Dark/Light Mode

Tinjau SIKL Di Malaysia, Mendikdasmen Ingin Pendidikan Anak Migran Tetap Bermutu

Jumat, 20 Juni 2025 09:17 WIB
Mendikdasmen Abdul Mu`ti (kedua dari kanan)  meninjau pembangunan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) di Kuala Lumpur Malaysia pada Kamis (19/6/2025). Foto: Humas Kemendikdasmen
Mendikdasmen Abdul Mu`ti (kedua dari kanan) meninjau pembangunan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) di Kuala Lumpur Malaysia pada Kamis (19/6/2025). Foto: Humas Kemendikdasmen

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti blusukan ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia, Rabu (18/6/2025). Kunjungan Mu’ti ke Negeri Jiran itu untuk memastikan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) tetap mendapat pendidikan berkualitas.

Mu'ti datang ke lokasi dengan mengenakan batik coklat hitam, celana bahan hitam, dan helm proyek warna putih. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu tak datang sendiri. Ia didampingi Duta Besar RI untuk Malaysia Dato’ Indera Hermono, serta Kepala SIKL Friny Napasti. 

Mu’ti menyebut, kunjungan ini merupakan bagian dari Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Pendidikan yang tak hanya menyasar sekolah di dalam negeri, tetapi juga lembaga pendidikan Indonesia di luar negeri. “Sebagai salah satu sekolah Indonesia tertua di luar negeri dengan jumlah siswa yang sangat besar, SIKL memegang peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Indonesia di Malaysia,” ujar Mu’ti dalam keterangan resminya, Kamis (19/6/2025). 

Sekadar tahu saja, SIKL adalah sekolah resmi milik Pemerintah Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Didirikan sejak 1969, sekolah ini awalnya untuk anak-anak diplomat dan staf kedutaan. Namun seiring perkembangan zaman dan meningkatnya jumlah WNI kini melayani anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan WNI lainnya.

Baca juga : Kemendikdasmen Pastikan Tak Ada Gangguan Server

SIKL menyediakan pendidikan dari TK hingga SMA dengan kurikulum nasional. SIKL juga mengelola sanggar belajar bagi ribuan anak WNI yang sulit mengakses sekolah formal. Saat ini, SIKL memiliki 632 siswa dan lebih dari 2.400 peserta didik di jalur non-formal.

Pemerintah saat ini tengah merevitalisasi SIKL sebagai upaya memastikan pendidikan bermutu bagi anak-anak Indonesia di luar negeri. Mu’ti menegaskan, revitalisasi ini merupakan bagian dari program besar pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi WNI di luar negeri. "Pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena melewati garis batas negara,” tegas Mu’ti.

Dia juga menyoroti keberadaan sanggar belajar yang dikelola masyarakat Indonesia di Malaysia. Menurutnya, sanggar-sanggar ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem layanan pendidikan SIKL. "Sanggar-sanggar ini terintegrasi sebagai unit layanan pendidikan. Keberadaannya sangat penting untuk menjangkau lebih banyak pelajar Indonesia yang belum bisa mengakses sekolah formal,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mu'ti menyampaikan, selain gedung sekolah, kunci keberhasilan anak Indonesia terletak pada tiga hal utama. Yaitu, memiliki cita-cita yang tinggi, percaya diri, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. "Janganlah cepat puas dengan apa yang sudah kita capai. Dengan membaca dan mempelajari hal-hal baru, kita dapat tumbuh menjadi anak-anak yang multi talenta," ujarnya. 

Baca juga : Tinju Dunia, Legenda Pac Man Siap Bikin Kejutan

Duta Besar RI untuk Malaysia Dato’ Indera Hermono menjelaskan, perluasan gedung SIKL dirancang untuk meningkatkan kapasitas daya tampung mencapai 750 siswa. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sebesar 50 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya. "Bagi kami, perluasan ini bukan hanya semata-mata soal kapasitas, tetapi juga bagaimana memastikan kenyamanan dan keamanan lingkungan belajar bagi para siswa," tutur Dato’ Indera. 

Ia juga menjelaskan, renovasi dan perluasan SIKL yang tengah dilakukan ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas kementerian dalam membangun dunia pendidikan. Menurutnya, ini adalah kerja tiga kementerian untuk menyediakan fasilitas belajar terutama anak-anak PMI yang kesulitan akses pembelajaran

"Langkah ini adalah bentuk kerja sama dari banyak pihak seperti Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang membangun strukturnya. Kemudian, dari Kemendikdasmen yang mengisinya nanti, dan Kementerian Luar Negeri tentunya," katanya. 

Sementara, Kepala SIKL Friny Napasti mengatakan, SIKL kini secara khusus melayani pendidikan bagi anak-anak PMI sebagai bagian dari komitmen Pemerintah dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh WNI di luar negeri. Saat ini, kata Friny, jumlah peserta didik tercatat sebanyak 632 siswa, mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). 

Baca juga : Mendikdasmen Inginkan Aturan Di Daerah Selaras

"Selain pendidikan formal, SIKL juga menyelenggarakan pendidikan non formal melalui sanggar bimbingan belajar yang tersebar di tengah masyarakat. Program ini menjangkau lebih dari 2.400 peserta didik yang tidak dapat mengakses sekolah formal secara langsung," ungkapnya. 

Untuk diketahui, sebanyak 11.440 sekolah di berbagai jenjang akan mendapatkan perbaikan sarana dan prasarana, meliputi ruang kelas, laboratorium, toilet, dan smart classroom dalam program revitalisasi sekolah. 

Program ini didukung anggaran sebesar Rp16,9 triliun, meningkat dari target awal berkat efisiensi anggaran di Kementerian PU yang dialihkan ke Kemendikdasmen. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.