Dark/Light Mode

Ekonomi RI Tangguh Di Tengah Konflik Global

BPS Catat 99 Kabupaten/Kota Tumbuh Di Atas 6 Persen

Kamis, 5 November 2026 07:30 WIB
Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi. (Foto: Instagram/bps_statistics)
Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi. (Foto: Instagram/bps_statistics)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah indikator ekonomi pada Triwulan III-2026 memperlihatkan hasil positif. Aktivitas industri berada di zona yang ekspansif, transaksi masyarakat meningkat, inflasi terkendali, serta kinerja ekspor yang terus menguat. Bahkan, pertumbuhan ekonomi di 99 kabupaten/kota tercatat di atas 6 persen pada Semester I-2026.

Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi menilai, capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tantangan global.

"Selama Triwulan III-2026, ekonomi Indonesia kondisinya sangat baik, di tengah tantangan global dan geopolitik yang tidak mudah," kata Sonny kepada Rakyat Merdeka, Rabu (4/11/2026).

Dari sisi industri, aktivitas manufaktur global selama Triwulan III-2026 berada dalam fase ekspansi. Indonesia turut menjaga momentum tersebut melalui pengembangan industri manufaktur, termasuk pembangunan dan pengembangan kawasan industri.

Berdasarkan paparan BPS, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur global mencapai 53 pada September 2026. Sementara itu, PMI manufaktur Indonesia berdasarkan indikator Bank Indonesia tercatat 52,28 pada Triwulan III-2026. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi.

Selain industri, aktivitas transaksi masyarakat juga mengalami peningkatan. Sonny mencatat, transaksi masyarakat selama Triwulan III-2026 jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Baca juga : KPK Berpeluang Geledah Tempat-tempat Lainnya

"Jumlah transaksi QRIS pada Juli 2026 bahkan tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juli 2025," ungkapnya.

Sonny menilai, peningkatan transaksi digital tersebut menggambarkan aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak. Penggunaan pembayaran digital semakin luas dalam berbagai kegiatan konsumsi dan perdagangan.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi selama Triwulan III-2026 tetap terkendali di bawah 3,5 persen. Kondisi ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga komoditas global.

Data BPS mencatat, inflasi pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Pengendalian inflasi ini mampu menjaga daya beli masyarakat," ujar Sonny.

Indikator positif lainnya terlihat pada perkembangan industri otomotif. Penjualan mobil penumpang mengalami perbaikan tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga : Syaifullah Tamliha: Penyadapan Masih Numpang Di UU ITE

Sonny menjelaskan, pada Triwulan III-2025, pertumbuhan penjualan mobil penumpang mengalami kontraksi hingga minus 21,87 persen. "Namun, pada Triwulan III-2026, kinerjanya berbalik positif dengan pertumbuhan mencapai 25,95 persen," ucapnya.

Perbaikan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas perdagangan dan permintaan masyarakat terhadap kendaraan bermotor.

Sementara itu, sektor perdagangan luar negeri turut memberikan kontribusi positif. Kinerja ekspor Indonesia selama Triwulan III-2026 tumbuh 8,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kumulatif selama Juli-September 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 80,44 miliar dolar AS. Pada periode yang sama, nilai impor tercatat 73,74 miliar dolar AS. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus 6,70 miliar dolar AS.

Sonny menegaskan, ekspor memiliki arti penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, ekspor merupakan komponen penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ketiga setelah konsumsi rumah tangga dan investasi.

Di luar indikator nasional, Sonny juga menyoroti pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah. Dia mengungkapkan, selama Semester I-2026 atau periode Januari-Juni, terdapat 99 kabupaten/kota yang mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.

Baca juga : Gurnadi Ridwan: Penyadapan Wajib Izin Ke Pengadilan

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari kinerja seluruh daerah. Karena itu, pemerintah perlu memahami sumber pertumbuhan ekonomi setiap wilayah agar kebijakan yang disusun sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah.

"Bagaimanapun juga, pertumbuhan ekonomi nasional merupakan agregasi pertumbuhan ekonomi daerah. Kita akan terus dorong daerah-daerah tumbuh tinggi dengan memahami sumber pertumbuhan ekonomi mereka secara tepat dan membangun kebijakan ekosistem perekonomian yang tepat," jelasnya.

Sonny menilai, setiap daerah memiliki karakteristik dan sumber pertumbuhan ekonomi yang berbeda. Sejumlah wilayah dengan basis sumber daya alam dan aktivitas hilirisasi, misalnya, mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi melalui pengembangan pertambangan, smelter, serta industri turunannya.

Karena itu, pemetaan sumber pertumbuhan ekonomi daerah menjadi penting. Dengan memahami potensi masing-masing wilayah, kebijakan pembangunan dapat diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi dan menciptakan ekosistem usaha yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.