Dark/Light Mode

Terima Honorary Doctorate Dari Hiroshima University

AGK: Di Sektor Manufaktur, Kita Perlu Kerja Sama Dengan Jepang

Kamis, 26 September 2024 07:35 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri) berfoto bersama President Hiroshima University, Profesor Mitsuo Ochi, usai seremoni pemberian gelar Honorary Doctorate dari Hiroshima University di Kampus Higashi-Hiroshima, Jepang, Selasa (24/9/2024). (Foto: Istimewa)
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kiri) berfoto bersama President Hiroshima University, Profesor Mitsuo Ochi, usai seremoni pemberian gelar Honorary Doctorate dari Hiroshima University di Kampus Higashi-Hiroshima, Jepang, Selasa (24/9/2024). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) menerima gelar Honorary Doctorate dari Hiroshima University. Gelar tersebut diserahkan secara langsung oleh President Hiroshima University, Profesor Mitsuo Ochi, Selasa (24/9/2024) waktu Jepang. Agus menyampaikan, gelar Doktor Kehormatan dari sekolah bergengsi ini, merupakan suatu kehormatan yang tiada tandingannya. Dia juga bicara pentingnya kerja sama di sektor manufaktur dengan Jepang.

“Dengan sangat rendah hati dan penuh apresiasi, saya me­nyampaikan bahwa gelar yang diterima ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga atas nama orang-orang yang telah berkontribusi dalam perjalanan saya,” ucap Agus.

Baginya, gelar kehormatan ini menjadi pengingat, bahwa pengalaman dalam hidup tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga pertumbuhan pribadi dan pentingnyakontribusi ke­pada masyarakat.

“Pembelajaran berdasarkan pengalaman sebagai legislator, politisi, atau pejabat pemerintah telah memberi saya kapasitas untuk mengubah kehidupan,” ujar Agus.

Namun begitu, pemberian gelar ini memerlukan tanggung jawab untuk terus memberikan pengaruh positif, membantu orang lain, dan menjunjung prinsip-prinsip yang terkandung dalam gelar kehormatan ini, yaitu keingintahuan intelektual, kejujuran, dan dedikasi terhadap kebaikan yang lebih besar.

Baca juga : Indonesiasentris Dongkrak Perekonomian Di Luar Jawa

“Pencapaian kita tidak hanya ditentukan oleh gelar atau peng­hargaan, tapi juga dari kehidupan yang kita pengaruhi, individu yang kita berdayakan, dan wari­san yang kita bangun,” ujarnya.

Menurut dia, gelar doktor ke­hormatan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa kita memiliki kapasitas untuk berkontribusi pada tujuan yang melampaui diri kita sendiri. “Saya menerima dengan kerendahan hati dan berkomitmen untuk memajukan masa depan dengan pengeta­huan, kolaborasi, dan kepedulian untuk dunia yang lebih baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menperin juga memberikan Kuliah Umum bertajuk “Menilai Prospek Masa Depan: Mene­tapkan Kerangka Kerja untuk Diplomasi Ekonomi dan Sosial antara Indonesia dan Jepang”.

Ia memaparkan, untuk dapat mengkaji prospek dan strategi kerja sama di masa depan antara Indonesia dan Jepang, diperlukan pemahaman terhadap hubungan historis yang luas antara kedua negara, yang men­ciptakan kondisi penting bagi perdamaian dan pembangunan.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang yang telah memasuki tahun ke-65 ditandai dengan kolaborasi yang luas di semua bidang. Hubungan tersebut memiliki sejarah pan­jang kolaborasi dalam beberapa bidang, termasuk ekonomi, politik, teknologi dan inovasi, serta budaya. Sejak dimulainya hubungan diplomatik antara Je­pang dan Indonesia pada tahun 1958, Jepang telah menjadi mitra setia Indonesia.

Baca juga : Soal Wacana Bertemu Mega, Prabowo: Insya Allah...

Saat ini, kolaborasi Indone­sia-Jepang telah berkembang melampaui kerja sama bilateral, hingga bersama-sama menga­tasi berbagai masalah global. Ke depannya, Indonesia dan Jepang dapat menaruh perhatian pada berbagai isu masa depan, termasuk peningkatan kerja sama pendidikan, mendorong demokrasi regional, fasilitasi transisi energi, dan penanggu­langan perubahan iklim.

Sebagai pemain penting di kawasan ASEAN, Indonesia siap menjadi pusat manufaktur global Jepang di kawasan ini.Kemitraan kolaboratif antara Indonesia-Jepang berpeluang membuka lebih banyak la­pangan kerja, yang didukung dengan transfer teknologi oleh perusahaan Jepang kepada mi­tra-mitra mereka di Indonesia.Pemerintah Indonesia juga telah merumuskan rencana jangka panjang untuk memanfaatkan bonus demografi dan mengu­rangi disrupsi global, dengan memprioritaskan anggaran untuk pendidikan, pengembangan keterampilan, kesehatan, dan mem­bangun infrastruktur inovasi.

Kebijakan industri jangka menengah Indonesia mencakup pengembangan industri prioritas, pembentukan aglomerasi indus­tri dalam Kawasan Ekonomi Khusus, pemberdayaanIndustri Kecil Menengah, dan promosi industri hijau.

“Agar tujuan ini dapat ter­laksana dengan baik, Indonesia memerlukan kerja sama dengan Jepang di hampir semua bidang, terutama di sektor manufaktur. Indonesia dan Jepang dapat mencapai swasembada, meningkatkan kualitas lapangan kerja, dan mendukung berlanjutnya hilirisasi industri,” ungkap Men­perin.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Hiroshima University yang telah mencontohkan komit­men yang teguh untuk men­dukung perdamaian. Dedikasi tersebut mendorong Menperin untuk menumbuhkan budaya damai dan antikekerasan, serta setiap saat mengupayakan per­damaian.

Baca juga : Budaya Siaga Bencana Harus Mulai Dibangun

“Hiroshima University juga menjadi pelopor dalam keter­libatan global dan kemajuan teknologi. Kontribusi universitas terhadap advance materials, ilmu kesehatan, dan teknologi berkelanjutan sangatlah besar,” kata Menperin.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 26 September 2024 dengan judul Terima Honorary Doctorate Dari Hiroshima University, AGK: Di Sektor Manufaktur, Kita Perlu Kerja Sama Dengan Jepang

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.