Dark/Light Mode

Sistem Belanja Dulu, Bayar Kemudian Makin Diminati

BNI: Pay Later Bukan Pesaing Kartu Kredit

Rabu, 29 September 2021 06:50 WIB
Ilustrasi. (Foto: Istimewa).
Ilustrasi. (Foto: Istimewa).

 Sebelumnya 
“Hanya bagi pengguna Traveloka PayLater yang terpilih dengan limit tertentu. Yang ingin memanfaatkan fitur ini dapat melakukan aktivasi dulu lewat aplikasi Traveloka terbaru,” kata Caesar dalam keterangan resmi, Senin (13/9).

Seperti diketahui, sejauh ini, beberapa e-commerce cukup agresif menawarkan layanan pay later. Di antaranya, Shopee Pay­Later, LazPaylater (Lazada), Kre­divo, Akulaku, Gopay PayLater, OVO, dan Traveloka PayLater.

Sistem kerja pay later mem­punyai kemiripan dengan kartu kredit. Yakni, penggunanya da­pat berbelanja tanpa perlu mem­bayar terlebih dahulu. Pengguna diberikan limit dalam jumlah tertentu yang bisa digunakan untuk berbelanja. Namun, apa­bila konsumen melewatkan tanggal pembayaran, maka akan berdampak negatif pada skor kredit. Pembayaran yang jatuh tempo juga dapat diteruskan ke agen penagih utang (debt collector) apabila tidak segera dibayarkan.

Baca juga : Kembali Digelar, Bank Mandiri Harap WMM Lahirkan Wirausaha Tangguh Dan Kreatif

“Belum lagi apabila terda­pat kebijakan bunga atau biaya-biaya lain yang dihitung setiap kali transaksi. Ini bisa semakin memberatkan apabila transaksi pembelanjaan bertumpuk,” jelas pengamat dari Internet Develop­ment Institute Alfons Tanujaya di Jakarta, Selasa (14/9).

Karena itu, Alfons usul, nasa­bah pengguna layanan pay later diberikan edukasi. Terutama terkait risiko penggunaan pay later secara berlebihan. Tak hanya itu, pihak e-commerce, diharapkannya, tidak bertindak semena-mena terhadap peng­guna gagal bayar.

“Pihak e-commerce tak bisa sembarangan menggunakan data pribadi si pengguna, dengan me­nyebarkan atau mengkaitkan (utang) dengan kerabat si penggu­na. Perlindungan data pribadi tetap harus dilakukan,” tandasnya.

Baca juga : Octa Investama Berjangka dukung Kemeriahan Dirgahayu Indonesia Ke-76

Ia menyarankan kepada kon­sumen, agar tidak sembarangan mengajukan kredit atau kartu kredit maupun pinjaman pada lembaga yang tidak dikenal. Da­lam RISED (Research Institute of Socio-Economic Development) bertajuk Persepsi Pasar Indone­sia Terhadap Pemanfaatan Fitur Pembayaran Pay Later, disebut­kan, metode layanan pay later sebetulnya menjadi alternatif solusi pengelolaan keuangan bagi masyarakat. Serta tergolong aman dan mudah untuk pembiayaan aktivitas sehari-hari di masa pandemi.

Salama pandemi, penggunaan layanan pay later mengalami kenaikan. “Selain itu, jumlah produk kesehatan yang dibeli menggunakan layanan bayar nanti, justru naik lebih dari dua kali lipat saat pandemi dibanding sebelum pandemi,” jelas periset RISED Rumayya Batubara dalam keterangannya, Rabu (15/9).

Tidak hanya itu, terjadi peningkatan intensitas penggunaan layanan pay later sebelum dan selama pandemi. Peningkatan tersebut sebesar 22,52 persen bagi pengguna yang tergolong sangat sering. Dan sebesar 7,2 persen bagi pengguna yang tergolong sering menggunakan layanan pay later. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.