Dark/Light Mode

Astra Kantongi Laba Rp 24,6 Triliun, Otomotif dan Jasa Keuangan Tumbuh

Minggu, 1 November 2026 12:08 WIB
Foto: Astra.
Foto: Astra.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Astra International Tbk (Astra) mencatat kinerja yang relatif stabil sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dengan pendapatan bersih konsolidasian mencapai Rp 243,9 triliun.

Pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi penopang utama, di tengah tantangan yang masih membayangi sektor solusi pertambangan dan alat berat.

Hingga akhir September 2026, laba bersih Astra di luar pos nonberulang (non-recurring items) mencapai Rp 24,6 triliun, turun sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih per saham di luar pos nonberulang meningkat 1 persen menjadi Rp 616.

Adapun setelah memperhitungkan pos nonberulang, laba bersih Astra tercatat sebesar Rp 21,6 triliun atau turun 12 persen secara tahunan. Penurunan ini terutama dipengaruhi penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas.

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan, kinerja perusahaan selama sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan dunia usaha.

"Astra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp 24,6 triliun (turun 12 persen jika memperhitungkan non-recurring items). Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat," ujar Rudy dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, perbaikan kinerja mulai terlihat pada kuartal III seiring meningkatnya aktivitas kontrak pertambangan, kembali beroperasinya tambang emas Martabe, serta pertumbuhan bisnis otomotif.

"Dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, kinerja pada kuartal ketiga membaik, terutama ditunjang oleh peningkatan volume kontrak pertambangan, dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe, serta bisnis Otomotif yang tetap bertumbuh. Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat," katanya.

Otomotif dan Jasa Keuangan Jadi Penopang

Bisnis otomotif tetap menjadi kontributor laba terbesar Astra sepanjang Januari-September 2026. Laba bersih sektor ini meningkat 8 persen menjadi Rp 9,8 triliun, dibandingkan Rp 9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan volume penjualan kendaraan serta kontribusi yang semakin kuat dari bisnis komponen otomotif.

Di pasar sepeda motor, penjualan nasional tumbuh 4 persen menjadi sekitar 5 juta unit. Pada periode yang sama, penjualan sepeda motor Honda meningkat 3 persen dengan pangsa pasar tetap terjaga sebesar 77 persen.

Kinerja positif juga terlihat pada pasar kendaraan roda empat. Penjualan mobil nasional meningkat 21 persen menjadi 679.000 unit sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Baca juga : OJK dan SRO Bahas Transformasi Pasar Modal

Sementara itu, penjualan mobil Grup Astra tumbuh 13 persen. Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar otomotif Indonesia, dengan total pangsa pasar mobil Astra mencapai 49 persen.

Selain penjualan kendaraan, bisnis komponen juga memberikan kontribusi positif. Laba bersih divisi komponen Astra meningkat 15 persen menjadi Rp 1,4 triliun seiring perbaikan kinerja di seluruh segmen usaha.

Pertumbuhan juga terjadi pada bisnis jasa keuangan. Sepanjang Januari-September 2026, laba bersih sektor ini meningkat 6 persen menjadi Rp 7,2 triliun.

Kinerja tersebut antara lain ditopang pertumbuhan pembiayaan konsumen, baik untuk kendaraan baru maupun pembiayaan berulang.

Nilai pembiayaan baru Grup Astra meningkat 8 persen menjadi Rp 92,5 triliun. Sementara itu, piutang pembiayaan bersih mencapai Rp 132 triliun atau naik 6 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.

Bisnis pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp 3,6 triliun, meningkat 4 persen secara tahunan. Adapun kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil tumbuh 6 persen menjadi Rp 1,9 triliun.

Kinerja perusahaan asuransi Grup Astra juga menunjukkan pertumbuhan. Kontribusi laba bersih sektor asuransi meningkat 9 persen menjadi Rp 1,4 triliun, didukung kenaikan pendapatan operasional dan hasil investasi.

Aktivitas Pertambangan Mulai Pulih

Di tengah pertumbuhan otomotif dan jasa keuangan, bisnis solusi pertambangan dan alat berat Astra masih menghadapi tantangan akibat perubahan kondisi industri.

Laba bersih sektor ini, di luar pos nonberulang, tercatat sebesar Rp 5,1 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026 atau turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut terutama disebabkan berkurangnya penjualan emas akibat penghentian sementara produksi tambang Martabe pada awal tahun.

Selain itu, penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara nasional turut memengaruhi permintaan alat berat, aktivitas jasa pertambangan, dan volume produksi batu bara.

Penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 3.000 unit, turun 17 persen secara tahunan. Volume pengupasan lapisan tanah pada bisnis jasa pertambangan mencapai 766 juta bank meter kubik atau turun 7 persen.

Sementara itu, penjualan batu bara mencapai 7,1 juta ton, turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga : Penjualan Tokcer, Laba Usaha Indofood Tembus Rp 20,8 T

Pada bisnis emas, volume penjualan tercatat 54.000 ons, jauh lebih rendah dibandingkan 178.000 ons pada sembilan bulan pertama 2025.

Meski demikian, pemulihan mulai terlihat setelah tambang emas Martabe kembali beroperasi pada kuartal II 2026.

Peningkatan aktivitas pertambangan tersebut turut mendorong perbaikan kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat pada kuartal III, yang mencatat pertumbuhan 15 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Di luar pos nonberulang, kinerja bisnis ini mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas operasional.

Namun, pos nonberulang sebesar Rp 2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel membuat laba bersih yang dilaporkan dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat menjadi Rp 2,9 triliun atau turun 59 persen secara tahunan.

Bisnis Lain Tumbuh, Astra Perkuat Pengelolaan Modal

Pertumbuhan positif juga datang dari lini bisnis Astra lainnya. Segmen Wider Businesses, yang mencakup sejumlah usaha di luar tiga bisnis utama, membukukan laba bersih di luar pos nonberulang sebesar Rp 2,6 triliun atau meningkat 36 persen.

Kinerja tersebut terutama ditopang pertumbuhan bisnis agribisnis seiring kenaikan harga komoditas dan produktivitas.

Bisnis properti juga memberikan kontribusi melalui platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.

Setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp 766 miliar, laba bersih yang dilaporkan dari segmen ini mencapai Rp 1,8 triliun, meningkat 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain menjaga pertumbuhan operasional, Astra terus menjalankan strategi pengelolaan modal melalui sejumlah aksi korporasi.

Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan program pembelian kembali saham (share buyback) dengan total nilai mencapai Rp 10 triliun. Astra juga masih menjalankan program pembelian kembali saham senilai Rp 8 triliun.

Langkah serupa dilakukan United Tractors dengan mengumumkan program pembelian kembali saham hingga Rp 2 triliun untuk periode Oktober-Desember 2026.

Sementara itu, Astra Agro Lestari mengumumkan program serupa dengan nilai maksimal Rp 400 miliar pada periode yang sama.

Baca juga : Produksi Panas Bumi PGE Cetak Rekor, Laba Bersih Naik 21,45 Persen

Astra juga tengah melaksanakan penawaran tender sukarela untuk meningkatkan kepemilikan sahamnya di Astra Otoparts.

Penawaran tersebut mencakup maksimal 4,95 persen saham Astra Otoparts dengan harga Rp 3.600 per saham dan nilai transaksi paling tinggi sekitar Rp 858 miliar.

Periode penawaran berlangsung mulai 13 Oktober hingga 11 November 2026. Apabila seluruh saham yang ditawarkan berhasil diperoleh, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen.

Rudy menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengelola modal secara disiplin dan mendukung pertumbuhan bisnis.

"Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp 10,0 triliun," ujarnya.

Dari sisi neraca, Astra mencatat kas bersih di luar anak perusahaan jasa keuangan sebesar Rp 1,8 triliun per 30 September 2026, dibandingkan Rp 7,2 triliun pada akhir Desember 2025.

Perubahan tersebut terutama berkaitan dengan akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam serta pelaksanaan pembelian kembali saham.

Sementara itu, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan tercatat Rp 66,7 triliun, meningkat dari Rp 64,9 triliun pada akhir 2025.

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 4 persen menjadi Rp 238,1 triliun. Nilai aset bersih per saham juga meningkat 5 persen menjadi Rp 5.999.

Memasuki kuartal terakhir 2026, Astra optimistis pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan, bersama pemulihan aktivitas pertambangan, dapat terus mendukung kinerja Grup.

"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif," tegas Rudy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.