Dark/Light Mode

Inflasi Oktober 2026 Tercatat 0,22 Persen, Dipicu Cabe Merah dan Cabe Rawit

Senin, 2 November 2026 13:13 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (3/11/2026). (Foto: YouTube BPS)
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (3/11/2026). (Foto: YouTube BPS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, inflasi pada bulan Oktober 2026 tercatat 0,22 persen secara month to month (m-to-m) dan 3,23 persen secara year on year (y-to-y). Sementara inflasi tahun kalender (Oktober 2026 terhadap Desember 2025), dibukukan dengan angka 2,40 persen. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan, semua komponen: inti, harga diatur pemerintah, dan bergejolak mengalami inflasi. Komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil inflasi 0,07 persen. Dalam kelompok komponen inti, tidak ada komoditas yang dominan memberikan andil inflasi.

Komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,09 persen dengan andil inflasi 0,02 persen. Dalam komponen ini, komoditas yang paling banyak berkontribusi terhadap inflasi adalah tarif angkutan udara. 

"Sedangkan komponen bergejolak mengalami inflasi 0,77 persen dengan andil inflasi terbesar 0,13 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah cabe merah, cabe rawit, tomat, sawi hijau, labu siam/jipang, dan sawi putih/pecay/pitsai," papar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11/2026).

Baca juga : Kementan Kembali Guyur 1,7 Ton Cabe Rawit Merah ke Pasar Induk Kramat Jati

Secara bulanan, penyumbang utama inflasi Oktober 2026 adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,15 persen. 

Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 dipicu oleh tiga kelompok pengeluaran. Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil inflasi 1,40 persen. Terutama cabe rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, dan daging ayam ras.

Kedua, kelompok transportasi dengan andil inflasi 0,59 persen. Terutama, bensin, tarif angkutan udara, dan pelumas/oli mesin. Ketiga, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi 0,32 persen. Terutama, pada komoditas emas perhiasan.

Faktor Inflasi Oktober 2026

Dalam kesempatan yang sama, Ateng juga menjelaskan tiga faktor yang mempengaruhi inflasi Oktober 2026. Pertama, produksi komoditas hortikultura. Dibanding September 2026, perkembangan produksi komoditas hortikultura pada Oktober 2026 menunjukkan dinamika yang beragam antarwilayah.

Baca juga : Beras, Cabe dan Politik

"Cabe merah mencatat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra, terutama Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi. Sebaliknya, peningkatan produksi terjadi di beberapa daerah, antara lain Aceh Tengah, Kulonprogo, dan Kerinci," jelas Ateng.

Menurutnya, cabe rawit juga mengalami penurunan produksi di beberapa daerah sentra, terutama Jember, Sampang, dan Brebes. Sementara peningkatan produksi tercatat di Situbondo, Lombok Timur, dan Aceh Tengah.

Kedua, tarif angkutan udara. Harga avtur pada Oktober 2026 tidak mengalami kenaikan dari harga periode September 2026. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memberlakukan batas maksimal fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar) kelas ekonomi penerbangan domestik sebesar 40 persen, mulai 1 Oktober 2026.

Ketiga, perkembangan harga emas di pasar internasional. "Pada Oktober 2026, harga emas kembali menurun dibanding September. Penurunan ini melanjutkan tren koreksi harga emas setelah mencapai puncaknya pada awal 2026," beber Ateng.

Baca juga : Jokowi Happy, Harga Cabe Dan Bawang Merah Di Pasar Danga Nagekeo NTT Bagus

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.