Dark/Light Mode

Airlangga Terbang Ke AS, Masih Ada Ruang Nego Tarif Trump

Rabu, 9 Juli 2025 08:05 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Rio de Janeiro, Brazil, Minggu (6/7/2025). (Foto: BPMI Setpres)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Rio de Janeiro, Brazil, Minggu (6/7/2025). (Foto: BPMI Setpres)

 Sebelumnya 
“Dengan mundurnya pemberlakuan tarif hingga 1 Agustus, kita punya waktu untuk mencari kesepakatan baru,” ujar Agus.

Ia optimistis, industri nasional mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian global. Agus juga menilai bahwa produk Indonesia seperti tekstil dan alas kaki masih cukup kompetitif dibandingkan negara pesaing, termasuk Bangladesh yang dikenakan tarif lebih tinggi, yakni 35 persen.

“Saat ini bukan waktunya panik, tapi saatnya bekerja lebih smart dan teknokratis. Kita akan perkuat kapasitas industri dari hulu ke hilir, benahi sistem data dan pelacakan, serta pastikan semua aktor rantai pasok memahami arah kebijakan global yang terus berkembang,” jelasnya.

Baca juga : Presiden Tugaskan Wapres Urus Papua

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya menambahkan bahwa negosiasi tarif masih berlangsung. Ia memastikan Indonesia tidak tinggal diam dan terus memperluas akses pasar ekspor, salah satunya lewat perjanjian perdagangan.

“Kita sudah punya beberapa perjanjian seperti Indonesia-CEPA, termasuk dengan Kanada dan Tunisia. Ini bagian dari strategi memperluas pasar luar negeri,” ungkap Dyah.

Dukungan juga datang dari legislatif. Wakil Ketua DPR Adies Kadir mengapresiasi langkah cepat Pemerintah. Ia menyebut kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 32 persen merupakan tantangan besar, namun bukan alasan untuk panik.

Baca juga : “Dunia Makin Butuh Kehadiran Indonesia”

“Pondasi ekonomi Indonesia kuat. Kita sudah melewati pandemi. Sekarang waktunya menyusun strategi keuangan yang lebih matang,” ujarnya.

Dari kalangan pengusaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai diplomasi ekonomi menjadi sangat penting. Tarif tinggi dari AS berpotensi mengancam industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan mainan.

Apindo telah menyusun tiga usulan konkret: pertama, meningkatkan impor komoditas strategis dari AS. Apindo mengusulkan peningkatan impor komoditas seperti kapas, jagung, produk dairy, kedelai, dan minyak mentah dari AS.

Baca juga : Mujiyono: Lakukan Dialog Dulu Dengan Pelaku Usaha

Kedua, diversifikasi dan efisiensi rantai pasok. Apindo mendorong Pemerintah memperluas ekspor ke pasar non-tradisional dan meningkatkan efisiensi di seluruh rantai pasok industri.

Ketiga, reformasi regulasi dan penguatan trade remedies. Menurutnya, diperlukan penyederhanaan regulasi dalam negeri guna mendukung kemudahan berusaha serta memperkuat perlindungan industri nasional dari praktik perdagangan yang merugikan.

“Kita harus siap dan cepat beradaptasi. Reformasi regulasi adalah kunci untuk bertahan dalam dinamika global,” tegas Shinta. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.