Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Wamenkeu ke Penerima Beasiswa LPDP: Saya Tunggu Kontribusi Anda
- Pakar Hukum: Bantahan Ferry Boboho Jadi Tantangan Berat bagi JPU
- ACFFEST 2026, KPK Ajak Masyarakat Melawan Korupsi Lewat Film
- Korlantas Polri: Informasi Pembuatan SIM Gratis 2026 Hoax!
- BRI Salurkan Tunjangan Profesi Guru Non-ASN Rp921,6 M kepada 507 Ribu Penerima
Dradjad Wibowo: Kita Yang Tahu Emiten, Hitung Sendiri
Investor Diminta Jangan Cuma Percaya MSCI Cs
Kamis, 5 November 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Investor pasar modal Indonesia diminta tidak hanya mengandalkan penilaian lembaga indeks internasional dalam mengambil keputusan investasi. Investor perlu mencermati data dan fundamental perekonomian nasional secara objektif agar dapat menentukan pilihan investasi secara lebih terukur.
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan, investor perlu melakukan analisis secara mandiri terhadap saham yang dimiliki. Termasuk saham-saham yang tergabung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut dia, penilaian lembaga indeks internasional seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI), FTSE Russell, maupun Bloomberg tetap perlu diperhatikan. Namun, penilaian tersebut sebaiknya menjadi salah satu referensi, bukan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
“Kita yang tahu emiten-emiten kita. Hitung sendiri. Karena ini uang teman-teman sendiri,” kata Dradjad, seperti dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Dradjad menuturkan, investor perlu memahami kondisi perusahaan yang sahamnya dimiliki, utamanya kinerja dan prospek bisnisnya. Dengan demikian, keputusan investasi tidak semata-mata mengikuti sentimen atau penilaian pihak eksternal yang berkembang di pasar.
Selain mendorong analisis mandiri, Dradjad menekankan pentingnya pembenahan pasar modal melalui peningkatan transparansi, penguatan tata kelola dan penegakan aturan.
Baca juga : Janji Pram Perbaiki Pasar Tampur Ditagih Pedagang
“Indonesia telah memiliki fondasi keterbukaan informasi yang perlu terus diperkuat, khususnya transparansi mengenai kepemilikan saham,” ungkap Dradjad.
Dia menjelaskan, Pemerintah juga terus menjalin komunikasi dengan lembaga indeks internasional dan pelaku pasar untuk mendorong perbaikan pasar modal.
Penguatan investor domestik turut menjadi perhatian. Menurut Dradjad, basis investor dalam negeri perlu didukung ekosistem investasi yang sehat, kepastian aturan, serta tata kelola yang baik.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuat pasar modal semakin kuat dalam mendukung pembiayaan dunia usaha dan perekonomian nasional.
Dradjad juga menyoroti pentingnya penyampaian informasi ekonomi berbasis data. Persepsi mengenai daya beli masyarakat, misalnya, perlu dicermati melalui perubahan pola konsumsi dan perkembangan berbagai sektor ekonomi secara menyeluruh.
Dengan informasi yang objektif dan mudah dipahami, masyarakat diharapkan dapat menilai kondisi perekonomian secara lebih proporsional.
Baca juga : King MU Mangsa Serigala
Selain itu, Dradjad menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi daerah sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi nasional. Pada semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen. Sebanyak 17 dari 38 provinsi mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata nasional. Dari jumlah tersebut, tujuh provinsi bahkan membukukan pertumbuhan lebih dari 6 persen.
Capaian itu menunjukkan adanya sumber pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah. Potensi itu perlu terus dikembangkan melalui penguatan sektor produktif, inovasi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.
Dradjad mengingatkan masyarakat tidak mudah mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Investor perlu memeriksa data dan memahami risiko sebelum menentukan pilihan investasi.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai, tekanan pada IHSG belakangan ini merupakan konsekuensi dari pembenahan besar-besaran di pasar modal domestik. Selain reformasi struktural, gejolak ekonomi global juga turut memengaruhi pergerakan indeks.
“Pergerakan pasar saham saat ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik dunia, tekanan inflasi, serta bayang-bayang suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer),” katanya di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Kendati IHSG mengalami tekanan, OJK memastikan fundamental pasar modal Indonesia tetap kokoh. Kinerja emiten pada kuartal II-2026 tumbuh positif, disertai tingginya minat korporasi untuk menghimpun dana melalui pasar modal.
Baca juga : Haas Rombak Pembalap Jelang GP Brazil, Camara Debut Di Kandang
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, realisasi penghimpunan dana di pasar modal telah menembus Rp 205,77 triliun. Capaian tersebut berasal dari tujuh penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), 20 penawaran umum terbatas, 11 emisi obligasi dan sukuk, serta 135 penawaran umum berkelanjutan.
Selain itu, masih terdapat 25 rencana penawaran umum dalam daftar antrean (pipeline) dengan nilai sekitar Rp 26 triliun. OJK optimistis, target penghimpunan dana sebesar Rp 250 triliun dapat tercapai hingga akhir 2026. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Kamis, 5 November 2026 dengan judul "Dradjad Wibowo: Kita Yang Tahu Emiten, Hitung Sendiri Investor Diminta Jangan Cuma Percaya MSCI Cs"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya