Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Timnas Putri U-17: Dari Clairefontaine Prancis hingga Panggung Internasional
- KPK Ungkap Rektor Unsoed di-OTT di Jakarta
- Kasus Bappenda Kabupaten Bogor, KPK Sita Duit Rp 1,5 M
- KPK Usut Dugaan Pemotongan Upah Pungut di Bappenda Kabupaten Bogor
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Neraca Pembayaran RI Triwulan II-2026 Defisit Rp 15,94 T
Jumat, 21 Agustus 2026 10:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, dengan defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15,94 triliun (kurs Rp 17.710 per dolar AS).
Defisit tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan defisit NPI pada triwulan I-2026 yang mencapai 9,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 161,11 triliun. Perbaikan tersebut terutama ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang kembali mencatat surplus.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatat defisit, sementara transaksi modal dan finansial mencatat surplus seiring peningkatan aliran investasi langsung dan portofolio.
“NPI pada triwulan II-2026 mencatat defisit 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada triwulan I-2026 sebesar 9,1 miliar dolar AS,” kata Ramdan dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatat defisit sebesar 12,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 221,38 triliun, setara 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut meningkat dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 63,76 triliun, setara 1,0 persen terhadap PDB.
Baca juga : Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Pemerintah & BI Diminta Perkuat Koordinasi
BI menjelaskan, pelebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Salah satunya peningkatan defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia.
Selain itu, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah akibat peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan capaian pada triwulan I-2026.
Di sisi lain, transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2026 mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS atau sekitar Rp 212,52 triliun, berbalik dari defisit 4,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 85,01 triliun pada triwulan sebelumnya.
Peningkatan surplus tersebut didukung oleh kenaikan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi seiring terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Baca juga : BI Rancang Mesin EDC Untuk Transaksi KKI
Sementara itu, investasi portofolio mencatat surplus yang meningkat sejalan dengan kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Adapun investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.
Ramdan mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar 145,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.579,58 triliun. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” ujarnya.
Ke depan, BI memperkirakan prospek NPI tetap baik sehingga dapat mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah seiring perbaikan prospek ekspor yang didukung kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas unggulan ekspor Indonesia.
Perbaikan tersebut juga diperkirakan mendapat dukungan dari dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Baca juga : KKI 2026 Hadirkan Produk Unggulan 550 UMKM Indonesia
Sementara itu, transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap mencatat surplus yang ditopang berlanjutnya aliran masuk modal asing. Kondisi tersebut didukung oleh imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik serta prospek ekonomi Indonesia yang positif.
“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Ramdan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya