Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
HLF MSP dan IAF ke-2 Perkuat Posisi Indonesia dan Solidaritas Global
Rabu, 6 November 2024 09:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kesuksesan Indonesia menyelenggarakan dua perhelatan internasional secara bersamaan, High Level Forum on Multi Stakeholder Partnerships (HLF MSP) dan Indonesia Africa Forum (IAF) ke-2, telah menghasilkan berbagai kesepakatan.
Sejalan dengan itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), melalui Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan (Dit Polhukam) menggelar Forum Literasi Politik, Hukum, dan Keamanan Digital (Firtual) dengan tema “Menguatkan Solidaritas Global: HLF MSP dan IAF ke-2 dan Peran Indonesia di Kancah Internasional”.
Forum edukasi ini bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya.
Latar belakang Firtual kali ini ialah perhelatan HLF MSP dan IAF ke-2 yang secara kolaboratif berlangsung pada tanggal 1-3 September 2024 di Nusa Dua, Bali.
Acara tersebut menghasilkan 32 kesepakatan bisnis dan kerja sama dengan total nilai mencapai 3,5 miliar dolar AS.
Tak kalah penting dari kesepakatan itu ialah upaya mengawal implementasi efektif guna semakin berdampak bagi masyarakat Indonesia.
Langkah awal yang dapat dilakukan dengan menyebarkan informasi dan edukasi terkait perkembangan hasil HLF MSP 2024 dan IAF ke-2.
Kegiatan ini diharapkan akan menghidupkan kembali semangat persaudaraan dan solidaritas antar negara Asia dan Afrika.
Baca juga : Ketum Laskar Trisakti 08 Apresiasi Deklarasi Gerakan Solidaritas Nasional
“Serta mendorong upaya kolektif dalam mengadopsi solusi digital yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Hukum dan HAM, Kementerian Komdigi, Astrid Ramadiah Wijaya, di Auditorium Nuswantara, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Selasa (5/11/2024).
Astrid menjelaskan, HLF MSP dan IAF ke-2, menjadi wadah penting dalam memperkuat kemitraan lintas sektor. Harapannya, dapat mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs).
Indonesia juga menegaskan peran kekuatan Global Selatan sebagai penggerak perubahan, berlandaskan Bandung Spirit dalam forum tersebut. Bandung Spirit, yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, masih menjadi pedoman bagi kerja sama antar negara-negara di selatan.
Bandung Spirit terus menjadi landasan kuat dalam membangun solidaritas dan kolaborasi di antara negara-negara berkembang di berbagai sektor, seperti ekonomi, pembangunan, dan sosial.
“Sebagai tuan rumah, Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang aktif dalam mendorong kolaborasi internasional dan memfasilitasi dialog yang konstruktif antara negara-negara peserta,” tambah Astrid.
Sementara itu, Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Pantri Muthriana Erza Killian mengungkapkan, Indonesia sebagai tuan rumah HLF MSP dan IAF ke-2, memegang peranan penting sebagai bridge-builder yang berupaya mengoneksikan berbagai pihak dan kepentingan dalam relasi global.
Meski begitu, Pantri mengungkapkan bahwa secara global peran Indonesia bukan hanya berfungsi sebagai bridge builder, tetapi juga semakin menguat baik secara diplomatik, politik, keamanan, maupun ekonomi.
“Semakin besarnya peran Indonesia, biasanya diikuti dengan ambisi yang semakin besar. Indonesia saya identifikasi minimal memiliki tiga kepentingan dan peran," katanya.
Baca juga : Wamen Irene Yakin Start Up Indonesia Bersinar
Pertama, yang berkaitan dengan kebutuhan domestik untuk memenuhi ekspektasi dan tuntutan dari masyarakat Indonesia untuk tetap menyediakan perekonomian yang baik.
Kedua, kondisi politik dan keamanan yang stabil. Ketiga, dari kacamatanya pemerintah adalah menjamin bahwa kontinuitas pemerintahan itu bisa tetap berjalan.
Selain itu, untuk mewujudkan solidaritas global Indonesia perlu meninjau tidak hanya dari kepentingan ekonomi.
Sebab, solidaritas global didasarkan pada nilai yang mencerminkan moralitas sebagai negara-bangsa.
"Kebijakan luar negeri Indonesia, termasuk pandangan dan perilakunya terkait negara berkembang ataupun kawasan Afrika, perlu didasarkan pada nilai yang lebih jelas dan bukan hanya berdasarkan manfaat ekonomi ataupun kepentingan lainnya,” papar Pantri.
Sebagai upaya memperkuat solidaritas global, generasi muda juga perlu berperan aktif dan terlibat dalam diskusi terkait isu-isu dunia.
Dengan mengetahui sejarah bangsa dan peran Indonesia di kancah global, maka generasi muda dapat ikut menyuarakan pesan perdamaian.
Key Opinion Leader (KOL) Nur Kholis yang akrab disapa Koko mengungkapkan bahwa generasi muda sangat berperan dalam menyuarakan informasi penting dan membuka diskusi di masyarakat. Termasuk, di berbagai platform digital.
Baca juga : Perwira Dukung Penuh Gerakan Solidaritas Nasional
“Kita tidak perlu punya banyak followers untuk bisa menyebarkan sesuatu yang positif di media sosial. Tidak perlu ragu, karena lingkungan kita semua di sana. Bukan sekadar pengaruh besar atau kecil, namun pengaruh apa yang sudah kita kasih,” kata Koko.
Generasi muda diungkapkan Koko, dapat berperan bagi Indonesia dengan fokus melakukan yang terbaik di bidang masing-masing. Juga, ikut menyuarakan semangat positif ke sekitar.
Di media sosial, masyarakat dapat melakukan empat hal. Pertama, learning (belajar). Kedua, sharing (berbagi). Ketiga, connect (terhubung). Keempat, impact (berdampak).
Firtual kali ini merupakan upaya edukasi tentang dampak HLF MSP dan IAF ke-2 yang telah berlangsung pada awal September lalu.
Sebelumnya, Firtual juga berlangsung pada bulan Oktober di Denpasar, Bali, yang turut menyuarakan tentang pentingnya menggaungkan semangat Bandung Spirit.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya