Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Terkait Potensi Megathrust
Budaya Siaga Bencana Harus Mulai Dibangun
Kamis, 26 September 2024 07:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk mulai membangun budaya siaga bencana yang baik. Pasalnya, potensi megathrust di Indonesia bukan hanya gempa, tapi bencana alam lain seperti tsunami hingga longsor.
Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB Agus Wibowo menyatakan, manajemen penanggulangan bencana yang ada selama ini selalu diartikan publik sebagai usaha atau tindakan pasca bencana. Padahal, salah satu bagian dari penanggulangan bencana, meliputi usaha yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi.
“Manajemen penanggulangan bencana terdiri dari pencegahan, tanggap darurat dan rehabilitasi. Kesalahan persepsi yang selama ini terjadi di ruang publik harus diluruskan agar kita selalu siap menghadapi bencana,” ujar Agus dalam webinar Tips dan Trik Menghadapi Gempa Megathrust, Rabu (25/9/2024).
Baca juga : Kampanye Kotak Kosong Tidak Dapat Fasilitas KPU
Bercermin dari hasil survei situasi penyelamatan Gempa Kobe tahun 1995 di Jepang, lanjut dia, sebanyak 35 persen warga Jepang bisa selamat karena usaha sendiri dan 31,9 persen selamat karena bantuan keluarga.
Menurut dia, tingginya tingkat keselamatan itu disebabkan adanya penananaman budaya siaga bencana yang baik di Jepang.
“(Di bencana Gempa Kobe 1995) juga tercatat 28 persen diselamatkan pejalan kaki yang lewat. Hanya 2,6 persen yang selamat karena diselamatkan oleh tim penyelamat,” jelasnya.
Baca juga : IPA Buaran III Siap Pasok Air Ke 300 Ribu Keluarga
Penanaman budaya siaga bencana, kata Agus, juga bagian dari usaha pencegahan dalam manajemen penanggulangan bencana.
Lebih lanjut, Agus memuturkan, budaya siaga bencana terdiri dari lima poin penting. Pertama, mengerti risiko.
“Maksudnya, masyarakat memahami jenis bencana apa saja yang mungkin terjadi di wilayahnya. Usaha pemahaman bencana ini wajib didukung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing,” katanya.
Baca juga : AS Roma Vs Athletic Bilbao, Uji Nyali Pelatih Baru
Kedua, dalam budaya siaga bencana, masyarakat selalu siap siaga. Pada poin ini, seluruh masyarakat dan Pemda diharapkan bisa selalu dalam kondisi siap, karena bencana bisa datang kapan saja. Di antaranya, membekali diri dengan perlengkapan darurat bencana, membangun jalur dan spot evakuasi, hingga menyelenggarakan pelatihan kedarutan bencana.
Poin ketiga, sebut Agus, budaya siaga bencana juga harus membangun partisipasi aktif. Pemerintah, di tingkat pusat dan daerah, harus bisa melibatkan masyarakat dalam kegiatan yang bertujuan mengurangi risiko bencana, seperti melakukan gotong royong pembersihan saluran air atau mengadakan acara membersihkan sampah di sungai.
Poin keempat dan kelima, dalam budaya siaga bencana adalah tentang pentingnya saling membantu dan menjaga lingkungan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya