Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Genjot Hilirisasi Petrokimia Dan Gas, Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Sabtu, 22 Februari 2025 08:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam mencapai nawacita yang telah diprioritaskan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berkomitmen kuat untuk terus memacu laju hilirisasi di industri petrokimia dan gas di Indonesia dengan berbagai terobosan kebijakan terutama untuk mengungkit target pertumbuhan 8 persen, mengingat sektor petrokimia dan gas memberikan multiplier efek yang sangat besar terhadap sektor ekonomi lainnya.
Dalam acara Tekagama Forum Petrokimia dan Gas yang diselenggarakan Fakultas Teknik UGM, di Kampus Bulak Sumur, Jumat (21/2/2025).
Acara ini yang dihadiri Rektor, Civitas Akademik dan Stakeholder industri Petrokimia dan Gas.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen IKFT, Taufiek Bawazier yang juga sebagai pembicara di acara tersebut menyampaikan rumusan teknokratis agar sektor petrokimia dan gas dapat memberikan tambahan kontribusi yang signifikan terhadap PDB Nasional.
Menurut Taufiek, Sektor Industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) harus memompa tambahan kontribusi PDB sebesar Rp 39,77 triliun dengan skenario porsi sektor industri terhadap PDB nasional sebesar 18,9 persen.
Dan jika target skenario industri berkontribusi sebesar 21,9 persen dari PDB Nasional maka sektor IKFT harus memompa tambahan sumbangan Rp 46,09 triliun.
Baca juga : Temui Kepala BKPM, Pimpinan MPR Dorong Ivestasi Low Carbon Economy
Taufiek menambahkan, dari sektor IKFT dalam skenario pertama, industri kimia, barang kimia dan farmasi khususnya peran Petrokimia dan Gas harus memberikan tambahan nilai minimal Rp 18,37 triliun hingga Rp. 21,28 triliun dan pada tahun 2024 subsektor IKFT berkontribusi sebesar Rp 555, 40 triliun.
Menurut Taufiek, hal ini bisa dicapai dengan integrasi kebijakan nasional yang pro industri dari sisi pengendalian impor, kemudahan investasi di hulu, intetmediate dan hilir serta harga Gas HGBT yang kompetitif dan supplainya konsisten tanpa kekurangan bahan baku.
Taufiek menambahkan secara nasional kapasitas produk olefin dan turunannya sebanyak 9,7 juta ton, Produk Aromatik dan turunannya sebanyak 4,6 juta ton serta produk C1 (metanol) dan turunannya sebanyak 980.000 Ton.
Untuk itu Kemenperin meminta produk produk yang sudah mampu dihasilkan di dalam negeri dan utilisasinya rendah dapat diberlakukan quota impor hanya persetujuan PI dan LS saja tanpa pertimbangan teknis minimal 40 persen bisa menambah utilisasi saat ini.
Disinilah pentingnya instrumen kebijakan integratif dari Kementerian terkait untuk mendorong kemampuan produksi nasional sekaligus memberikan confidence bagi investor yang sudah membangun fasilitas produksinya di Indonesia.
"Langkah ini adalah jangka pendek' untuk jangka menengah kemampuan refinery minyak untuk produksi nafta untuk bahan baku industri petrokimia harus terintegrasi dengan produk hilirnya," ujar Dirjen IKFT.
Baca juga : PFpreneur Jurus Pertamina Dorong Ribuan UMKM Berkarya
Peluang investasi di sektor ini sangat besar, misalnya Metanol kebutuhan nasional sebanyak 1,6 juta ton yang mampu di produksi hanya 721.424 Ton.
Hal ini yang perlu diarahkan investasi baru dalam pohon industri yang telah dibuat oleh Kemenperin, termasuk pohon industri dari minyak bumi, gas dan batubara didalamnya
"Kami sudah membuat turunan produk dan nilai tambahnya beserta supplai dan demand di dalam negeri," imbuh Taufiek.
Dalam mendukung swasembada pangan, dukungan Kemenperin terhadap industri pupuk sangat kuat.
Secara nasional pupuk jenis urea utilisasi industrinya mencapai 8.875 KTA. Secara nasional mampu mensuplai sebanyak 7.897 KTA.
Bahkan kata Taufiek, pupuk urea ini Indonesia mampu melakukan ekspor sebanyak 1.376 KTA dan hanya sedikit yang di impor hanya 75 KTA.
Baca juga : Gelar Rakernas, BPP HIPKA Dukung Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Begitu juga pupuk jenis NPK dengan kapasitas nasional sebanyak 8.897 KTA mampu menutup semua kebutuhan nasional sebanyak 3.481 KTA.
Menurut Taufiek, ke depan semua stakeholder univeritas dan pusat penelitian khususnya fokus riset harus sejalan dengan kebutuhan industri.
"Minimal meneliti produk yang ada di pohon industri sehingga dukungan riset dan inovasi di sektor petrokimia menjadi nyata," pungkas Taufiek
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya