Dark/Light Mode

Cegah Blackout, Pengamat Sebut Panas Bumi Jadi Pilar Ketahanan Listrik

Selasa, 7 Juli 2026 17:32 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RM.id  Rakyat Merdeka - Risiko pemadaman listrik berskala besar (blackout) menjadi tantangan nyata yang perlu diantisipasi guna menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional.

Gangguan pada sistem kelistrikan dinilai tidak hanya melumpuhkan aktivitas masyarakat, tetapi juga memberikan tekanan hebat terhadap sektor industri.

Pengamat Energi Feiral Rizky Batubara mengatakan, pasokan listrik yang tidak stabil berpotensi menghambat proses produksi, menaikkan biaya operasional, hingga mengganggu keberlangsungan rantai pasok.

Oleh karena itu, mitigasi risiko blackout harus dilakukan melalui penguatan sistem secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan kapasitas pembangkit yang mampu memasok listrik secara stabil.

Baca juga : Dukung Program B50, Elnusa Petrofin Mulai Salurkan Biosolar Ke Industri

“Panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout. Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca, dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” kata Feiral di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Menurut Feiral, kemampuan panas bumi untuk beroperasi kontinu menjadikannya tumpuan andal di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.

“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” lanjutnya.

Indonesia saat ini memiliki cadangan panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau setara dengan 40 persen cadangan dunia.

Baca juga : Buka JKF 2026, Pramono Sebut Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Jakarta

Kendati melimpah, pemanfaatannya masih minim. Dari total potensi tersebut, baru sekitar 2,7 GW atau 12 persen yang telah dimanfaatkan.

Masih ada ruang pengembangan yang sangat besar, termasuk mengejar target tambahan kapasitas 2,5 GW dalam sepuluh tahun ke depan.

Sementara itu, target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang membidik angka 5,2 GW dinilai ambisius namun sejalan dengan arah transisi energi nasional.

Kendati demikian, Feiral mengingatkan bahwa pengembangan panas bumi masih membentur sejumlah tantangan, seperti tingginya investasi awal, tarif keekonomian, rumitnya perizinan, hingga kesiapan infrastruktur jaringan.

Baca juga : EcoFlow Perluas Akses Solusi Energi Pintar, Dukung Ketahanan Energi Nasional

Untuk itu, diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, pembiayaan jangka panjang, hingga sinkronisasi perencanaan jaringan kelistrikan nasional.

Pengembangan panas bumi juga wajib berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi, digitalisasi sistem, serta pengembangan Battery Energy Storage System (BESS).

“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” ujar Feiral.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.