Dark/Light Mode

Dihantam Impor Dan Gejolak Global, Indeks Kepercayaan Industri Juni Turun

Selasa, 1 Juli 2025 10:06 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif saat menyampaikan Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2025 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (30/6/2025). (Foto: Ist)
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif saat menyampaikan Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2025 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (30/6/2025). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Juni 2025 tercatat sebesar 51,84, masih berada dalam fase ekspansi meskipun mengalami sedikit penurunan dibandingkan Mei 2025 (52,11) maupun Juni 2024 (52,50).

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pelemahan IKI bulan ini utamanya dipengaruhi oleh penurunan variabel produksi yang turun ke angka 46,64. Sementara itu, variabel pesanan justru mengalami peningkatan cukup signifikan ke level 54,21.

“Ini menunjukkan bahwa pelaku industri lebih berhati-hati dalam merespons peningkatan permintaan, dengan lebih banyak mengandalkan produk yang telah tersedia di stok sebelumnya,” ujar Febri, Senin (30/6/2025).

Febri menjelaskan, sebanyak 18 dari 23 subsektor industri manufaktur masih berada dalam zona ekspansi, dan subsektor-sektor ini menyumbang hingga 92,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas triwulan I-2025.

“Dengan kontribusi yang besar terhadap PDB, ekspansi di 18 subsektor ini menunjukkan bahwa industri manufaktur nasional masih tangguh dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global maupun tekanan pasar domestik,” katanya.

Tiga subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Juni 2025 adalah Industri Alat Angkutan Lainnya (KBLI 30), Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12), dan Industri Bahan Kimia serta Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20).

Baca juga : DPR Dukung Antam Jadi Pemain Global di Industri Baterai

Namun, Febri mencatat bahwa variabel produksi pada subsektor tembakau justru mengalami kontraksi akibat sejumlah tantangan.

“Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain kebijakan cukai yang relatif tinggi yang mendorong peredaran rokok ilegal, rencana penerapan kemasan polos (plain packaging), serta kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah yang berdampak pada logistik,” jelasnya.

Lima subsektor lainnya mengalami kontraksi, yakni Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (KBLI 15), Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26), Industri Peralatan Listrik (KBLI 27), Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL (KBLI 28), serta Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan (KBLI 33).

Menurut Febri, kontraksi signifikan terlihat pada subsektor alas kaki akibat penurunan permintaan ekspor yang tercatat turun 21,54 persen dari Maret ke April 2025. Ekspor ke Amerika Serikat, sebagai pasar utama, juga mengalami penurunan sebesar 21,51 persen.

“Meski demikian, subsektor alas kaki tetap menunjukkan geliat investasi yang tinggi dengan nilai investasi yang meningkat dari Rp2,29 triliun menjadi Rp7,03 triliun pada triwulan I-2025,” ujarnya.

Permintaan dalam negeri yang melemah juga memengaruhi subsektor lainnya seperti industri elektronik, mesin, serta peralatan listrik. Produksi mengalami perlambatan dan stok menumpuk akibat pelemahan pasar domestik dan ekspor.

Baca juga : Pengamat: Tolak BMAD, Pemerintah Bela Industri, Bukan Impor Ilegal

Sementara itu, IKI sektor industri berorientasi ekspor tercatat sebesar 52,19 atau turun 0,14 poin dari bulan sebelumnya, dan sektor domestik sebesar 51,32 atau turun 0,50 poin. Ketidakpastian global seperti kebijakan tarif dari Amerika Serikat serta lonjakan harga energi akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi penyebab utama.

Febri menuturkan, kebijakan relaksasi impor produk jadi turut menjadi tekanan tambahan bagi industri nasional, karena menurunkan utilisasi produksi dalam negeri dan memicu penutupan industri serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa subsektor strategis seperti alas kaki, elektronik, kosmetik, dan pakaian jadi.

“Kami mendukung langkah pemerintah dalam melakukan revisi terhadap aturan impor, khususnya untuk produk tekstil dan pakaian jadi, guna menjaga keberlangsungan industri dalam negeri,” tegasnya.

Menurut dia, kebijakan pembatasan impor secara selektif dapat mendorong pesanan terhadap produk dalam negeri dan akan berdampak positif terhadap IKI subsektor tekstil dan pakaian jadi.

“Meskipun saat ini pesanan dari industri tekstil dan pakaian jadi masih mengalami kontraksi, kami optimistis kondisi akan berbalik arah dengan adanya kebijakan tersebut,” katanya.

Meski sejumlah indikator mengalami perlambatan, Febri menyampaikan bahwa optimisme pelaku industri terhadap prospek enam bulan ke depan masih cukup kuat. Survei mencatat 65,8 persen pelaku usaha menyatakan optimis, sementara hanya 9 persen yang menyatakan pesimis.

Baca juga : Kawasan Industri Ingin Gas Murah Dan Kompetitif

Namun, tingkat optimisme tersebut terus menurun sejak November 2024 yang saat itu mencapai 73,4 persen.

“Penurunan ini disebabkan oleh eskalasi konflik Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Israel, yang meningkatkan risiko lonjakan harga energi serta biaya logistik global,” ujar Febri.

Secara keseluruhan, lanjutnya, mayoritas pelaku industri mencatatkan kondisi usaha yang membaik atau stabil pada Juni 2025, dengan 32,1 persen menyatakan usaha membaik (naik dari 28,9 persen pada Mei), 45,1 persen menyatakan stabil, dan hanya 22,8 persen yang menyatakan penurunan usaha.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.