Dewan Pers

Dark/Light Mode

Gandeng Kementerian PPPA, BNPT Wujudkan Desa Ramah Perempuan Bebas Radikal Terorisme

Selasa, 19 April 2022 21:39 WIB
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar bersama Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Puspayoga menandatangani nota kesepahaman bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta penanggulangan terorisme, Selasa (19/4). (Foto: Humas BNPT)
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar bersama Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Puspayoga menandatangani nota kesepahaman bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta penanggulangan terorisme, Selasa (19/4). (Foto: Humas BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perempuan dan anak merupakan kelompok yang rentan terpapar ideologi radikal terorisme. Karena itu, langkah pencegahan sejak dini dari lingkungan terkecil perlu dilakukan untuk membendung narasi ideologi terorisme.

Salah satu bentuk pencegahan tersebut dapat dimulai dari level desa, yakni dengan menghadirkan program kolaborasi lintas lembaga terkait pemberdayaan perempuan dan anak yang mendukung upaya pencegahan terorisme.

Sebagai bagian dari upaya mengimplementasikan langkah tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyepakati kerja sama di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak serta penanggulangan terorisme.

Kerja sama ini diresmikan melalui penandatangan nota kesepahaman antara BNPT dan KemenPPA di Jakarta, Selasa (19/4). Penandatanganan dilakukan Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar bersama Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Puspayoga.

Boy Rafli menuturkan, BNPT menemukan beberapa kasus keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi terorisme. Sejauh ini, terdapat belasan perempuan yang terbilang kasus tindakan terorisme.

"Dalam beberapa catatan kami, ada sejumlah perempuan yang terlibat dalam kasus terorisme. Dalam catatan kami kurang lebih ada sekitar 14," ungkap Boy Rafli.

Salah satu perempuan yang terjerat dalam tindakan terorisme tersebut ialah Zakiah Aini yang melakukan penyerangan di Mabes Polri pada 3 Maret 2021 lalu.

Kasus lainnya yang cukup menggemparkan, melibatkan seorang ibu dan dua anak dalam aksi teror di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pada Mei 2018 lalu yang merupakan bagian dari rentetan aksi terorisme di Surabaya.

Bila menilik dari perspektif global yang berkembang, perempuan dan anak yang terlibat dalam aksi teror merupakan korban dari ideologi terorisme yang ditanamkan.

"Dunia hari ini melalui UN masih melihat perempuan dan anak sebagai korban, walaupun sudah direkrut (kelompok terorisme). Secara fakta memang jadi pelaku, tapi sesungguhnya perempuan dan anak adalah korban yang dilakukan oleh kaum pria dalam proses radikalisasi yang dijalankan kelompok terorisme," beber mantan Kadiv Humas Polri ini.

Senada dengan Kepala BNPT, Menteri Bintang melihat, keterlibatan perempuan dan anak dalam also terorisme ini dipicu kerentanan kelompok tersebut untuk terpapar ideologi teror, sehingga kemudian mereka menjadi pelaku sekaligus korban.

"Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan perempuan rentan dilibatkan dalam aksi terorisme. Seperti kita ketahui bersama, itu adalah budaya patriarki, ekonomi maupun akses informasi," ungkap Bintang Puspayoga.
 Selanjutnya 

Berita Lainnya