan terhadap kegiatan proyek.
Perkuat Keterlibatan Masyarakat
Untuk menangani persoalan sosial, KS Orka menerapkan Grievance Mechanism atau mekanisme keluhan bagi masyarakat terdampak.
Menurut Ali, setiap keluhan dapat ditindaklanjuti bersama pemerintah setempat dan pihak independen untuk memastikan persoalan diperiksa secara terbuka.
KS Orka juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR), Local Business Development (LBD), dan Community Based Security.
Baca juga : Sukses Digelar, Geothermal Fun Walk & Run 2026 Diramaikan Ratusan Peserta
Program tersebut mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial budaya, serta pemberian kesempatan kerja kepada pelaku usaha lokal.
Di SMGP, Ali menyebut sekitar 600-700 orang menerima manfaat CSR. Sebanyak 1.100 orang memperoleh BPJS melalui Gerakan Lingkar, sedangkan 150 orang mendapatkan pekerjaan melalui program LBD.
Kasus sosial di sekitar wilayah operasi juga disebut turun dari 107 kasus pada 2022 menjadi hanya 3 kasus pada 2025. Hingga 2026, Ali menyebut hanya terdapat satu kasus sosial yang tercatat. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat, transparansi, serta penyesuaian pendekatan dengan kondisi lapangan.
Selain SMGP, KS Orka mengembangkan proyek Sokoria di Nusa Tenggara Timur yang saat ini memiliki kapasitas 8 MW.
Perusahaan berencana menambah Unit 3 berkapasitas 11 MW pada tahun depan serta melakukan pengeboran baru di SMGP pada 2027.
Bagi KS Orka, pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas listrik. Penggunaan teknologi yang mampu beradaptasi dengan kondisi reservoir dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pembangkit sekaligus memperpanjang manfaat ekonomi proyek.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya