Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Man City Vs Brighton, Ancaman Produktivitas The Seagulls
- Rupiah Menguat Ke Rp 18.123, Ini Sentimen Pendorongnya
- OMC Berhasil Tekan Titik Panas Karhutla di Papua Selatan
- Chelsea vs Man United, Ujian Terakhir Michael Carrick
- Pramono Minta Bina Marga Kebut Perbaikan Jalan Gelap dan Bergelombang Rawamangun
IVES 2026 Dorong Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event
Jumat, 30 Oktober 2026 19:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Industri event tidak lagi cukup dinilai dari suksesnya penyelenggaraan atau jumlah pengunjung.
Kontribusi ekonomi, peluang usaha, kolaborasi bisnis, hingga dampak yang dirasakan masyarakat dan wilayah sekitar juga perlu diukur secara lebih terstruktur.
Perspektif tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026 melalui pendekatan Experience/Event Economic Calculator (EEC).
IVES 2026 akan berlangsung pada 17–19 November 2026 di J-Club dan Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Melalui EEC, pelaku industri, pemerintah, dan sektor swasta didorong untuk melihat kontribusi ekonomi sebuah event secara lebih menyeluruh sekaligus membahas cara mengoptimalkan manfaatnya.
Pengukuran dampak ekonomi dinilai semakin relevan seiring berkembangnya industri event yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari hiburan, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga jasa produksi dan penyelenggaraan acara.
Pendekatan yang lebih terstruktur diharapkan membantu pemangku kepentingan memahami nilai sebuah event, tidak hanya berdasarkan jumlah pengunjung atau pendapatan tiket.
Baca juga : Guru Besar UI Ungkap Dampak Ekonomi dan Sosial Konser Andrea Bocelli
“Melalui EEC, kami ingin membantu pelaku industri mengukur dampak ekonomi sekaligus nilai pengalaman yang dihasilkan sebuah event. Pengukuran ini menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan menunjukkan kontribusi nyata industri,” ujar CEO Konect, Aryo Febrian Moedanton.
Mengusung tema “From Invisible to Indispensable” dan tagline “Make It Count”, IVES 2026 mengajak pelaku industri melihat lebih jauh dari sekadar keberhasilan penyelenggaraan acara.
Nilai sebuah event juga tercermin dari aktivitas ekonomi yang bergerak, peluang bisnis yang tercipta, serta dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Selain pengukuran dampak ekonomi, pengembangan industri event membutuhkan strategi untuk menjaga relevansi dan nilai dalam jangka panjang.
Head of Marketing & Promotion Musica, Chandra Samhari menilai, industri musik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas sesaat dalam mengembangkan sebuah karya atau kekayaan intelektual (intellectual property/IP).
“Dalam industri musik, sebuah karya atau IP tidak cukup hanya populer sesaat. Dibutuhkan identitas yang kuat, strategi pengembangan yang konsisten, dan kemampuan membangun hubungan dengan audiens agar relevansinya terus terjaga. Tantangannya bukan hanya menciptakan momentum, tetapi mengubah momentum tersebut menjadi nilai yang bertahan dalam jangka panjang,” kata Chandra di Hotel Grand Sahid Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Di sisi lain, nilai sebuah event juga ditentukan oleh kualitas pelaksanaan dan kesiapan operasional.
Baca juga : Kontrak Berakhir, InJourney Harap MotoGP di Mandalika Lanjut
Ketua Presidium API Reza Pamungkas menegaskan, tingginya minat penonton yang tercermin dari tiket terjual habis tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah pertunjukan.
“Tiket sold out bukan jaminan pertunjukan siap berjalan. Kesiapan teknis, produksi, dan koordinasi tim menjadi kunci untuk memastikan pengalaman yang dijanjikan kepada audiens benar-benar terwujud,” ujarnya.
Tantangan menjaga kualitas penyelenggaraan juga dihadapi industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions).
Di tengah tekanan anggaran, pelaku industri dituntut mempertahankan kualitas sekaligus memastikan penggunaan sumber daya berlangsung efektif dan efisien.
“Tantangan industri MICE bukan hanya tumbuh di tengah tekanan anggaran, tetapi bagaimana menjaga kualitas dan tetap memberikan nilai melalui strategi yang efektif dan efisien,” jelas General Manager Grand Sahid Jaya, Herman Courbois.
IVES 2026 akan menghadirkan lebih dari 40 sesi dengan melibatkan lebih dari 70 pembicara dan moderator.
Acara ini juga menargetkan lebih dari 240 pertemuan melalui program speed networking untuk memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi antarpelaku industri.
Baca juga : MotoGP Mandalika Hasilkan Dampak Ekonomi 5,2 Triliun
Rangkaian kegiatan akan berlangsung melalui tiga panggung utama, yaitu The Industry, The Business, dan The Engine Room.
Ketiganya menghadirkan perspektif berbeda mengenai perkembangan industri, strategi bisnis, serta aspek teknis penyelenggaraan event.
Penyelenggaraan IVES 2026 turut didukung enam asosiasi industri event, yakni APMI, Backstagers, Event Owner, IMARINDO, IVENDO, dan Rental Indonesia.
Keterlibatan berbagai asosiasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman dan sudut pandang para pelaku industri untuk memperkuat ekosistem event nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya