Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Setelah Sempat Dimatikan
Sistem Penjurusan Kembali Dihidupkan
Senin, 14 April 2025 07:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti akan kembali menghidupkan sistem penjurusan di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sistem penjurusan ini sebelumnya dihapus dan diganti penerapan Kurikulum Merdeka yang digagas Nadiem Makarim. Mu’ti memastikan, kebijakan penjurusan tersebut kembali diterapkan mulai tahun ajaran baru 2025/2026 dan akan segera diformalkan dalam waktu dekat melalui peraturan menteri.
Aturan itu akan menggugurkan aturan sebelumnya, yakni Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 12 Tahun 2024.
“Jurusan akan kita hidupkan lagi. Jadi nanti akan ada jurusan IPA, IPS, dan Bahasa,” kata Mu’ti, dikutip Minggu (13/4/2025).
Baca juga : Mandiri Dan BNI Pede Kinerja Tetap Kinclong
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini menjelaskan, dengan diterapkannya sistem penjurusan, maka dalam ujian akhir atau saat ini disebut dengan Tes Kemampuan Akademik (TKA), siswa dapat memilih mata pelajaran yang paling diminatinya.
Mereka hanya diwajibkan mengikuti tes wajib yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Untuk mereka yang ambil IPA, boleh memilih tambahannya seperti fisika, kimia, atau biologi.
“Untuk yang IPS, akan memilih tes mata pelajaran Ekonomi, Geografi, Sejarah, atau Sosiologi,” terangnya.
Baca juga : Indonesia Patok Tarik Investasi Rp 57 Triliun
Mu’ti menjelaskan, sistem penjurusan kembali diterapkan untuk mendukung sejumlah komponen yang akan diatur dalam pelaksanaan TKA sebagai sistem pengganti Ujian Nasional (UN).
Tes ini merupakan ujian di penghujung jenjang akademik untuk mengukur kemampuan akademik seseorang. Berbeda dengan UN, tes ini tidak bersifat wajib dan hanya berlaku bagi mereka yang memang siap dan mampu menghadapi tes guna menambah penilaian individu.
Menurutnya, sistem lama ini untuk memberikan kepastian pada penyelenggara pendidikan khususnya bagi lembaga pendidikan di luar negeri.
Dia mengungkapkan, Mendikbudristek Nadiem Makarim mengambil sampelnya saja. Banyak kampus-kampus di luar negeri yang tak mau terima.
Baca juga : DKI-Banten Matangkan Kolaborasi Atasi Macet
“Soalnya nggak jelas ukuran kemampuan di pelajar. Sekarang dengan hasil TKA, kemampuan masing-masing individu akan terukur,” ungkap Mu’ti.
Ia mengaku dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan masukan dari Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya