Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 9 AHWA Muktamar ke-35 NU Terpilih, Tinggal Tentukan Rais Aam dan Ketum PBNU
- Gempa Susulan Flores Nyaris 10.000, BNPB: Aktivitas Mulai Menurun
- MU Hajar Ipswich, Chelsea Menang Dramatis
- Inter Menang Tipis, Como Permalukan Napoli
- Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (4): KH Miftachul Akhyar, Sang Pewaris Ilmu
BI: Kolaborasi Lintas Negara Jadi Kunci Hadapi Tantangan Ekonomi Global
Senin, 31 Agustus 2026 10:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono menekankan, pentingnya sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara untuk menjaga stabilitas makrofinansial sekaligus mengarahkan pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Thomas saat menutup Biennial Policy Conference (BPC) yang digelar di Bali pada 26-27 Agustus 2026.
Konferensi bertema “The Future of Central Banking: Policy Synergy for Innovation-Driven, Inclusive, and Sustainable Economic Growth” itu dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk peraih Nobel Ekonomi Prof. Peter Howitt dan Prof. Daron Acemoglu.
Turut hadir Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, mantan Anggota Dewan Gubernur BI Miranda S. Goeltom, Halim Alamsyah, dan Dody Budi Waluyo, serta anggota dewan gubernur bank sentral dari kawasan Asia-Pasifik.
Thomas mengatakan, perubahan global semakin kompleks akibat disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi. Dalam kondisi tersebut, inovasi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi, sementara stabilitas ekonomi dan keuangan menjadi jangkar agar inovasi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurut dia, stabilitas merupakan prasyarat mendasar bagi kemajuan suatu negara di tengah proses “creative destruction” yang terus menggerakkan dinamika ekonomi. Bank sentral, kata dia, memiliki peran penting sebagai penjaga stabilitas makrofinansial yang memungkinkan inovasi berkembang secara aman.
Baca juga : Komisi XI Tetapkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI, Aida DGS BI, Solikin DG BI
Karena itu, bauran kebijakan yang terintegrasi juga perlu terus berinovasi untuk merespons berbagai guncangan yang semakin kompleks dan bersifat nonlinier. “Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya,” kata Thomas.
Ia mengatakan, BI mengambil peran aktif dalam mengarahkan perkembangan ekosistem digital agar teknologi dapat menjadi sarana untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas dan inklusif.
Thomas juga menilai berbagai persoalan multidimensi saat ini tidak dapat diselesaikan oleh bank sentral secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kolaborasi lintas negara dan penguatan jaring pengaman keuangan kawasan diperlukan untuk menghadapi dinamika siklus keuangan global.
“Kolaborasi lintas negara dan jaring pengaman keuangan kawasan dibutuhkan sebagai perisai bersama dalam menghadapi dinamika siklus keuangan global,” ujarnya.
Dalam konferensi tersebut, peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt menyoroti dua jalur utama yang mendorong inovasi sebagai motor pertumbuhan ekonomi jangka panjang, yakni faktor nonfinansial dan peran sektor keuangan.
Faktor nonfinansial tersebut mencakup persaingan usaha yang sehat serta perlindungan kekayaan intelektual, sedangkan sektor keuangan yang kuat dan stabil diperlukan untuk mendukung pembiayaan inovasi.
Baca juga : Fantastis! Penjualan UMKM di KKI Tembus Rp177,21 Miliar
Howitt juga menekankan pentingnya peran bank sentral dalam menjaga stabilitas harga sebagai jangkar bagi keberlanjutan inovasi. Inflasi yang tinggi dapat meningkatkan ketidakpastian dan biaya pendanaan, sementara guncangan finansial berpotensi menekan aktivitas riset dan pengembangan yang penting bagi kapasitas inovasi jangka panjang.
Sementara itu, Daron Acemoglu menilai peran negara menjadi faktor penting dalam menentukan manfaat dari kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, arah pengembangan teknologi akan menentukan apakah kemajuan tersebut mampu memperkuat stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau justru memperlebar kesenjangan.
Ia menekankan, penguatan kapasitas dan tata kelola lembaga sebagai prasyarat agar perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Sejumlah isu strategis turut dibahas dalam konferensi tersebut, antara lain penguatan kerangka kebijakan makrofinansial terintegrasi untuk merespons perubahan ekonomi yang semakin kompleks.
Di bidang transformasi digital, perkembangan central bank digital currency (CBDC), tokenisasi, aset digital, dan pemanfaatan AI mendorong kebutuhan akan ekosistem digital yang efisien, saling terhubung, dan tangguh.
Baca juga : Fit & Proper Test Calon Gubernur BI, Destry Usung Misi Sinergi Merah Putih
Selain itu, meningkatnya risiko perubahan iklim juga menempatkan pengelolaan risiko iklim dan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi.
Konferensi BPC dihadiri para pembuat kebijakan, bank sentral, organisasi internasional, regulator, akademisi, dan pakar dari kawasan Asia-Pasifik maupun berbagai negara lainnya.
Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat dialog kebijakan, pertukaran pengalaman, serta kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global dan mendorong pertumbuhan yang inklusif serta berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya