Dark/Light Mode

NPL 0,98 Persen Per September 2026

Kualitas Aset Mandiri Terjaga Sangat Baik

Kamis, 5 November 2026 06:40 WIB
Ilustrasi, gedung Bank Mandiri. (Foto: Dok. Mandiri)
Ilustrasi, gedung Bank Mandiri. (Foto: Dok. Mandiri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah ekspansi kredit perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mampu menjaga rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) bruto di level 0,98 persen per September 2026. Angka tersebut jauh di bawah NPL bruto industri perbankan nasional yang mencapai 2,11 persen per Agustus 2026 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

NPL bruto Bank Mandiri membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,03 persen. Capaian tersebut mencerminkan kualitas aset perseroan yang tetap terjaga di tengah pertumbuhan bisnis.

Pengamat Perbankan sekaligus Direktur pada Crypto Asset Clearing International Moch. Amin Nurdin menilai, kualitas aset Bank Mandiri hingga September 2026 masih sangat baik. “Selain NPL yang rendah, kondisi tersebut didukung pencadangan kuat dan beban risiko kredit yang relatif rendah,” kata Amin, kepada Rakyat Merdeka, Rabu (3/11/2026).

Menurut Amin, terdapat tiga indikator utama yang mencerminkan kekuatan kualitas aset emiten berkode saham BMRI ini. Pertama, NPL sebesar 0,98 persen menunjukkan kemampuan bank mengendalikan risiko kredit. Kedua, NPL Coverage Ratio mencapai 243 persen, mencerminkan kecukupan pencadangan untuk mengantisipasi potensi kerugian. Ketiga, Cost of Credit (CoC) sebesar 0,55 persen menunjukkan beban risiko kredit masih relatif rendah.

“Kombinasi indikator dari angka tersebut memberikan gambaran, bahwa fundamental kualitas aset Bank Mandiri cukup solid,” ujarnya.

Baca juga : Investor Diminta Jangan Cuma Percaya MSCI Cs

Amin juga melihat prospek Bank Mandiri masih positif berkat skala bisnis, diversifikasi portofolio, jaringan, serta kapasitas permodalan yang relatif kuat. Pertumbuhan kredit yang mencapai 17,6 persen secara tahunan hingga Agustus 2026 juga menunjukkan kemampuan intermediasi perseroan masih ekspansif.

Namun, tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset. Terlebih, ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi suku bunga, tekanan biaya usaha, dan daya beli masyarakat menuntut perbankan lebih selektif dalam menentukan sektor maupun debitur yang dibiayai.

Untuk itu, Amin mengingatkan Bank Mandiri agar memperkuat prinsip penyaluran kredit secara prudent, dengan memastikan ekspansi didasarkan pada fundamental usaha dan kemampuan membayar debitur. “Bukan semata-mata mengejar target pertumbuhan,” imbaunya.

Selain itu, perseroan juga perlu memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) dan pemantauan kualitas kredit, terutama pada sektor yang sensitif terhadap perubahan ekonomi. Diversifikasi portofolio dan kecukupan pencadangan juga harus dijaga untuk mengendalikan risiko konsentrasi kredit.

Dia juga menekankan pentingnya keseimbangan pertumbuhan kredit korporasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta konsumer dengan tetap mempertimbangkan profil risiko dan potensi imbal hasil masing-masing segmen.

Baca juga : Janji Pram Perbaiki Pasar Tampur Ditagih Pedagang

“Bank Mandiri memiliki modal fundamental yang cukup kuat untuk mempertahankan kualitas aset, sekaligus melanjutkan ekspansi bisnis,” tuturnya.

Menurut Amin, keberhasilan perbankan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan penyaluran kredit. Tetapi juga menjaga kualitas pertumbuhannya. Pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, imbuhnya, lebih penting dibandingkan ekspansi agresif yang berpotensi menimbulkan risiko kredit di kemudian hari.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita sebelumnya menyampaikan, kualitas aset tetap menjadi perhatian dalam setiap ekspansi kredit. Menurut Novita, pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin.

“Dengan pengelolaan tersebut, kami menjaga kualitas portofolio, agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha,” katanya, dalam paparan Kinerja Keuangan kuartal III-2026, Jumat (23/10/2026).

Selain kualitas aset, permodalan perseroan juga tetap terjaga. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank only tercatat sebesar 18,4 persen per September 2026. Posisi tersebut memberikan ruang bagi Bank Mandiri untuk mengembangkan bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Baca juga : King MU Mangsa Serigala

Dari sisi kinerja, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp 45,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi kredit berbasis ekosistem, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas bisnis yang terus membaik.

Sejalan dengan pertumbuhan kredit dan transaksi nasabah, pendapatan bunga hingga September 2026 meningkat 7,08 persen secara tahunan menjadi Rp 97,3 triliun. Sementara itu, pendapatan nonbunga tumbuh 13,8 persen menjadi Rp 29,4 triliun.

Novita menegaskan, fokus perseroan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan setiap ekspansi memberikan nilai tambah bagi nasabah, pelaku usaha, dan pemegang saham.

Dengan fundamental keuangan yang sehat serta layanan yang semakin terintegrasi, pihaknya optimistis Bank Mandiri dapat terus mendukung aktivitas ekonomi. “Serta memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” pungkas Novita. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.