Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Talkshow Melacak Jejak Pangan Nusantara
Pakar Ungkap Potensi Protein Alternatif Dari Keragaman Pangan Lokal
Sabtu, 20 Desember 2025 22:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Komunitas Kompasiana Jakarta menyelenggarakan talkshow akademik bertajuk “Melacak Jejak Pangan Nusantara” yang mempertemukan para pakar lintas disiplin ilmu untuk membahas potensi besar pangan lokal Indonesia melalui pendekatan sains, budaya, dan keberlanjutan.
Diskusi ini digelar sebagai respons atas tantangan perubahan pola konsumsi masyarakat modern yang semakin bergeser ke pangan olahan dan kurang beragam secara nutrisi.
Salah satu fokus utama talkshow adalah pembahasan mengenai masa depan pangan dan pentingnya diversifikasi sumber protein nasional di luar pangan konvensional.
Baca juga : Pakar Ungkap Kerentanan Ekonomi Politik RI Di Tengah Persaingan Global
“Indonesia memiliki kekayaan sumber alam yang luar biasa sebagai sumber protein. Selain daging sapi atau ayam, kita memiliki potensi besar pada serangga seperti jangkrik dan belalang yang lebih efisien sebagai alternatif protein masa depan," ujar Dr. Ir. Dadan Hindayana saat ditemui di Menara Kompas, Jakarta Pusat, (18/12/2025).
Dr. Dadan juga mencontohkan praktik konsumsi ulat sagu di Papua sebagai bentuk kearifan lokal yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan pangan.
Dari sisi antropologi, Research Director CS-IFA, Repa Kustipia, menjelaskan, selera makan masyarakat dibentuk melalui proses budaya, sejarah, dan politik pangan yang panjang.
Baca juga : Menkop: Pembangunan KKMP Pakansari, Siap Jadi Contoh Koperasi Kelurahan Modern
Dari sisi riset, Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si., menekankan pentingnya inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pangan lokal.
"Selera makan bukanlah sesuatu yang alamiah semata, tetapi dibentuk melalui proses panjang yang melibatkan budaya, sejarah, hingga relasi kuasa dalam sistem pangan. Apa yang kita anggap ‘lazim’ atau ‘tidak lazim’ untuk dikonsumsi hari ini sangat dipengaruhi oleh narasi sosial dan kebijakan pangan di masa lalu,” jelas Repa Kustipia.
Sementara itu, dari sisi penguatan hulu melalui riset, Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si., Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, memaparkan peran krusial teknologi untuk mengoptimalkan sumber daya pangan lokal. Melalui inovasi riset seperti pemuliaan tanaman berbasis genomik, kualitas nutrisi dan ketahanan varietas lokal, seperti umbi-umbian dan rempah, terhadap perubahan iklim dapat ditingkatkan, sehingga menjadi komoditas yang kompetitif.
Baca juga : Pegadaian Kantor Wilayah IX Perkuat Komitmen Sosial Lewat Gerakan Pangan Murah
“Riset memiliki peran strategis untuk memastikan pangan lokal tidak hanya lestari, tetapi juga unggul secara kualitas dan adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Dengan pendekatan berbasis sains, pangan nusantara dapat naik kelas dan berkontribusi nyata pada ketahanan pangan nasional,” ujar Dwinita.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya