Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Usung Inovasi dan Konservasi, Pertama JAPFA Grup Sukses Reproduksi Sidat Tropis
Senin, 19 Agustus 2024 16:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Aquaculture Research Center (ARC), fasilitas mutakhir yang didirikan PT Suri Tani Pemuka, anak usaha JAPFA, mencatatkan momen bersejarah di bidang budidaya perairan.
ARC sukses dalam langkah awal mereproduksi sidat tropis bernilai tinggi, anguilla bicolor.
Inovasi ini merupakan pencapaian pertama di dunia, yang menandai kemajuan besar dalam pengelolaan populasi sidat yang berkelanjutan, yang berdampak positif baik itu bagi budidaya komersial maupun konservasi sidat.
Berlokasi di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, ARC dikenal dengan riset dan pengembangannya di bidang budidaya perairan, berkolaborasi dengan institusi internasional terkemuka seperti Higher Institution Centres of Excellence, Borneo Marine Research Institute of Universiti Malaysia Sabah (UMS) dan Universitas Kindai.
Sidat tropis dianggap sebagai spesies bernilai tinggi karena permintaannya yang sangat besar di pasar kuliner di Asia dan dunia.
Sidat ini sangat diminati karena rasanya yang lezat dan kandungan nutrisinya yang tinggi, menjadikannya pilihan untuk hidangan premium.
Keberhasilan dalam langkah awal reproduksi sidat tropis ini tidak hanya menjadi pencapaian penting dalam budidaya perairan.
Baca juga : Dukung Ketahanan Energi, Petronas Genjot Produksi Di Berbagai Wilayah Kerja
Hal ini menunjukkan komitmen JAPFA terhadap keberlanjutan dalam produksi pangan, membuka jalan bagi inovasi-inovasi lainnya di industri ini.
Seiring dengan populasi sidat yang kian menurun secara global, menemukan cara untuk membiakkan sidat menjadi hal yang sangat penting untuk upaya konservasi dan tujuan komersil.
Siklus hidup sidat yang kompleks dan misterius membuat reproduksi sidat dalam penangkaran menjadi tantangan besar.
Sidat melakukan perjalanan ribuan kilometer dari sungai air tawar ke laut dalam, sehingga kondisi reproduksi mereka sangat sulit untuk ditiru di luar habitat aslinya.
Tim peneliti ARC bersama dengan Prof. Dr. Senoo Shigeharu berhasil mengatasi tantangan ini dan menemukan langkah pertama dalam reproduksi sidat tropis di tempat penangkaran.
Dengan memanfaatkan teknologi akuakultur yang canggih dan metode pemeliharaan yang dikembangkan oleh ARC, tim berhasil menetaskan 70 ribu larva, dengan keberhasilan pemeliharaan larva selama 11 hari.
Hal ini menunjukkan adanya potensi untuk memproduksi sidat tropis dalam skala besar di penangkaran.
Baca juga : Konser Musik Pertamina Kilau Srikandi Nusantara Dukung lndustri Kreatif
“Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya kami untuk mengelola populasi sidat secara berkelanjutan, karena untuk pertama kalinya kami berhasil menetaskan sidat tropis di lingkungan yang terkendali,” kata Direktur Utama PT Suri Tani Pemuka (STP), Ardi Budiono dalam kterangannya, Senin (19/8/2024).
Ardi optimis, mampu mereproduksi sidat di penangkaran akan berdampak signifikan pada industri akuakultur, tidak hanya di Asia namun juga secara global.
“Untuk memastikan keberlanjutan sidat tropis, STP akan terus menerapkan praktik budidaya sidat yang berkelanjutan, melakukan berbagai penelitian, dan terus mendukung peningkatan populasi sidat di habitat alami mereka," ujar Ardi.
Menurutnya hal ini sebagai bagian dari komitmen kami terhadap budidaya perairan yang berkelanjutan.
Keberhasilan langkah pertama reproduksi sidat tropis dalam penangkaran ini tidak hanya menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi akuakultur.
Namun juga memberikan harapan baru bagi konservasi sidat tropis, Anguilla bicolor.
Dengan mengurangi ketergantungan pada penangkapan di alam liar, penelitian ini dapat berkontribusi pada konservasi populasi sidat tropis sekaligus memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat.
Baca juga : Konsolidasi Kepemudaan, BePro Jakarta Siap Sukseskan Silatnas Bersama Prabowo
Terobosan ini mendukung praktik akuakultur berkelanjutan yang bisa melindungi populasi sidat alami dari penangkapan berlebihan.
Presiden Direktur PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk. Renaldo Santosa menuturkan, JAPFA secara konsisten menggunakan bibit dan metodologi budidaya yang tepat untuk memastikan efisiensi produksi protein hewani yang terjangkau dalam skala besar di iklim tropis.
Terobosan dalam pembiakan sidat tropis ini sejalan dengan komitmen JAPFA terhadap produksi pangan yang efisien dan berkelanjutan di seluruh portofolio produk protein yang beragam.
"Kami melihat peluang untuk menerapkan prinsip-prinsip budidaya peternakan pada budidaya perairan dan budidaya sidat untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada glass eel yang ditangkap di alam liar," ujar Renaldo.
Direktur Eksekutif JAPFA Grup ini menyebut, dengan membudidayakan sidat tropis di penangkaran, pihaknya terus menjaga kelangsungan hidup populasi sidat liar, serta berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem.
“Keberhasilan ini merupakan bukti kekuatan visi, ketekunan dan inovasi, kolaborasi industri dan akademisi dalam mengatasi tantangan produksi pangan yang berkelanjutan," pungkas Renaldo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya