Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menko Pangan Zulkifli Hasan Paparkan Swasembada Pangan
Beras Surplus, Jagung-Telur-Gula Ditarget Bebas Impor Tahun Depan
Kamis, 3 Juli 2025 08:05 WIB
Sebelumnya
Kondisi dunia sedang bergejolak, apakah hal ini memberikan pengaruh positif pada upaya kemandirian pangan dalam negeri? Bagaimana cara meningkatkan produksi domestik dalam situasi seperti sekarang?
Untuk meningkatkan produksi domestik pada semester kedua tahun 2025, pemerintah sudah menyiapkan beberapa langkah. Pertama, kami memperkuat tata kelola pupuk bersubsidi sesuai dengan Perpres Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pupuk Bersubsidi. Ini penting agar pupuk tepat sasaran dan efisien penggunaannya. Dulu kalau mau pupuk turun harus pakai 500 tanda tangan. Dari gubernur, bupati menteri perdagangan dan banyak lagi. Sekarang kita pangkas. Dari pabrik langsung ke gabungan kelompok tani atau Gapoktan.
Kedua, kami mempercepat pembangunan serta peningkatan sarana dan prasarana produksi, khususnya jaringan irigasi. Melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025, program rehabilitasi, operasi, dan pemeliharaan irigasi menjadi fokus utama agar air dapat mengalir lancar dan mendukung produktivitas lahan.
Ketiga, penguatan sumber daya manusia pertanian juga tak kalah penting. Dengan adopsi teknologi modern lewat Inpres Nomor 3 Tahun 2025, petani didorong untuk meningkatkan kapasitas dan memanfaatkan inovasi agar hasil panen makin optimal.
Keempat, kami menjamin ketersediaan input produksi seperti benih unggul untuk padi, jagung, kedelai, dan sorgum. Selain itu, distribusi pupuk bersubsidi kini berbasis e-RDKK (Rencana Dasar Kebutuhan Kelompok Tani) agar lebih transparan dan tepat sasaran, serta bantuan alat mesin pertanian (alsintan) disalurkan bagi petani kecil agar produktivitasnya naik.
Baca juga : Usul Bangun Kampung Haji, Prabowo Lobi Pangeran Saudi
Apakah ada strategi lain meningkatkan produksi pangan?
Selain itu, pemerintah mengedepankan model kemitraan closed loop sebagai pilar transformasi ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini adalah sistem rantai pasok tertutup dan terstruktur yang menghubungkan petani, koperasi, offtaker, lembaga pembiayaan, hingga konsumen akhir dalam satu ekosistem yang saling menopang. Dengan sistem ini, setiap komoditas yang diproduksi diarahkan agar memiliki jalur distribusi dan penyerapan yang jelas. Ini tentu meningkatkan kepastian pasar bagi petani sekaligus mencegah penumpukan hasil panen di lapangan.
Melalui kemitraan closed loop, pemerintah secara sistematis menekan potensi kehilangan dan pemborosan pangan yang selama ini menjadi persoalan kronis dalam sistem pangan terbuka. Dengan adanya kepastian pasar dan penyerapan langsung dari koperasi, BUMN pangan, maupun program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), hasil produksi petani dapat terserap secara optimal sesuai dengan proyeksi kebutuhan. Hal ini membuat distribusi menjadi lebih terencana dan risiko kelebihan stok atau produk rusak akibat keterlambatan logistik dapat diminimalkan. Bahkan, sisa hasil panen yang tidak terserap untuk konsumsi langsung diarahkan untuk pengolahan pakan, pupuk organik, atau energi alternatif dalam kerangka ekonomi sirkular. Jadi, pendekatan kemitraan closed loop ini tidak hanya meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sistem pangan nasional, tapi juga menghadirkan efisiensi nyata dalam tata kelola pangan.
Selain konflik global, ada juga tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan. Bagaimana strategi peningkatan produksi yang melibatkan petani kecil?
Secara prinsip, kebijakan yang kami jalankan di Kemenko Pangan meliputi beberapa hal penting. Pertama, kami memangkas birokrasi terkait regulasi pupuk sebanyak 145 aturan. Dengan pemangkasan ini, penggunaan pupuk jadi lebih tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga efisiensi produksi meningkat. Kedua, kami memperkuat pengendalian alih fungsi lahan sawah. Ini sangat penting supaya lahan-lahan produktif tetap terlindungi dan bisa terus mendukung ketahanan pangan. Ketiga, perbaikan jaringan irigasi terus dilakukan, termasuk percepatan pembangunan irigasi tersier dan mikro. Melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah fokus menyediakan fasilitas seperti embung desa, pompa air, dan pipa gravitasi untuk menjangkau lebih dari 5.000 titik prioritas. Khususnya di lahan tadah hujan dan sawah yang rawan gagal panen. Keempat, kami menegakkan hukum terhadap pelanggaran lingkungan, guna mengurangi risiko bencana seperti longsor, banjir, dan kerusakan lainnya yang berpotensi mengganggu produksi pangan.
Baca juga : Bertemu 1 Jam, Luhut Dan Jokowi Kangen-kangenan
Lalu, bagaimana pemerintah melindungi lahan sawah agar tidak terus berkurang?
Untuk perlindungan lahan sawah, penetapan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) akan dilanjutkan secara bertahap di 12 hingga 17 provinsi, dengan Kemenko Pangan berperan sebagai Ketua Tim Terpadu. Di samping itu, kami juga menyiapkan insentif komprehensif bagi pemerintah daerah dan masyarakat pemilik lahan, supaya perlindungan dan pemanfaatannya berjalan berkelanjutan. Selain itu, dukungan kami juga mencakup perluasan distribusi benih unggul dan pupuk bersubsidi yang tepat sasaran, melalui digitalisasi sistem e-RDKK (Rencana Dasar Kebutuhan Kelompoktani) agar lebih transparan dan akurat.
Pemerintah juga memperkuat status hukum sekitar 8 juta hektar lahan sawah melalui Perpres Tata Ruang Nasional dan Peraturan Pemerintah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Di saat yang sama, kami mengembangkan food estate di wilayah-wilayah terluar seperti Kalimantan Tengah, NTT, dan Maluku, sebagai upaya diversifikasi dan peningkatan produksi pangan nasional. Semua langkah ini kami desain agar petani kecil mendapatkan dukungan maksimal, mulai dari sarana produksi sampai perlindungan lahan, sehingga mereka bisa lebih produktif dan mandiri, meski menghadapi tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan.
Bagaimana peran spesifik Koperasi Merah Putih dalam program ketahanan pangan nasional?
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kami tempatkan sebagai pilar sentral dalam ekosistem ketahanan pangan nasional yang berbasis komunitas. Fungsi koperasi ini bukan sekadar sebagai koperasi biasa, tapi sebagai saluran distribusi sekaligus pengumpul ekonomi di tingkat desa. Koperasi Merah Putih dirancang untuk menjembatani secara langsung antara petani atau produsen pangan lokal dengan konsumen akhir. Selain itu, koperasi ini juga menjalankan peran penting dalam stabilisasi harga serta memastikan ketersediaan pasokan dan stok pangan.
Baca juga : Setnov Tetap Harus Bayar Uang Pengganti 7 Juta Dolar
Bagaimana mengintegrasikannya dalam rantai pasok dari petani kepada konsumen?
Integrasi dalam rantai pasok dilakukan dengan pendekatan menyeluruh. Mulai dari pengadaan input produksi seperti pupuk dan benih, penyerapan hasil panen dengan harga acuan, penyimpanan melalui gudang atau cold storage, hingga pendistribusian pangan pokok ke masyarakat desa dan kawasan sekitarnya. Untuk memastikan operasional koperasi berjalan optimal, kami juga mengembangkan sistem digital bersama PT Pos Indonesia dan PT Telkom. Sistem ini membantu menjaga keandalan operasional, sekaligus mendukung data pasokan, stok, dan intervensi pasar agar lebih tepat sasaran. Dengan fondasi seperti ini, Koperasi Merah Putih menjadi tulang punggung penguatan ketahanan pangan yang merata, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya