Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Udang Impor Tekan Petambak, Pemerintah Diminta Optimalkan Udang Lokal
Rabu, 16 September 2026 10:49 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Masuknya udang impor asal Ekuador ke pasar Indonesia menimbulkan kekhawatiran di kalangan petambak dan pembudi daya udang.
Di tengah upaya meningkatkan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan, impor dinilai berpotensi menekan penyerapan udang lokal. Persoalan ini menjadi perhatian karena udang merupakan salah satu komoditas utama perikanan Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun, produksi udang mencapai sekitar 953 ribu ton pada 2021, kemudian meningkat menjadi sekitar 1,09 juta ton pada 2022 atau tumbuh sekitar 15 persen. Udang juga menjadi salah satu komoditas ekspor terbesar sektor perikanan Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan besarnya basis produksi perikanan budidaya nasional. Pada 2021, produksi udang hasil budidaya tercatat sekitar 953.178 ton.
Angka tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas produksi yang besar dan modal kuat untuk memasok kebutuhan bahan baku industri dari dalam negeri.
Namun, masuknya udang impor dengan harga yang lebih kompetitif memunculkan kekhawatiran terhadap penyerapan produksi tambak lokal.
Baca juga : Pemerintah Modernisasi Armada Nelayan & Bangun Sentra Industri
Bahkan, berkembang sinyalemen bahwa udang asal Ekuador tersebut merupakan produk yang sebelumnya ditolak masuk ke China karena terdeteksi senyawa metabisulfit yang digunakan sebagai bahan pengawet.
Petambak dan pembudi daya udang Indonesia, Hasanuddin Atjo, menyoroti masuknya impor udang dalam jumlah besar ke Jawa Timur.
Dia mengingatkan agar produk impor tidak justru membawa penyakit yang dapat mengganggu produksi udang dalam negeri.
"Misalnya membawa penyakit, kemudian bocor ke pasar dalam negeri karena bisa mengganggu stabilitas harga pasar," kata Atjo saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).
Atjo mengatakan, Harga Pokok Produksi (HPP) udang Ekuador dan India lebih rendah sekitar 1-1,5 dolar AS per kilogram dibandingkan HPP udang Indonesia.
Selisih tersebut menjadi tantangan bagi petambak nasional yang harus menanggung biaya pakan, listrik, logistik, bahan bakar minyak (BBM), serta berbagai kebutuhan produksi lainnya.
Baca juga : UMKM Dan Petani Jagung Ikut Kecipratan Berkah
"Kesenjangan biaya produksi inilah yang perlu segera dibenahi jika Indonesia ingin mempertahankan posisi sebagai salah satu produsen dan eksportir udang dunia," ujarnya.
Dampak impor udang juga mulai dirasakan di tingkat petambak. Serapan produksi udang lokal disebut mengalami penurunan.
Sejumlah industri pengolahan di Jawa Timur bahkan untuk sementara waktu berhenti membeli udang lokal dengan alasan kapasitas pabrik sedang penuh.
"Ada rasa was-was kalau impor udang terus berlanjut. Karena beberapa prosesor di Jawa Timur untuk sementara waktu tidak menerima pembelian udang lokal dengan alasan sedang penuh. Gudang penuh. Kita berharap impor dihentikan. Tidak perlu lagi udang dari luar," tegasnya.
Menurut Atjo, jika impor udang berlangsung dalam waktu panjang, tekanan bukan hanya dirasakan petambak, tetapi juga dapat merembet ke sektor hulu, tenaga kerja, industri pengolahan, hingga perekonomian masyarakat pesisir.
Masalah lainnya terletak pada penyerapan produksi dan harga di tingkat tambak. Ketika industri pengolahan memperoleh alternatif bahan baku dari luar negeri, petambak dalam negeri khawatir posisi tawarnya ikut melemah.
Baca juga : Zulhas: PSN Tambak Udang Waingapu Hasilkan 52 Ribu Ton, Serap 7.000 Pekerja
Harga panen menjadi sangat menentukan karena petambak tetap harus menanggung biaya pakan, benur, listrik, bahan bakar, tenaga kerja, serta pemeliharaan tambak.
"Kita sulit bersaing dengan negara lain karena bahan baku lebih mahal. Yang terpenting bagaimana HPP ditekan dan udang impor tidak masuk," tuturnya.
Hasanuddin Atjo berharap kebutuhan industri pengolahan domestik tetap dijaga agar mampu menyerap produksi petambak.
Dia juga berharap pemerintah mengambil peran dalam memperkuat industri udang nasional sehingga komoditas tersebut dapat kembali menjadi salah satu sumber devisa terbesar Indonesia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya