Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Langkah Pemerintah dalam Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Senin, 23 Juni 2025 08:55 WIB
Sudah 9 tahun lamanya sejak Indonesia berkomitmen untuk aktif berperan dalam konvensi perubahan iklim--tepatnya setelah menandatangani Paris Agreement yang bertempat di New York, Amerika Serikat pada 22 April 2016--berbagai upaya telah dilakukan oleh Indonesia mulai dari kebijakan hingga implementasinya sampai saat ini. Salah satu tujuan besar yang hendak dicapai Indonesia yaitu nationally determined contribution (NDCs) di tahun 2030 sebagai upaya reducing greenhouse gas (GHG) emission dan net zero emission di tahun 2060 atau lebih cepat. Namun, saat ini pertumbuhan penggunaan energi baru terbarukan masih belum sesuai target yang ditetapkan. Padahal Indonesia memiliki berbagai potensi energi baru terbarukan yang besar. Berikut merupakan tabel potensi dan pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia pada tahun 2022 (Surhayati et al., 2023).
Jenis Energi Terbarukan | Total Potensi (GW) | Pemanfaatan (GW) | % Pemanfaatan |
Laut | 63 |
|
|
Panas Bumi | 23 | 2,4 | 10,30% |
Bioenergi | Baca juga : Pemerintah Tolak BMAD, Pengamat: Lindungi Industri Tekstil Padat Karya 57 | 3,1 | 5,4% |
Bayu | 155 | 0,2 | 0,10% |
Hidro | 95 | 6,7 | 7% |
Surya | 3.294 | 0,3 | Baca juga : Perkuat Pengawasan Kegiatan Pertambangan 0,01% |
Total | 3.687 | 12,6 | 0,3% |
Pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai energi primer mencapai 12,3% dari total pasokan energi primer pada tahun 2022. Nilai ini belum mencapai target yakni sebesar 15,7% dari Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Check point selanjutnya yakni target sebesar 23% pada tahun 2025, sayangnya capaian energi baru terbarukan sebagai energi primer di tahun 2024 masih sebesar 14,68%. Tidak berhenti sampai di situ, tantangan selanjutnya yakni pertumbuhan ekonomi ditargetkan menjadi 8% (di tahun 2028-2029) sehingga target bauran energi baru terbarukan menjadi 17-20% untuk tahun 2025 (Wuryandani, 2025) .
Pada tahun 2022, terdapat 3 sektor terbesar sebagai penyumbang emisi akibat aktivitas pembakaran bahan bakar. Sektor pembangkitan listrik menjadi penyumbang emisi terbesar yaitu 297 juta ton CO2 (42,6%), diikuti sektor industri 206,4 juta ton CO2, dan terakhir sektor transportasi sebesar 155.6 juta ton CO2 dengan nilai 47% (skema Business as Usual) atau 44% (skema penerapan kebijakan menuju negara maju 2045 dan NZE 2060) pada tahun 2033 (Surhayati et al., 2023).
Dari jenis energi baru terbarukan yang terdapat pada tabel di atas, sekiranya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu energi yang diandalkan. Data hingga akhir Desember 2023, pemanfaatan PLTS yang sudah beroperasi sebesar 242 MW (RUPTL 2025-2034, 2025). Selain itu biaya PLTS mengalami penurunan sebesar 23% pada tahun 2023 dan diperkirakan biaya proyek PLTS akan mengalami penurunan kembali sebesar 20% di tahun 2030. Berikut beberapa langkah pemerintah dalam pemanfaatan PLTS di Indonesia, yaitu:
PLTS Atap
Aturan mengenai PLTS atap tertuang dalam Peraturan Pemerintah ESDM Nomor 2 Tahun 2024. Beberapa poin yang disorot ialah bolehnya memasang PLTS dengan kapasitas melebihi 100% dari kebutuhan selama memenuhi kuota, kelebihan listrik dari PLTS tidak mendapat kompensasi (zero export), dan adanya periodesasi instalasi. Saat ini PLTS atap lebih dianjurkan penggunaannya di sektor industri dan bisnis dengan pemasangan berkapasitas besar untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan. Di antara langkah yang diambil ialah dalam pengurusan perizinan PLTS atap, dapat dilakukan melalui PLN mobile, kemudian pelanggan yang hendak memasang PLTS atap tidak dikenai biaya kapasitas dan penggantian advanced meter.
Fleksibilitas dari PLTS atap ini juga bisa diterapkan di tempat lainnya seperti rumah tangga. Walaupun pemanfaatan PLTS atap di sektor rumah tangga tidak sebesar sektor industri dan bisnis, namun tetap diharapkan untuk dapat ikut berpartisipasi. Menurut Fabby Tumiwa selaku Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR), menyebutkan jika seluruh rumah tangga di Indonesia yang compatible menggunakan PLTS atap maka dapat menghasilkan energi sebesar 655 GW.
Pengembangan PLTS di Wilayah Khusus
Pemanfaatan selanjutnya ialah PLTS sebagai penyedia listrik di daerah yang jauh dari sistem kelistrikan PLN, daerah terpencil, ataupun daerah terluar. Biasanya PLTS tersebut dikombinasikan dengan generator diesel dan sistem penyimpanan energi seperti baterai untuk menyuplai kebutuhan listrik. Implementasi di Indonesia dapat dilihat pada Pulau Tomia, di Pulau Parang, Pulau Selayar, dan lainnya. Dengan pemanfaatan PLTS, diharapkan terjadi penurunan penggunaan bahan bakar untuk generator diesel, sehingga dalam hal ini dapat mengurangi emisi dan lebih hemat biaya.
Namun, ada hal yang tidak kalah penting selain percepatan pemanfaatan, yaitu pemeliharaan. Sangat disayangkan jika investasi yang besar namun tidak memiliki umur yang panjang hanya karena pemeliharaan yang kurang baik. Penelitian yang dilakukan oleh Putu Agus menginformasikan bahwa pernah terjadi kerusakan pada sistem rangkaian PLTS Tomia, inverter, dan juga baterainya yang menyebabkan potensi energy not served (ENS) sebesar 122.000 kWh per tahun dan kerugian investasi (Pramana et al., 2021). Contoh lain adanya kerusakan PLTS di Desa Parang Kabupaten Jepara di tahun 2019, barulah di tahun 2024 perbaikan dan penambahan kapasitas menjadi 182kWp diselesaikan, hingga akhirnya dapat dinikmati selama 24 jam (Syofiadi, 2024).
Baca juga : 3 Alasan Utama Pemerintah Cabut IUP 4 Perusahaan Tambang di Raja Ampat
PLTS Terapung
PLTS Terapung Cirata yang merupakan proyek strategis nasional (PSN) memiliki kapasitas 145 MW yang mampu mereduksi 214.000 Ton CO2 / tahun. Daerah lainnya yang masih dalam tahap rencana di antaranya Waduk Karangkates, Danau Singkarak, Waduk Saguling. Salah satu kendala dari PLTS terapung ini adalah pada saat pemeliharaan, sehingga diperlukan strategi yang tepat agar sistem PLTS terapung dapat beroperasi secara maksimal. Dalam mencapai upaya pemanfaatan PLTS terapung, perlu sekiranya melakukan pendekatan yang komprehensif kepada masyarakat jika waduk atau danau tersebut merupakan pusat dari aktivitas masyarakat setempat.
Pembangunan Industri PLTS
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, pembangunan industri komponen utama PLTS sebagai produk dalam negeri dapat menjadi solusi. Dengan adanya industri dalam negeri diharapkan dapat menekan produk impor dan nantinya dapat menyerap tenaga kerja. Walaupun pada saat ini terdapat tantangan dalam implementasinya, seperti industri PLTS dalam negeri belum mampu untuk bersaing dengan produk impor. Indonesia baru ada 21 pabrikan modul surya di tahun 2022 namun untuk proyek skala utilitas tidak mampu bersaing dalam hal harga, kualitas (sizing & efficiency), dan bankability dibanding produk impor (Bagaskara & Bintang, 2022).
Percepatan pemanfaatan PLTS tentunya bukan proses yang mudah dan cepat, perlunya skenario yang matang serta bisa dimanfaatkan secara maksimal. Tentunya masih banyak lagi hal yang perlu direncanakan selain poin yang telah disebutkan di atas. Seperti misalnya membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten di masa depan terkait dengan inovasi terbaru dan sebagai pemegang estafet keberlangsungan pemanfaatan PLTS. Target pemanfaatan PLTS (di luar penambahan kuota PLTS atap) dari tahun 2025-2034 dengan scenario renewable Indonesia base (RE base) yaitu 7.143 MW dan dengan scenario accelerated renewable energy development (ARED) yaitu 17.062 MW.
Sumber
Bagaskara, A., & Bintang, H. M. (2022). Pemetaan Peluang dan Tantangan Pengembangan Industri Komponen PLTS di Indonesia.
Pramana, P., Mangunkusumo, K. G. H., Tambunan, H. B., & Jintaka, D. R. (2021). Revitalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pada Sistem Microgrid Pulau Tomia. Jurnal Technopreneur (JTech), 9(1), 28–37. https://doi.org/10.30869/jtech.v9i1.724
RUPTL 2025-2034. (2025). RENCANA USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (RUPTL).
Surhayati, Pratiwi, N. I., Pambudi, S. H., & Wibowo, J. L. (2023). Oulook Energi Indonesia 2023. https://suaraenergi.com/wp-content/uploads/2024/01/Buku-Outlook-Energi-Indonesia-2023-2033-suaraenergi.com_.pdf
Syofiadi, R. (2024, August 31). Masyarakat Tiga Pulau di Karimunjawa Kini Nikmati Listrik 24 Jam setelah Masuknya Listrik Bersih dari PLTS PLN 182 kWp. Pln.Co.Id.
Wuryandani, D. (2025). Perubahan Target Bauran Energi Baru Terbarukan Indonesia.
Hasbi Dicky Baihaqi
Hasbi Dicky Baihaqi, Mahasiswa S2 Elektro ITS
Hasbi Dicky Baihaqi, Mahasiswa S2 Elektro ITS
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya