Dark/Light Mode

Eksklusif Dengan Menekraf Teuku Riefky Harsya

Ekonomi Kreatif, Mesin Baru Pertumbuhan Nasional

Jumat, 14 Maret 2025 08:15 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf)/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf)/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Seberapa besar ekonomi kreatif bisa jadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional?

Fakta di lapangan menunjuk­kan tren pertumbuhan ekonomi kreatif yang signifikan. Data BPS mencatat jumlah tenaga kerja di sektor ini meningkat dari 14 juta pada 2013 menjadi 20,5 juta orang pada 2014, atau tumbuh sebesar 89 persen. Nilai tambah ekonomi kreatif terhadap PDB pun melonjak hampir 120 persen, diikuti oleh peningkatan nilai ekspor. Target yang diberikan Bappenas untuk jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2024 adalah 27,66 juta orang. Namun, data terbaru menunjukkan angka saat ini sudah mencapai 26 juta, hanya berjarak satu juta dari tar­get tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ini lebih cepat dari perkiraan.

Bagaimana peluang eko­nomi kreatif di masa depan?

Secara historis, struktur eko­nomi suatu negara beralih dari sektor pertanian berbasis tenaga kerja ke sektor industri berbasis modal dan teknologi, lalu ke ekonomi informasi yang mengu­tamakan penguasaan data. Saat ini, dunia memasuki era ekonomi kreatif, dengan kreativitas dan inovasi sebagai kapital utama. Meskipun kontribusinya terhadap PDB masih lebih kecil dibanding­kan sektor pertanian dan industri, ekonomi kreatif tumbuh pesat.

Baca juga : APBN Tekor 31 Triliun, Penerimaan Anjlok

Subsektor ekonomi kreatif apa yang prospeknya cerah untuk dikembangkan?

Saya dapat data dari peru­sahaan multinasional. Mereka menunjukkan data bahwa salah satu subsektor dengan potensi besar adalah industri perfilman. Perusahaan multinasional yang tertarik berinvestasi di Indonesia melihat bahwa film nasional me­miliki pasar yang sudah terbentuk, tinggal ditingkatkan dari sisi kualitas. Jika kualitas film Indone­sia meningkat, bukan hanya akan semakin kuat di dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang besar di tingkat regional, bahkan global.

Tren industri kreatif global menunjukkan bahwa dominasi Amerika Serikat dalam industri hiburan cenderung menurun pada 2025, sementara negara-negara Asia, terutama Korea Selatan dan China, mengalami peningkatan.

Dari data tersebut juga diketa­hui akan muncul tiga negara yang bisnis kreatifnya mulai mendunia. Yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Indonesia memiliki kesempatan untuk mengambil peran lebih besar dalam pasar ini dengan strategi dan kebijakan yang tepat.

Baca juga : Diungkap Presiden, Ada Menteri Dan Wamen Belum Dapat Rumah Dinas

Kolaborasi apa saja yang su­dah dilakukan dalam 130 hari terakhir ini dan diharapkan dapat berdampak pada per­tumbuhan ekonomi kreatif?

Langkah pertama kami adalah berkoordinasi dengan Bappenas dan BPS. Mengapa ini penting? Karena ketika BPS menyajikan data ekonomi kreatif yang lebih akurat, maka Bappenas dapat menyusun program yang lebih te­pat sasaran. Selanjutnya, Kemen­terian Keuangan dan Presiden juga akan mengacu pada data ini dalam pengambilan kebijakan.

Setelah itu, kami bertemu dengan Mendagri. Kebetulan, Mendagri juga merupakan Ketua Dewan Pembina Dekranas (De­wan Kerajinan Nasional), sehing­ga memiliki pemahaman tentang ekonomi kreatif. Ia mengakui banyak kepala daerah yang belum memahami pentingnya ekonomi kreatif dan bagaimana memanfaatkan potensi seniman lokal-baik di bidang musik, film, animasi, fashion, maupun kon­ten digital-untuk meningkatkan ekonomi daerah dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Untuk itu, kami menyusun Surat Keputusan Bersama (SKB) sebagai panduan pembentukan nomenklatur Dinas Ekonomi Kreatif Daerah. Saat ini, ekonomi kreatif di daerah sering kali hanya ditempatkan di bawah Dinas Pariwisata, UMKM, atau Per­industrian. Akibatnya, anggaran yang dialokasikan kecil dan hanya cukup untuk FGD atau sekadar membuat rekomendasi kebijakan. Padahal, yang dibutuhkan adalah pendampingan dalam seluruh rantai nilai ekonomi kreatif, mulai dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, hingga perlindungan dan konservasi.

Baca juga : Penunjukan Letkol Teddy Tidak Melanggar Aturan

Kami juga mendapat kesem­patan memberikan pemaparan dalam retreat kepala daerah di Akademi Militer (Akmil) untuk menjelaskan konsep ini. Kebetulan, kami mendapat sesi di hari terakhir, di mana para wakil gubernur, wakil bupati, dan wakil wali kota juga hadir.

Faktanya, dalam lima tahun terakhir, hanya delapan provinsi yang sudah menaikkan nomenkla­tur ekonomi kreatif dalam Orga­nisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk DKI Jakarta. Untuk tingkat kabupaten/kota, baru 18 daerah yang melakukannya.

Kami juga melakukan kola­borasi dengan Pemprov DKI Jakarta. Saat Gubernur DKI Jakarta yang baru belum dilantik, tetapi kami sudah duduk bersama dengan Pemprov DKI, Bappeda, dan Dinas Ekonomi Kreatif un­tuk membahas rencana besar. Jakarta akan merayakan usia 500 tahun. Kami ingin mengem­bangkan koridor ekonomi kreatif dari Kota Tua, Chinatown, Pasar Baru, Monas, Gambir, Istiqlal, hingga Blok M, SCBD, Kemang, dan JIS. Untuk mewujudkannya, kami menggandeng asosiasi dari 17 subsektor ekonomi kreatif agar mereka bisa mengaktivasi berbagai lokasi strategis tersebut.

Sehari setelah gubernur baru dilantik, kami menjadi kemen­terian pertama yang menandatangani kerja sama dengan Pem­prov DKI untuk mengembangkan “Mabes Jakarta” dengan belasan program ekonomi kreatif.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.