Dark/Light Mode

Kadin Minta Pemerintah Prioritaskan Pasokan Gas Untuk Industri

Selasa, 13 Oktober 2026 11:47 WIB
Saleh Husin. (Foto: Ist)
Saleh Husin. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah mengevaluasi prioritas pemanfaatan gas bumi nasional untuk menjamin kepastian pasokan dan harga energi bagi industri dalam negeri. Ketidakpastian pasokan gas dinilai dapat menghambat produksi, menunda investasi, serta mengancam penciptaan lapangan kerja.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, persoalan pasokan dan harga gas industri merupakan masalah klasik yang telah berlangsung bertahun-tahun dan belum terselesaikan secara menyeluruh. Menurut dia, pemerintah perlu segera menangani dua persoalan mendasar, yakni kepastian ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga gas bagi industri nasional.

Saleh meminta, pemerintah mempertimbangkan pemanfaatan sebagian volume gas yang selama ini diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, sepanjang tetap memperhitungkan ketentuan kontrak, harga, dan regulasi yang berlaku. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar kebijakan gas industri berjalan efektif dan tidak terhambat kepentingan sektoral.

“Hal terpenting bukan hanya menarik investor baru, melainkan juga merawat industri yang sudah beroperasi di dalam negeri,” ujar Saleh dikutip, Selasa (13/10/2026).

Baca juga : Bamsoet Dorong Kolaborasi Danantara, BUMN, dan Swasta Capai Target Ekonomi 8%

Ia mengingatkan ketidakpastian pasokan energi berisiko mendorong investor mengalihkan rencana penanaman modal ke negara lain. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam peluang investasi baru, tetapi juga mengurangi kesempatan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Kadin turut mengusulkan penguatan mekanisme pengawasan, termasuk kemungkinan pembentukan badan khusus untuk menangani kebutuhan gas industri.

Dampak ketidakpastian pasokan gas antara lain dirasakan industri keramik. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mencatat sekitar 1.500 pekerja telah terdampak, sementara rencana ekspansi industri senilai Rp 12 triliun terancam tertunda.

Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan, pelaku industri keramik membutuhkan kepastian pasokan dan harga gas agar dapat mempertahankan daya saing serta meningkatkan produksi.

Baca juga : Impor Makin Deras, Kadin Minta Menperin Baru Perkuat Industri RI

Menurut Edy, industri sebelumnya menyambut positif Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 281.K/2026 yang diharapkan memberikan kepastian pasokan sekaligus menjaga harga gas tetap terjangkau. Namun, implementasi kebijakan tersebut dinilai belum berjalan maksimal.

ASAKI memperkirakan harga gas rata-rata dapat berada pada kisaran 8–8,5 dolar AS per juta British thermal unit (MMBTU) melalui kombinasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan biaya regasifikasi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Namun, pembatasan pasokan yang kembali terjadi sejak pertengahan September 2026 membuat industri keramik hanya dapat memanfaatkan gas dengan harga HGBT untuk sekitar 40 persen dari total kebutuhannya. Akibatnya, harga gas rata-rata yang ditanggung industri keramik di wilayah Jawa bagian barat mencapai sekitar 12 dolar AS per MMBTU, sedangkan di wilayah timur berkisar 9 dolar AS per MMBTU.

Harga tersebut menambah tekanan terhadap daya saing industri, terutama karena harga gas di Malaysia dan Thailand disebut berada pada kisaran 9–9,5 dolar AS per MMBTU.

Baca juga : Kadin Dorong Perlindungan Industri Lewat TKDN Hingga Safeguard

Keterbatasan pasokan juga berpotensi menekan utilisasi produksi industri keramik. Setelah mencapai sekitar 75 persen pada Januari–Agustus 2026, utilisasi diperkirakan turun di bawah 70 persen pada Oktober dan berpotensi merosot hingga sekitar 60 persen pada November–Desember jika kondisi berlanjut.

Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan juga meminta pemerintah mengevaluasi dan mencabut pembatasan pasokan yang mengganggu operasional perusahaan serta pemenuhan pesanan pelanggan. Bagi pelaku usaha, kepastian pasokan gas menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan produksi, memperkuat daya saing manufaktur, serta mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.