Dark/Light Mode

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Andalkan Ikan Sidat untuk Formulasi Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 20:50 WIB
Foto: Bumi Wijaya.
Foto: Bumi Wijaya.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kandungan omega-3, protein, vitamin, dan mineral membuat ikan sidat dilirik sebagai bahan pangan bernilai tambah.

Potensi nutrisi tersebut menjadi salah satu alasan CV Bumi Wijaya memilih sidat sebagai bahan dalam formulasi Gizidat, produk yang memadukan madu, temulawak, dan ikan sidat.

Bumi Wijaya merupakan manufaktur jamu lokal yang beroperasi di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.

Perusahaan ini melihat profil nutrisi sidat sebagai salah satu keunggulan yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan produk.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa ikan sidat memiliki kandungan asam lemak omega-3, khususnya DHA dan EPA.

Berdasarkan data yang disampaikan BRIN, kandungan omega-3 sidat disebut lebih tinggi dibandingkan salmon dan ikan gabus.

Sidat juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor. DHA (docosahexaenoic acid) merupakan jenis asam lemak omega-3 yang berperan dalam perkembangan dan fungsi otak.

Sementara itu, EPA (eicosapentaenoic acid) berkaitan dengan sejumlah fungsi tubuh, termasuk proses peradangan dan kesehatan jantung.

Potensi nutrisi sidat juga menarik perhatian kalangan akademisi. Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, yang memiliki kepakaran di bidang gizi medik, pengembangan makanan fungsional, dan nutrasetikal, telah meneliti pemanfaatan sidat dalam pengembangan pangan fungsional.

Baca juga : Pastikan Kandungan DHA, Champion Dukung Kebutuhan Nutrisi Anak Sekolah

Salah satu risetnya mengembangkan makanan tambahan berupa biskuit berbahan ikan sidat dan ubi Cilembu untuk balita berusia 3–5 tahun dengan kondisi gizi kurang di Kabupaten Sumedang.

Penelitian lain di Universitas Padjadjaran juga menguji pemberian kukis berbahan ikan sidat Indonesia (Anguilla spp.) kepada balita usia 12–24 bulan, dengan Dewi Marhaeni sebagai salah satu pembimbing penelitian.

Riset mengenai pemanfaatan sidat terus berkembang. Data Science and Technology Index (SINTA) mencatat Dewi Marhaeni pada 2025 memimpin penelitian pengembangan asam lemak omega-3 dari minyak limbah ikan sidat (Anguilla bicolor) sebagai suplemen bagi penderita diabetes melitus.

Potensi nutrisi tersebut turut menjadi pertimbangan Bumi Wijaya dalam mengembangkan Gizidat.

APJ Bumi Wijaya, Muji Widodo mengatakan, sidat dipilih karena kandungan gizinya tidak terbatas pada protein dan lemak, tetapi juga mencakup mikronutrien.

“Yang paling utama ada tiga kandungan di ikan sidat, yaitu protein, lemak, dan mikronutrien,” kata Muji saat ditemui reporter SerayuNews, Sabtu, 26 September 2026.

Menurut Muji, keberadaan mikronutrien menjadi salah satu keunggulan yang dipertimbangkan dalam pemilihan bahan baku.

“Mikronutrien ini termasuk vitamin dan lain-lain, seperti vitamin A dan vitamin D,” ujarnya.

Penjelasan tersebut sejalan dengan paparan BRIN mengenai kandungan gizi sidat. Selain omega-3, ikan ini memiliki sejumlah zat gizi lain, mulai dari vitamin A dan vitamin B kompleks hingga zat besi, protein, dan fosfor.

Baca juga : Produk Herbal Indonesia Tetap Perkasa Di Tengah Gempuran Barang China

Bagi Bumi Wijaya, profil nutrisi tersebut menjadi salah satu pembeda sidat dari jenis ikan lain yang dapat digunakan dalam pengembangan produk.

“Kalau ikan lain mungkin cukup tinggi di protein dan lemak. Di sidat ini ada mikronutriennya juga. Jadi kita pilih ikan sidat karena kandungannya cukup lengkap,” kata Muji.

Dalam formulasi Gizidat, ikan sidat dipadukan dengan madu dan temulawak. Muji menjelaskan, madu dipilih sebagai basis formulasi dengan mempertimbangkan karakter rasa yang dapat diterima anak.

Sementara itu, temulawak digunakan karena secara tradisional dikenal untuk membantu memelihara nafsu makan. Ikan sidat ditempatkan sebagai komponen pendukung nutrisi dalam formulasi tersebut.

“Ikan sidat ini di Gizidat digunakan sebagai nutrition support. Tiga kombinasi ini yang kami formulasikan di Gizidat,” ujarnya.

Melalui formulasi tersebut, Bumi Wijaya berupaya memanfaatkan potensi nutrisi sidat sebagai bagian dari pengembangan produk bernilai tambah berbahan baku lokal.

Meski memiliki profil nutrisi yang beragam, kandungan gizi bahan baku tidak otomatis bertahan sepenuhnya setelah melalui proses pengolahan.

Suhu dan metode produksi menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas nutrisi.

Muji mengatakan, pengendalian suhu merupakan salah satu aspek penting dalam proses produksi Gizidat, khususnya saat mengolah bahan baku ikan sidat.

Baca juga : Nutrisi Esensial Optimalkan Tumbuh Kembang Si Kecil

“Yang paling utama terkait proses pemanasan atau suhu. Suhu pada proses pengolahan ikan sidat sangat menentukan apakah nutrisinya masih terjaga atau tidak,” tuturnya. 

Menurut dia, protein, lemak, maupun sejumlah mikronutrien dapat mengalami perubahan atau degradasi akibat proses pengolahan tertentu.

Karena itu, pengendalian suhu menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pemrosesan bahan baku sidat.

Pemanfaatan sidat kini juga tidak terbatas pada konsumsi sebagai ikan segar. Berbagai penelitian telah mengeksplorasi penggunaannya sebagai bahan biskuit, kukis, dan makanan fungsional, hingga pengembangan minyak sidat sebagai sumber omega-3.

Berbagai pengembangan tersebut menunjukkan potensi sidat untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernilai tambah.

Bagi Bumi Wijaya, potensi itu menjadi pertimbangan dalam memilih sidat sebagai salah satu komponen Gizidat.

“Memanfaatkan profil nutrisi sidat dan memadukannya dengan madu serta temulawak dalam satu formulasi,” tutup Muji. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.