Dark/Light Mode

Kejar Energi Bersih 100 GWp, Indonesia Buka Peluang Investasi

Sabtu, 26 September 2026 13:49 WIB
Indonesia Solar Investment Forum 2026 membahas peluang investasi pengembangan energi surya 100 GWp di Konsulat Jenderal RI di New York, AS, Kamis (24/9/2026).
Indonesia Solar Investment Forum 2026 membahas peluang investasi pengembangan energi surya 100 GWp di Konsulat Jenderal RI di New York, AS, Kamis (24/9/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Ambisi Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) membuka peluang investasi baru bagi pemodal global. Pemerintah menyiapkan proyek, regulasi, dan skema pembiayaan untuk mempercepat pengembangan energi bersih.

Program pengembangan PLTS tersebut telah diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026. Tahap awal mencakup 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun ke depan.

Peluang investasi itu menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Solar Investment Forum 2026 yang digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tenggara Strategics, dan SANARA di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York, Kamis (24/9/2026), dalam rangkaian Climate Week New York.

Deputi Direktur IIPC New York Yoga Adhi Pratama mengatakan, target besar pengembangan energi surya perlu diterjemahkan menjadi proyek dengan profil risiko dan skema komersial yang jelas agar lebih mudah dinilai investor internasional.

"Ambisi besar energi surya Indonesia harus disajikan sebagai rangkaian peluang yang jelas, lengkap dengan profil risiko dan skema komersial yang dapat diukur oleh investor," ujar Yoga.

Menurutnya, promosi investasi dapat mempertemukan investor internasional dengan pengembang proyek dan lembaga terkait. Dengan demikian, ketertarikan awal dapat berkembang menjadi keputusan investasi.

Baca juga : Perekonomian Terjaga, Investasi Kian Moncer

Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan, target 100 GWp membutuhkan pendekatan portofolio yang mencakup berbagai model pengembangan. Mulai dari pembangkit skala besar di atas tanah, PLTS terapung di waduk, PLTS atap komersial, hingga sistem kelistrikan untuk wilayah pedesaan.

"Target 100 GWp adalah mandat kerja langsung, dan peluang bagi investor sudah terbuka saat ini," kata Mada.

Sejumlah proyek telah disiapkan untuk mendukung agenda tersebut. Di antaranya program Mentari 1 dan Mentari 2 dengan kapasitas sekitar 2,7 GWp serta tender elektrifikasi pedesaan yang ditargetkan menjangkau lebih dari 600 desa pada 2027.

Mada mengatakan, AESI juga mendorong penyederhanaan akses masyarakat terhadap energi surya melalui skema tagihan tunggal atau single billing melalui PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Skema tersebut diharapkan memperluas akses energi surya bagi gedung pemerintah, sektor komersial, dan rumah tangga.

Selain kesiapan proyek, kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menarik investasi. AESI mendorong percepatan penyelesaian Peraturan Presiden mengenai energi surya yang saat ini masih dalam proses harmonisasi antar kementerian.

Regulasi tersebut diharapkan memberikan kejelasan mengenai segmen pengembangan energi surya, jadwal proyek, kepastian pembeli listrik, serta ketentuan komponen dalam negeri.

Baca juga : Kombes F Dipatsus Propam, Terkait Dugaan Penipuan Investasi Rp 58,5

AESI juga mendorong tersedianya daftar proyek yang transparan dan memiliki jadwal jangka panjang. Dengan begitu, investor dapat mengetahui proyek yang akan ditenderkan serta target operasi komersialnya.

Untuk PLTS atap, AESI mengusulkan mekanisme kuota yang lebih adaptif berdasarkan kapasitas jaringan listrik. AESI juga mendorong aturan khusus untuk sistem surya yang terintegrasi dengan penyimpanan energi baterai.

Mada mengatakan, kepastian waktu dalam proses persetujuan juga diperlukan untuk menjaga momentum investasi. AESI mengusulkan proses kuota selama tiga bulan untuk sistem di bawah 500 kilowatt peak (kWp) dan enam bulan untuk sistem yang lebih besar.

Dari sisi pembiayaan, pengembangan 100 GWp membutuhkan kombinasi sumber dana, mulai dari pembiayaan publik dan pembangunan domestik, pengembang independen, hingga modal internasional.

Kerja sama internasional diarahkan antara lain untuk memperkuat rantai pasok melalui transfer teknologi produksi sel surya, inverter, dan sistem baterai di dalam negeri. Lembaga pembiayaan pembangunan juga diharapkan membantu meningkatkan standar kesiapan proyek dan tata kelola agar memenuhi standar pembiayaan internasional.

Instrumen mitigasi risiko seperti jaminan, peningkatan kredit, dan perlindungan nilai tukar juga dinilai penting untuk memobilisasi modal swasta. Pengembangan mekanisme pembelian listrik energi terbarukan oleh perusahaan multinasional dinilai dapat membuka sumber permintaan baru.

Baca juga : Jelang 2 Tahun Prabowo-Gibran, Ekonomi On The Track

Direktur IIPC New York Tessal Febrian mengatakan, Pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung investasi, termasuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 yang ditujukan untuk menyederhanakan perizinan berusaha, mempercepat pengembangan industri, dan meningkatkan layanan investor.

"Indonesia juga menyediakan insentif fiskal untuk mendukung investasi hijau, seperti tax allowance, pembebasan bea masuk, dan super tax deduction," ujar Tessal.

Sementara itu, Wakil Presiden US-ASEAN Business Council Mario Masaya mengatakan, peluang investasi energi surya Indonesia mencakup teknologi, infrastruktur, dan jasa pendukung.

Menurutnya, kejelasan kebijakan dan dialog antara Pemerintah dengan pelaku usaha penting untuk mempertemukan perusahaan dengan mitra lokal.

Forum tersebut juga dilengkapi sesi konsultasi bisnis antara investor dengan AESI dan IIPC New York. Pertemuan diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan proyek dengan calon pemodal, penyedia teknologi, pengembang, dan lembaga keuangan.

Melalui penguatan regulasi, kesiapan proyek, skema pembiayaan, dan konektivitas dengan investor global, pengembangan 100 GWp energi surya diarahkan tidak hanya menambah kapasitas energi terbarukan, tetapi juga memperkuat ekosistem industri surya di dalam negeri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.